TIMETODAY.ID, JAKARTA — Tidak semua anak kembar memiliki wajah yang nyaris sama. Dalam dunia medis, terdapat jenis kembar yang disebut kembar fraternal atau kembar dizigot, yakni dua bayi yang berkembang dari dua sel telur berbeda yang masing-masing dibuahi oleh sel sperma berbeda.
Karena berasal dari proses pembuahan yang terpisah, kembar fraternal memiliki susunan genetik yang berbeda, sama seperti saudara kandung yang lahir pada waktu berbeda. Tingkat kemiripan DNA mereka sekitar 50 persen, sehingga penampilan fisik maupun sifatnya bisa sangat berbeda.
Memahami jenis kehamilan ini penting bagi calon orang tua agar tidak salah kaprah menganggap semua anak kembar pasti identik.
Bagaimana Kembar Fraternal Terbentuk?
Kembar fraternal terjadi ketika indung telur melepaskan dua sel telur dalam satu siklus ovulasi. Kedua sel telur tersebut kemudian dibuahi oleh dua sperma yang berbeda dan berkembang menjadi dua janin secara terpisah.
Umumnya, masing-masing janin memiliki kantung ketuban dan plasenta sendiri, sehingga proses perkembangan berlangsung secara mandiri di dalam rahim.
Kondisi ini berbeda dengan kembar identik yang berasal dari satu sel telur yang telah dibuahi, kemudian membelah menjadi dua embrio.
Karena berasal dari dua pembuahan berbeda, bayi kembar fraternal dapat berjenis kelamin sama maupun berbeda. Ciri fisiknya juga tidak selalu serupa, mulai dari bentuk wajah, warna mata, tinggi badan, hingga jenis rambut.
Faktor yang Meningkatkan Peluang Hamil Kembar Fraternal
Berbeda dari kembar identik yang terjadi secara spontan, peluang memiliki kembar fraternal dapat dipengaruhi beberapa faktor, antara lain:
1. Usia ibu di atas 35 tahun
Memasuki usia tersebut, peluang terjadinya ovulasi ganda meningkat sehingga kemungkinan dua sel telur dibuahi dalam satu siklus menjadi lebih besar.
2. Riwayat keluarga
Perempuan yang memiliki anggota keluarga, terutama dari garis ibu, dengan riwayat melahirkan kembar fraternal cenderung memiliki peluang lebih tinggi mengalami kehamilan serupa.
3. Pernah hamil kembar fraternal
Riwayat kehamilan kembar sebelumnya juga dapat meningkatkan kemungkinan mengalami kehamilan kembar kembali, meski tetap dipengaruhi kondisi kesehatan dan usia ibu.
4. Program kehamilan berbantu
Penggunaan obat penyubur maupun teknologi reproduksi berbantu, seperti bayi tabung (IVF), dapat meningkatkan peluang pelepasan atau pembuahan lebih dari satu sel telur sehingga risiko kehamilan kembar fraternal menjadi lebih tinggi.
5. Faktor etnis
Sejumlah penelitian menunjukkan beberapa kelompok etnis, seperti perempuan keturunan Afrika Barat, memiliki angka kejadian kembar fraternal yang lebih tinggi. Namun, penyebab pastinya masih terus diteliti dan diduga berkaitan dengan kombinasi faktor genetik serta lingkungan.
Ciri-Ciri Kembar Fraternal
Kehamilan kembar fraternal umumnya dapat diketahui sejak trimester pertama melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG).
Dokter akan menilai jumlah janin, plasenta, serta kantung ketuban untuk memastikan jenis kehamilan kembar tersebut.
Beberapa tanda yang biasanya terlihat melalui USG meliputi:
- Terdapat dua janin dengan kantung ketuban masing-masing.
- Kedua janin umumnya memiliki plasenta sendiri.
- Jenis kelamin kedua bayi bisa sama ataupun berbeda.
Setelah lahir, bayi kembar fraternal bisa tampak sangat mirip, tetapi tidak sedikit yang justru memiliki penampilan layaknya kakak dan adik biasa.
Kehamilan Perlu Pemantauan Lebih Intensif
Kehamilan kembar fraternal termasuk kehamilan berisiko lebih tinggi dibandingkan kehamilan tunggal. Oleh karena itu, ibu hamil memerlukan pemeriksaan rutin untuk memantau perkembangan kedua janin.
Beberapa komplikasi yang lebih berisiko terjadi antara lain kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, hingga preeklampsia.
Meski begitu, kehamilan kembar tidak selalu harus diakhiri dengan operasi caesar. Persalinan normal masih dapat dilakukan apabila kedua janin berada dalam posisi kepala di bawah, usia kehamilan sudah cukup, dan tidak ditemukan komplikasi yang membahayakan ibu maupun bayi.
Dokter akan menentukan metode persalinan berdasarkan hasil pemeriksaan, posisi janin, kondisi kesehatan ibu, serta perkembangan kehamilan secara keseluruhan.
Karena itu, pemeriksaan antenatal secara rutin menjadi langkah penting untuk memastikan kesehatan ibu dan kedua bayi tetap terjaga hingga waktu persalinan.***
Editor : Syafira
Sumber : alodokter.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































