Bukan Sekadar Kurban: Tradisi Unik Iduladha yang Hidup di Pelosok Indonesia

Iduladha
Ilustrasi sapi kurban (istock)

TIMETODAY.ID — Bagi sebagian besar umat Muslim di Indonesia yang tidak sedang berhaji ke Tanah Suci, Hari Raya Idul adha tetap menjadi perayaan yang penuh makna. Lebih dari sekadar ibadah dan penyembelihan hewan kurban, momen ini menjelma menjadi ajang silaturahmi, gotong royong, hingga pelestarian tradisi lokal yang sarat nilai kultural.

Dari barat hingga timur Indonesia, gema takbir Idul adha dibarengi dengan beragam ekspresi budaya. Di balik riuhnya arus mudik dan hiruk-pikuk pembagian daging kurban, terselip kisah-kisah unik masyarakat yang merayakan Idul adha dengan cara mereka sendiri—kadang penuh khidmat, kadang penuh keceriaan.

Meugang: Sajian Daging Pemersatu Keluarga (Aceh)

Di Aceh, tradisi Meugang menjadi ritual wajib jelang hari besar Islam, termasuk Iduladha. Masyarakat beramai-ramai memasak dan menyantap daging sapi atau kerbau bersama keluarga. Tradisi ini sudah berlangsung sejak era Kesultanan Aceh, ketika daging dibagikan kepada rakyat sebagai lambang kesejahteraan. Hari ini, Meugang tetap hidup sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Advertisement

Apitan: Arak-arakan Syukur di Tanah Semarang

Warga Semarang mengenal tradisi Apitan, semacam perayaan panen yang digelar bersamaan dengan Iduladha. Warga membawa hasil bumi dan ternak dalam arak-arakan, lalu diperebutkan sebagai bentuk keberkahan. Tak hanya syarat makna, Apitan juga menyuguhkan hiburan lokal yang mempererat ikatan sosial antarwarga.

Grebeg Gunungan: Persembahan Keraton untuk Rakyat (Yogyakarta)

Yogyakarta menyambut Iduladha dengan Grebeg Gunungan, tradisi yang melibatkan tiga gunungan dari hasil bumi yang diarak dari Keraton menuju Masjid Gede Kauman. Masyarakat meyakini bahwa membawa pulang bagian dari gunungan akan membawa berkah. Tak hanya sakral, Grebeg Gunungan juga menjadi daya tarik wisata budaya yang konsisten dilestarikan.

Baca Juga :  Timnas Futsal Indonesia Hadapi Malaysia Sore Ini, Peluang Lolos di Depan Mata

Manten Sapi: Ketika Sapi Disambut bak Pengantin (Pasuruan)

Pasuruan menghadirkan tradisi yang tak biasa: Manten Sapi. Hewan kurban, khususnya sapi, didandani dengan bunga, kain kafan, dan sajadah layaknya pengantin. Setelah itu, sapi-sapi ini diarak menuju masjid sebelum disembelih. Tradisi ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga ajang mempererat warga dalam merayakan dan menyantap hasil kurban bersama-sama.

Mepe Kasur: Penolak Bala dari Banyuwangi

Suku Osing di Banyuwangi memiliki kebiasaan unik menjelang Iduladha, yakni Mepe Kasur—menjemur kasur bercorak merah-hitam di halaman rumah. Warna hitam melambangkan keabadian, merah melambangkan keberanian. Ritual ini dipercaya sebagai cara menolak bala dan memperkuat harmoni dalam rumah tangga.

Gamelan Sekaten: Nada-nada Keislaman di Tengah Keraton (Cirebon & Surakarta)

Baik di Cirebon maupun Surakarta, gamelan Sekaten menjadi bagian dari perayaan hari besar Islam. Diiringi alunan gamelan klasik yang dipercaya berasal dari dakwah Sunan Gunung Jati, tradisi ini mengajak masyarakat menyatu dalam budaya dan keimanan. Di Solo, warga bahkan menyantap kinang (sirih-pinang) sambil menikmati irama Sekaten sebagai doa untuk panjang umur.

Accera Kalompoang: Menyucikan Pusaka Kerajaan (Gowa)

Di Gowa, Sulawesi Selatan, perayaan Iduladha tak lengkap tanpa Accera Kalompoang. Selama dua hari, benda-benda pusaka Kerajaan Gowa dibersihkan dalam ritual sakral. Ini adalah bentuk penghormatan pada sejarah dan simbol penyucian spiritual masyarakat.

Baca Juga :  Tegang di Lebanon, Panglima TNI Minta Pasukan Hentikan Aktivitas Luar

Toron & Nyalase: Pulang Kampung dan Ziarah (Madura)

Bagi warga Madura, toron atau pulang kampung menjadi agenda utama Iduladha. Setelah salat Id, mereka melanjutkan dengan nyalase—ziarah ke makam leluhur. Tradisi ini menghidupkan kembali nilai kekeluargaan dan penghormatan kepada yang telah tiada.

Ngejot: Toleransi yang Mengakar (Bali)

Di Bali, warga Muslim merayakan Iduladha dengan Ngejot, berbagi makanan kepada tetangga non-Muslim. Lebih dari sekadar berbagi, Ngejot adalah perwujudan toleransi dan keharmonisan antarumat beragama yang telah diwariskan turun-temurun.

Kaul Negeri & Abda’u: Takbir Keliling Penuh Magis (Maluku Tengah)

Di Negeri Tulehu, Maluku Tengah, warga membawa kambing berkeliling desa sambil bertakbir dalam ritual Kaul Negeri dan Abda’u. Tradisi ini dipercaya sebagai penolak bala dan permohonan berkah untuk desa mereka.

Dari arak-arakan gunungan hingga sapi berpakaian pengantin, dari gamelan di halaman keraton hingga kasur yang dijemur di bawah matahari—Iduladha di Indonesia bukan hanya tentang berkurban. Ia adalah cerita tentang masyarakat yang terus merawat akar tradisinya, dalam bingkai iman dan budaya.

Jika Iduladha adalah tentang berbagi, maka Indonesia berbagi warna-warni makna yang tak ada habisnya.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel