TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di balik beragam hidangan Jepang yang populer seperti sushi, ramen, atau mochi, terselip satu kudapan manis tradisional yang penuh makna budaya — Ohagi.
Camilan berbahan dasar beras ketan dan pasta kacang merah ini menjadi simbol kehangatan keluarga dan rasa syukur terhadap alam, terutama saat musim semi dan gugur.
Asal-usul Ohagi
Nama “Ohagi” berasal dari kata hagi (semak semanggi), yang berbunga pada musim gugur. Di musim semi, kudapan ini dikenal dengan nama lain yaitu Botamochi, yang diambil dari bunga botan (peony). Meski berbeda nama, keduanya sebenarnya adalah hidangan yang sama terbuat dari beras ketan yang dibungkus pasta kacang merah manis (anko).
Tradisi menyajikan Ohagi muncul dari kebiasaan masyarakat Jepang pada masa lalu untuk mempersembahkan makanan kepada leluhur selama perayaan Higan, sebuah ritual Buddhis yang diadakan dua kali setahun. Ohagi dianggap sebagai makanan suci yang melambangkan doa dan rasa terima kasih.
Karakteristik Ohagi
Ohagi memiliki cita rasa lembut dengan manis yang tidak berlebihan. Teksturnya kenyal dari beras ketan yang berpadu halus dengan kacang merah yang lembut. Ada beberapa variasi Ohagi, tergantung cara membungkus dan jenis bahan luarnya:
- Anko Ohagi – dibungkus pasta kacang merah halus.
- Kinako Ohagi – dibalut tepung kedelai panggang.
- Goma Ohagi – dilapisi bubuk wijen hitam manis.
- Kokuto Ohagi – menggunakan gula merah Jepang (kokuto) yang memberi rasa karamel alami.
Masing-masing variasi menghadirkan kelezatan yang khas dan warna alami yang menawan.
Resep Ohagi Tradisional Jepang
Bahan Utama:
- 250 gram beras ketan
- 50 gram beras biasa (opsional, agar tekstur tidak terlalu lengket)
- 300 ml air
- Sejumput garam
Bahan Isian dan Pelapis:
- 250 gram pasta kacang merah (anko halus atau kasar)
- 2 sdm gula pasir (sesuai selera manis)
- 2 sdm tepung kedelai panggang (kinako, opsional)
- 2 sdm wijen hitam sangrai (untuk variasi rasa)
Cara Membuat:
- Cuci dan masak beras.
Cuci campuran beras ketan dan beras biasa hingga bersih. Masak dengan air hingga matang dan agak lembek, mirip nasi pulen. Biarkan hangat. - Haluskan sedikit.
Saat masih hangat, tumbuk beras menggunakan ulekan kayu atau sendok kayu besar hingga agak menyatu, tapi jangan sampai terlalu halus agar masih terasa butiran ketannya. - Bentuk bulat.
Ambil sekitar 2 sendok makan nasi ketan, bentuk bulat lonjong (seukuran bola pingpong kecil). - Balut dengan anko.
Ambil selembar kecil pasta kacang merah, pipihkan, lalu bungkus bola nasi ketan hingga tertutup rata. Jika menggunakan kinako atau wijen, gulingkan Ohagi ke dalam bahan pelapis tersebut.
Letakkan Ohagi di piring saji, bisa disajikan hangat atau pada suhu ruang. Biasanya dinikmati dengan teh hijau pahit untuk menyeimbangkan rasa manisnya.
Tips Menikmati Ohagi
- Gunakan pasta kacang merah buatan sendiri agar rasanya lebih alami.
- Simpan di suhu ruang maksimal 1 hari, karena Ohagi tidak tahan lama.
- Cocok disajikan saat sore hari atau dalam acara kumpul keluarga.
Lebih dari Sekadar Makanan
Ohagi bukan hanya camilan manis, tetapi juga simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap alam dalam budaya Jepang. Dari bahan-bahan sederhana seperti beras ketan dan kacang merah, tersimpan filosofi tentang keseimbangan, ketenangan, dan rasa syukur — nilai yang terus hidup dalam setiap gigitan lembutnya.***







































