TIMETODAY.ID, JAKARTA — Kuku rapuh sering kali dianggap sekadar persoalan estetika. Padahal, kondisi ini bisa menjadi sinyal adanya kebiasaan sehari-hari yang kurang tepat, bahkan menandakan gangguan kesehatan tertentu.
Karena itu, mengenali penyebab kuku rapuh menjadi langkah awal yang penting agar perawatan yang dilakukan benar-benar tepat sasaran dan kuku dapat kembali kuat serta sehat.
Masalah kuku rapuh dapat dialami oleh siapa saja, baik pria maupun wanita, dari berbagai kelompok usia. Umumnya, kondisi ini berkaitan dengan gaya hidup atau kurangnya asupan nutrisi tertentu.
Meski demikian, dalam sejumlah kasus, kuku rapuh juga dapat menjadi petunjuk awal adanya masalah kesehatan yang lebih serius.
Oleh sebab itu, kuku rapuh tidak boleh diabaikan begitu saja, terutama jika disertai gejala lain seperti perubahan warna kuku, pertumbuhan yang melambat, atau muncul rasa nyeri.
Bila kondisi tersebut berlangsung lama, pemeriksaan medis sangat disarankan untuk memastikan penyebab pastinya.
Kuku Rapuh dan Penyebabnya
Ada berbagai faktor yang dapat memicu kuku menjadi rapuh dan mudah patah. Salah satu penyebab paling umum adalah kontak berlebihan dengan air dan bahan kimia.
Paparan air, deterjen, sabun, atau cairan pembersih rumah tangga secara terus-menerus dapat menghilangkan kelembapan alami kuku. Kandungan kimia keras di dalamnya juga mampu mengikis lapisan pelindung kuku, sehingga kuku menjadi kering dan mudah retak.
Selain itu, kekurangan nutrisi turut berperan besar. Kuku membutuhkan protein, zat besi, serta vitamin A, C, dan E untuk membentuk keratin—protein utama penyusun kuku.
Jika asupan nutrisi ini tidak terpenuhi, kuku cenderung menjadi tipis, rapuh, dan pertumbuhannya melambat.
Kebiasaan menggigit kuku atau mengelupas kutikula juga kerap menjadi penyebab tanpa disadari. Tindakan tersebut dapat merusak struktur kuku dan jaringan pelindung di sekitarnya. Akibatnya, kuku menjadi lebih tipis, mudah patah, dan rentan terhadap infeksi.
Faktor usia pun tidak bisa diabaikan. Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk menjaga kelembapan dan memperbarui sel kuku menurun. Hal ini membuat kuku tumbuh lebih lambat, menjadi lebih rapuh, dan mudah retak, terutama pada kelompok lanjut usia.
Di sisi lain, infeksi jamur pada kuku atau onikomikosis juga dapat menyebabkan kuku rapuh. Jamur merusak struktur kuku dari dalam, biasanya dimulai dari bawah ujung kuku atau area sekitar kutikula. Kondisi ini dapat membuat kuku tampak tebal, mudah pecah, dan terkelupas.
Tak hanya itu, beberapa kondisi medis tertentu seperti anemia, gangguan kelenjar tiroid, atau penyakit kulit seperti eksim juga dapat memengaruhi kekuatan kuku. Pada kasus ini, kuku rapuh sering disertai tanda lain, seperti warna kuku yang tidak normal, permukaan yang tidak rata, atau pertumbuhan yang sangat lambat.
Kuku Rapuh dan Tips Mengatasinya
Untuk mengatasi kuku rapuh, ada sejumlah langkah perawatan yang dapat dilakukan secara mandiri. Menggunakan pelembap khusus kuku atau minyak alami seperti minyak zaitun dan minyak kelapa secara rutin dapat membantu menjaga kelembapan kuku dan kutikula.
Penggunaan sarung tangan saat mencuci piring, mencuci pakaian, atau membersihkan rumah juga dianjurkan untuk melindungi kuku dari paparan bahan kimia keras.
Selain itu, penting memastikan asupan harian mengandung cukup protein, zat besi, biotin, serta vitamin yang mendukung pertumbuhan kuku yang sehat.
Dalam perawatan sehari-hari, kuku sebaiknya dipotong lurus dan dihaluskan dengan kikir secara perlahan. Gerakan mengikir yang terlalu keras atau bolak-balik sebaiknya dihindari karena dapat membuat kuku semakin rapuh.
Pemilihan produk kuku juga perlu diperhatikan, dengan menghindari bahan keras seperti formaldehid atau toluen dan memilih produk yang lebih ramah bagi kesehatan kuku.
Pada umumnya, kuku rapuh akibat kebiasaan sehari-hari tidak berbahaya dan dapat membaik dengan perawatan yang tepat.
Namun, jika kondisi ini berlangsung lama atau disertai perubahan warna, tekstur, pembengkakan, maupun nyeri, kuku rapuh bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan tertentu yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut.***
Editor : Syafira
Sumber : alodokter.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































