TIMETODAY.ID, JEPARA — Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati (Jekuti) menjadi salah satu kawasan dengan kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar di Provinsi Jawa Tengah. Kinerja ekonomi wilayah ini terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, serta jasa yang terus berkembang.
Pada 2025, PDRB Kabupaten Kudus mencapai Rp132.316,91 miliar. Capaian tersebut menempatkan Kudus sebagai daerah dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di Jawa Tengah setelah Kota Semarang.
Menariknya, meski memiliki luas wilayah hanya sekitar 42.516 hektare dan menjadi kabupaten terkecil di provinsi tersebut, Kudus mampu menghasilkan nilai ekonomi yang sangat tinggi.
Kondisi ini didorong oleh dominasi sektor industri pengolahan, terutama industri hasil tembakau atau rokok, yang berkontribusi sekitar 76 persen terhadap total PDRB kabupaten.
Di sisi lain, Kabupaten Jepara berkembang sebagai pusat industri manufaktur yang berhasil menggabungkan kekuatan industri mebel ukir berorientasi ekspor dengan manufaktur modern. Industri pengolahan mebel, garmen, dan tekstil tumbuh pesat di sejumlah kawasan strategis, seperti Kecamatan Pecangaan, Kalinyamatan, dan Mayong.
Sementara itu, Kabupaten Pati memegang peranan penting sebagai penyangga ketahanan pangan regional sekaligus pusat pengembangan industri berbasis agro dan ekonomi biru di wilayah Pantura Timur.
Keunggulan Pati terletak pada keberhasilannya menghubungkan sektor primer, mulai dari pertanian, perikanan tangkap, hingga perkebunan tebu, dengan industri pengolahan hilir seperti industri makanan, ekspor hasil laut, dan pergaraman.
Kombinasi tersebut menjadikan Pati sebagai salah satu benteng pangan sekaligus koridor logistik utama di Jawa Tengah, dengan skala ekonomi yang mampu bersaing di kelompok menengah atas dan masuk dalam jajaran 15 kabupaten/kota dengan output ekonomi tertinggi.
Dari sisi mobilitas, Kabupaten Kudus berfungsi sebagai pusat pergerakan utama di kawasan Jekuti. Arus komuter dari Jepara menuju Kudus mencapai 72 persen dari total perjalanan keluar Jepara, sedangkan komuter dari Pati ke Kudus mencapai 73 persen dari total perjalanan keluar Pati.
Besarnya arus perjalanan tersebut dipicu oleh kuatnya daya tarik sektor manufaktur perkotaan, seperti industri rokok nasional dan industri kertas, yang didukung keberadaan kawasan industri padat karya, pusat perdagangan, layanan kesehatan regional, hingga perguruan tinggi.
Namun, besarnya aktivitas ekonomi tersebut belum dibarengi dengan tersedianya sistem transportasi umum yang memadai. Saat ini, layanan angkutan umum di kawasan Jekuti mengalami penurunan kualitas yang cukup serius.
Kondisi armada yang semakin menua serta jadwal operasional yang tidak menentu menyebabkan sekitar 74 hingga 89 persen perjalanan harian masyarakat beralih menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor.
Dampaknya terlihat pada meningkatnya kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas utama. Dominasi kendaraan roda dua yang bercampur dengan kendaraan logistik industri memicu kemacetan, khususnya di koridor Mayong–Kalinyamatan.
Tingginya beban lalu lintas juga tercermin dari nilai Volume to Capacity Ratio (V/C Ratio) yang telah melewati batas kritis. Ruas Batas Demak/Jepara–Margoyoso mencatat V/C Ratio sebesar 1,16, sedangkan Jalan Lingkar Juwana mencapai 1,83.
Permasalahan tersebut semakin diperberat oleh terus berkurangnya armada transportasi umum. Dalam lima tahun terakhir, jumlah bus AKDP, angkot, dan angkudes di kawasan Jekuti turun sekitar 15 persen.
Penurunan paling signifikan terjadi di Kabupaten Kudus yang kehilangan sekitar 30 persen armada angkutan umumnya. Bahkan, di Terminal Bangsri, Pecangaan, dan Juwana, angkot maupun angkudes kini tidak lagi berfungsi optimal sebagai angkutan reguler dan lebih banyak dimanfaatkan sebagai kendaraan sewaan oleh pedagang pasar.
Melihat kondisi tersebut, kawasan Jekuti memerlukan pembenahan menyeluruh melalui penyediaan sistem transportasi massal perkotaan yang modern, aman, dan terintegrasi.
Kehadiran layanan aglomerasi Trans Jateng dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menghubungkan mobilitas pekerja antarkabupaten dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi seperti Mayong, Kalinyamatan, Jekulo, dan Margorejo. Selain meningkatkan aksesibilitas, Trans Jateng juga diharapkan mampu mendorong perpindahan masyarakat dari kendaraan pribadi ke angkutan umum sehingga dapat mengurangi kepadatan lalu lintas di koridor Pantura Timur.
Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Jawa Tengah, Anastasia Yulianti, menilai pengoperasian rute Trans Jateng di koridor Jekuti sudah menjadi kebutuhan yang mendesak.
“Koridor Jekuti membutuhkan sistem transportasi massal yang modern, aman, dan terintegrasi agar mampu mendukung mobilitas pekerja lintas kabupaten sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi kawasan,” ujar Anastasia Yulianti.
Menurutnya, kehadiran Trans Jateng akan menjadi instrumen penting dalam mendorong perpindahan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum serta mengurangi beban lalu lintas di jalur Pantura Timur.
“Realisasi rute Trans Jateng di koridor Jekuti tidak dapat ditunda lagi. Layanan ini akan menjadi instrumen vital untuk memutus kemunduran transportasi darat, meningkatkan efisiensi mobilitas komuter, dan menjaga produktivitas ekonomi kawasan aglomerasi Jekuti,” kata Anastasia.***
Editor : Syafira
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































