
TIMETODAY.ID, MEDAN — Sistem transportasi publik di Kota Medan terus bergerak menuju layanan yang lebih modern dan ramah lingkungan. Kehadiran Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang menjadi salah satu langkah strategis dalam memperbaiki kualitas angkutan umum sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
Layanan BRT Mebidang merupakan bagian dari program Transportasi Ekonomis, Mudah, Andal, dan Nyaman (Teman Bus) yang diinisiasi Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. Operasionalnya menggunakan skema Buy The Service (BTS), di mana pemerintah membeli layanan angkutan dari operator berdasarkan jarak tempuh, bukan jumlah penumpang.
Dengan mekanisme tersebut, operator tidak lagi menerapkan sistem setoran sehingga pengemudi dapat fokus memberikan pelayanan sesuai Standar Pelayanan Minimum (SPM), tanpa harus menunggu bus penuh atau mencari penumpang di jalan.
Saat ini operasional BRT Mebidang dijalankan oleh PT Medan Bus Transport. Seluruh armada dipantau secara langsung melalui Central Control Room yang memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT), kamera, serta sensor digital untuk memastikan ketepatan waktu, kepatuhan terhadap rute, hingga keselamatan berkendara.
Armada yang digunakan merupakan bus listrik berlantai rendah (low deck) sehingga lebih mudah diakses penyandang disabilitas, lansia, maupun ibu hamil. Setiap bus juga dilengkapi pendingin udara, kamera CCTV, sistem informasi penumpang berbasis audio dan layar digital, serta alat pemadam api ringan (APAR).
Selain itu, seluruh transaksi dilakukan secara nontunai menggunakan kartu uang elektronik maupun QRIS. Penumpang diwajibkan melakukan tap saat naik dan turun bus untuk mendukung sistem pembayaran yang terintegrasi.
Saat ini BRT Mebidang mengoperasikan 60 unit bus listrik, terdiri atas 55 armada operasional dan lima armada cadangan. Layanan tersedia setiap hari mulai pukul 05.30 hingga 22.00 WIB.
Jaringan pelayanan mencakup lima koridor dengan total panjang lintasan mencapai 168,23 kilometer. Koridor tersebut meliputi Terminal Amplas-Terminal Pinang Baris, J City-Plaza Medan Fair, Belawan-Lapangan Merdeka, Tuntungan-Lapangan Merdeka, serta Tembung-Lapangan Merdeka.
Untuk mendukung operasional lima koridor tersebut, Pemerintah Kota Medan mengalokasikan subsidi sebesar Rp91,5 miliar pada APBD 2026 atau sekitar 1,41 persen dari total anggaran daerah senilai Rp6,5 triliun.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai dukungan anggaran daerah perlu terus diperkuat agar keberlanjutan layanan tetap terjaga.
“Medan telah menunjukkan kemajuan besar melalui pengoperasian BRT berbasis bus listrik. Tantangan berikutnya adalah memastikan dukungan fiskal daerah semakin kuat sehingga pelayanan transportasi publik dapat terus berkembang dan berkelanjutan,” ujar Djoko Setijowarno, Rabu (22/7/2026).
Pengembangan Menuju MASTRANS
Pemerintah saat ini juga tengah menyiapkan pengembangan sistem transportasi massal Medan (MASTRANS). Sejumlah infrastruktur mulai dibangun, mulai dari jalur khusus (dedicated lane), halte, stasiun BRT, depo, terminal, hingga sistem pendukung seperti Area Traffic Control System (ATCS), Intelligent Transport System (ITS), fasilitas transportasi nonmotor, serta halte di luar koridor.
Depo utama disiapkan di Terminal Amplas dan Terminal Pinang Baris sebagai pusat pemeliharaan armada.
Koridor khusus sepanjang sekitar 21 kilometer yang menghubungkan Terminal Amplas dan Terminal Pinang Baris nantinya akan dilengkapi 31 halte di dalam koridor.
Dalam rencana jangka panjang, jaringan BRT akan diperluas dari lima menjadi 12 koridor dengan cakupan layanan mencapai sekitar 553 kilometer. Operasionalnya akan didukung 273 unit bus serta 17 rute feeder yang menghubungkan kawasan permukiman menuju koridor utama.
Seluruh pembangunan ditargetkan selesai pada pertengahan 2027, sedangkan pengoperasian penuh 12 koridor direncanakan berlangsung secara bertahap mulai 2028 hingga menjangkau wilayah aglomerasi Medan, Binjai, dan Lubuk Pakam.
Masih Dihadapkan Sejumlah Tantangan
Di balik perkembangannya, BRT Mebidang masih menghadapi sejumlah tantangan operasional. Salah satunya adalah belum tersedianya jalur khusus sehingga bus masih harus berbagi ruang dengan kendaraan lain. Kondisi tersebut kerap memengaruhi ketepatan waktu perjalanan, terutama di ruas-ruas yang padat.
Permasalahan lain adalah area halte yang masih sering digunakan sebagai lokasi parkir liar maupun tempat berjualan sehingga menyulitkan bus berhenti dengan aman.
Di sisi lain, integrasi dengan angkutan kota konvensional juga masih menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah diharapkan dapat menata ulang trayek angkot agar berfungsi sebagai layanan pengumpan (feeder) menuju koridor utama BRT.
Djoko menilai keberhasilan transformasi transportasi massal di Medan tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keberlangsungan operasional.
“Transformasi BRT Mebidang menuju sistem transportasi massal penuh membutuhkan komitmen jangka panjang. Dukungan APBD, penataan koridor, dan integrasi angkutan pengumpan menjadi kunci agar sistem ini benar-benar mampu mengubah wajah transportasi Kota Medan,” kata Djoko Setijowarno, Rabu (22/7/2026).***
Editor : Syafira
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































