TIMETODAY.ID, JAKARTA — Tidak sedikit orang dewasa yang selalu merasa harus kuat, sulit meminta pertolongan, atau terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain dibanding dirinya sendiri. Pola tersebut bisa menjadi dampak dari parentification, yaitu kondisi ketika seorang anak memikul tanggung jawab layaknya orang tua sejak usia dini.
Pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang membangun hubungan, mengambil keputusan, hingga mengelola emosi saat dewasa. Meski demikian, para ahli menilai pola tersebut bukan sesuatu yang permanen. Dengan langkah yang tepat, proses pemulihan dapat dilakukan secara bertahap.
1. Sadari Pola yang Terbentuk Sejak Kecil
Langkah pertama dalam proses penyembuhan adalah mengenali kebiasaan atau mekanisme bertahan yang berkembang sejak masa kanak-kanak. Sebagian orang menjadi perfeksionis, sementara lainnya tumbuh sebagai people pleaser karena terbiasa mendahulukan kepentingan orang lain.
Dengan memahami bahwa perilaku tersebut merupakan respons terhadap pengalaman masa lalu, seseorang dapat mulai membedakan mana tanggung jawab pribadi dan mana yang bukan. Kesadaran ini menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan yang lebih sehat secara emosional.
2. Belajar Menerima Bantuan Tanpa Merasa Berutang
Orang yang pernah mengalami parentification sering merasa tidak nyaman ketika menerima perhatian atau bantuan. Mereka cenderung merasa harus segera membalas atau menganggap diri tidak pantas menerima kebaikan.
Padahal, hubungan yang sehat dibangun atas keseimbangan antara memberi dan menerima. Mulailah membiasakan diri menerima dukungan tanpa merasa wajib membalasnya secara langsung atau membuktikan nilai diri melalui pengorbanan.
3. Beri Ruang untuk Mengenali Emosi Sendiri
Sejak kecil, sebagian penyintas parentification terbiasa menjadi tempat bergantung bagi orang tua atau keluarga. Akibatnya, mereka lebih peka terhadap perasaan orang lain dibanding memahami emosinya sendiri.
Karena itu, penting untuk mulai memberi perhatian pada kebutuhan emosional pribadi. Menulis jurnal, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi cara untuk mengenali dan mengelola perasaan dengan lebih baik.
4. Jangan Terburu-buru Menanggung Masalah Orang Lain
Dorongan untuk langsung membantu sering kali muncul secara otomatis pada orang yang mengalami parentification. Namun, tidak semua persoalan harus diselesaikan sendiri.
Sebelum mengambil alih masalah orang lain, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan apakah hal tersebut benar-benar menjadi tanggung jawabmu. Jika orang tersebut masih mampu menyelesaikannya sendiri, cukup berikan dukungan tanpa harus memikul seluruh bebannya.
Melatih diri mengatakan “tidak” juga menjadi bagian penting dalam membangun batasan yang sehat.
5. Bangun Hubungan yang Lebih Seimbang
Evaluasi hubungan dengan pasangan, keluarga, maupun teman. Jika selama ini kamu selalu menjadi pihak yang mengurus segalanya sambil mengabaikan kebutuhan sendiri, bisa jadi pola parentification masih terbawa hingga sekarang.
Hubungan yang sehat seharusnya berjalan secara timbal balik. Menetapkan batasan bukan berarti tidak peduli, melainkan bentuk penghargaan terhadap kesehatan emosional diri sendiri sekaligus menjaga kualitas hubungan.
6. Berikan Kesempatan untuk Menikmati Hal-Hal yang Terlewat
Banyak orang yang mengalami parentification kehilangan kesempatan menikmati masa kecil karena harus memikul tanggung jawab orang dewasa terlalu dini. Dampaknya, mereka sering merasa bersalah saat beristirahat atau melakukan hal yang menyenangkan.
Padahal, menikmati hidup merupakan bagian penting dari proses penyembuhan. Menekuni hobi, berolahraga, bepergian, atau melakukan aktivitas yang dulu belum sempat dirasakan dapat membantu mengembalikan keseimbangan emosional.
Pemulihan Membutuhkan Proses
Luka emosional akibat parentification memang dapat bertahan hingga dewasa, tetapi bukan berarti tidak dapat disembuhkan. Mengenali pola yang terbentuk sejak kecil, belajar menerima bantuan, menjaga batasan, serta memberi ruang bagi kebutuhan diri sendiri merupakan langkah-langkah yang dapat membantu membangun kehidupan yang lebih sehat dan seimbang.
Prosesnya mungkin tidak instan, namun perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi awal menuju pemulihan yang lebih baik.***
Editor : Syafira
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































