Cegah Bullying, Ini Cara Tanamkan Toleransi pada Anak

anak
ilustrasi anak sekolah. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Memasuki tahun ajaran baru, anak-anak kembali bertemu dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Selain bertemu teman lama, mereka juga akan berkenalan dengan siswa baru dari berbagai latar belakang, baik dari sisi agama, suku, budaya, maupun kondisi ekonomi keluarga.

Di lingkungan sekolah, perbedaan tersebut bisa membuat munculnya kelompok mayoritas dan minoritas. Jika tidak dibangun dengan pemahaman yang tepat, perbedaan ini berpotensi memicu jarak dalam pergaulan hingga tindakan perundungan (bullying).

Karena itu, peran orangtua menjadi penting dalam membentuk cara pandang anak agar mampu menghargai keberagaman. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

Advertisement

1. Bangun pola pikir positif tentang perbedaan

Sebelum mengajarkan anak tentang toleransi, orangtua perlu memastikan bahwa dirinya memiliki pandangan yang terbuka terhadap keberagaman.

Pada dasarnya, anak-anak sering kali belum melihat perbedaan sebagai masalah. Bagi mereka, teman yang menyenangkan untuk bermain dan belajar bersama adalah hal yang utama.

Namun, sikap negatif dapat muncul apabila anak menerima contoh atau pandangan yang keliru dari lingkungan sekitar. Misalnya, menganggap seseorang memiliki sifat tertentu hanya karena berasal dari kelompok etnis atau latar belakang tertentu.

Karena itu, orangtua perlu menghindari stereotip dan menanamkan pemahaman bahwa setiap orang memiliki nilai yang sama meskipun memiliki perbedaan.

Baca Juga :  Prabowo Dorong Siswa Kedinasan Terjun Langsung Bantu Pemulihan Daerah Bencana

2. Ajarkan toleransi melalui percakapan sehari-hari

Sekolah memang mengajarkan nilai keberagaman, tetapi rumah tetap menjadi tempat pendidikan pertama bagi anak. Perkataan dan perilaku orangtua akan menjadi contoh yang kuat bagi mereka.

Anak perlu diberikan pemahaman tentang arti toleransi dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan sederhana melalui situasi yang dekat dengan keseharian dapat membantu anak memahami perbedaan.

Contohnya, ketika memiliki teman dengan keyakinan berbeda atau membawa makanan yang berbeda sesuai kebiasaan keluarganya, anak perlu memahami bahwa setiap orang memiliki pilihan dan tradisi masing-masing yang harus dihormati.

3. Tunjukkan sikap merangkul kepada kelompok minoritas

Mengajarkan toleransi tidak cukup hanya melalui nasihat. Anak juga perlu melihat contoh nyata dari orangtuanya.

Orangtua dapat menunjukkan sikap terbuka dengan melibatkan semua wali murid dalam kegiatan sekolah tanpa membedakan latar belakang. Jangan sampai ada orangtua atau siswa tertentu yang merasa dikucilkan karena menjadi kelompok minoritas.

Di lingkungan anak, sikap merangkul juga dapat dilakukan dengan hal sederhana, seperti mengajak teman baru bergabung dalam kelompok belajar, bermain bersama, atau membantu teman yang membutuhkan.

4. Ingatkan anak bahwa posisi mayoritas dan minoritas bisa berubah

Anak yang saat ini berada di kelompok mayoritas belum tentu selalu berada dalam posisi tersebut. Dalam lingkungan berbeda, ia bisa saja menjadi bagian dari kelompok minoritas.

Baca Juga :  Acara Kenaikan Kelas Sekolah Terancam Batal

Misalnya, ketika mengikuti kegiatan di luar sekolah, berpindah daerah, atau melanjutkan pendidikan di tempat dengan budaya yang berbeda. Anak perlu memahami bagaimana rasanya berada dalam posisi yang berbeda agar tumbuh empati.

Mengajak anak membayangkan jika dirinya diperlakukan tidak adil karena perbedaan dapat membantu membangun rasa menghargai terhadap orang lain.

5. Berikan konsekuensi jika anak melakukan perundungan

Meski sudah diberikan pemahaman tentang toleransi, pengaruh lingkungan pertemanan tetap dapat memengaruhi perilaku anak. Karena itu, orangtua perlu bersikap tegas apabila anak terbukti melakukan perundungan.

Tindakan bullying tidak boleh dibiarkan dengan alasan usia atau pengaruh teman. Anak perlu memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Sanksi yang diberikan tidak harus bersifat keras, tetapi harus mampu membuat anak belajar bertanggung jawab atas perbuatannya. Misalnya, mengurangi waktu bermain atau memberikan batasan tertentu sebagai bentuk pembelajaran.

Pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat anak menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk belajar bersosialisasi. Dengan dukungan orangtua dan contoh yang baik di rumah, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mampu menghargai perbedaan dan menciptakan lingkungan pertemanan yang lebih inklusif.***

Editor : Syafira

Sumber : idntimes.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel