TIMETODAY.ID, JAKARTA — Bagi sebagian orang tua, baby walker dianggap sebagai alat bantu yang dapat mempercepat proses bayi belajar berjalan. Selain membuat si kecil terlihat lebih aktif bergerak, alat ini juga kerap digunakan agar orang tua memiliki waktu lebih leluasa untuk melakukan aktivitas lain di rumah.
Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar. Sejumlah ahli kesehatan anak menyebut baby walker tidak terbukti mampu membuat bayi lebih cepat berjalan. Bahkan, penggunaan alat ini justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan dan menghambat proses perkembangan motorik alami bayi.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), baby walker merupakan alat beroda yang memungkinkan bayi berpindah tempat dalam posisi duduk. Bayi dapat bergerak dengan mendorong lantai menggunakan kakinya, sementara tubuhnya ditopang oleh rangka alat tersebut.
Di Indonesia, penggunaan baby walker atau yang sering disebut “apolo” juga tidak dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Salah satu kekhawatirannya adalah alat tersebut dapat membuat bayi terbiasa berjalan dengan pola yang kurang tepat, seperti berjalan menggunakan ujung kaki atau berjinjit.
Risiko Cedera Mengintai Bayi
Salah satu alasan utama para ahli tidak merekomendasikan baby walker adalah tingginya risiko kecelakaan. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics mencatat ribuan anak mengalami cedera akibat penggunaan baby walker, terutama karena terjatuh dari tangga.
Sebagian besar kasus tersebut melibatkan cedera pada bagian kepala karena bayi dapat bergerak lebih cepat dari kemampuan tubuhnya sendiri.
Dengan roda yang memungkinkan bayi melaju hingga lebih dari 90 sentimeter per detik, alat ini memberikan kemampuan bergerak yang belum sejalan dengan kemampuan bayi dalam menjaga keseimbangan maupun mengenali bahaya.
Beberapa risiko yang dapat terjadi antara lain:
- terjatuh dari tangga,
- terkena benda panas hingga mengalami luka bakar,
- mengambil benda berbahaya yang dapat menyebabkan keracunan,
- hingga risiko tenggelam ketika mendekati area berisi air.
Kondisi tersebut membuat baby walker seolah memberikan “kebebasan bergerak”, padahal bayi belum memiliki kontrol tubuh dan kemampuan memahami risiko di lingkungan sekitar.
Tidak Terbukti Mempercepat Bayi Berjalan
Banyak orang tua menggunakan baby walker dengan harapan anak dapat segera berjalan. Namun, penelitian belum menemukan bukti bahwa alat tersebut mampu mempercepat kemampuan berjalan bayi.
Sebaliknya, penggunaan yang terlalu sering justru dapat mengurangi kesempatan bayi melakukan latihan penting untuk perkembangan motoriknya.
Pada dasarnya, bayi belajar berjalan melalui tahapan alami, mulai dari:
- tengkurap dan berguling,
- merangkak,
- menarik tubuh untuk berdiri,
- melatih keseimbangan,
- hingga mengembangkan koordinasi antara otot dan sistem saraf.
Tahapan tersebut menjadi dasar penting sebelum bayi mampu berjalan secara mandiri. Ketika terlalu lama berada di baby walker, kesempatan bayi untuk mengeksplorasi gerakan alami bisa berkurang.
Pilihan Aktivitas yang Lebih Aman
Alih-alih menggunakan baby walker, orang tua dapat memberikan stimulasi yang lebih mendukung perkembangan anak. Beberapa aktivitas yang direkomendasikan antara lain:
- tummy time, yaitu melatih bayi tengkurap untuk memperkuat otot tubuh,
- bermain di lantai dengan pengawasan orang tua,
- menggunakan stationary activity center yang tidak memiliki roda,
- menggunakan push walker atau alat dorong ketika bayi sudah mampu berdiri dan mulai belajar melangkah.
Pada akhirnya, kemampuan berjalan setiap bayi memiliki waktu perkembangan yang berbeda. Memberikan ruang bagi bayi untuk bergerak secara alami dengan pendampingan orang tua menjadi cara yang lebih aman dibanding mengandalkan baby walker sebagai jalan pintas.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































