TIMETODAY.ID, JAKARTA – Beberapa tahun lalu, stroke kerap dikaitkan dengan usia lanjut. Namun kini, fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Stroke mulai banyak menyerang usia produktif bahkan mereka yang baru menginjak usia 30 atau 40 tahun. Dalam beberapa kasus, penyakit mematikan ini bahkan ditemukan pada anak-anak.
Fenomena ini membuat para ahli kesehatan angkat bicara. Perubahan gaya hidup modern, tekanan hidup yang meningkat, hingga paparan polusi dipercaya menjadi pemicu utama meningkatnya kasus stroke di usia muda.
“generasi muda sekarang tidak kebal terhadap stroke. Pola makan tinggi lemak, stres berkepanjangan, dan kurang gerak menjadi kombinasi berbahaya,” ujar seorang dokter saraf dari Jakarta yang ditemui dalam seminar kesehatan beberapa waktu lalu.
Gaya Hidup Modern dan Risiko Non-Tradisional
Jika dulu faktor penyebab stroke hanya berkisar pada tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol, kini daftar itu semakin panjang.
Peneliti menemukan bahwa stres kronis, gangguan tidur seperti sleep apnea, migrain berat, depresi, hingga penyalahgunaan zat juga dapat meningkatkan risiko stroke. Bahkan, paparan polusi udara jangka panjang juga mulai dikaitkan dengan meningkatnya kasus stroke di wilayah perkotaan.
Sayangnya, banyak orang muda yang masih beranggapan bahwa mereka “terlalu muda untuk kena stroke.” Pandangan keliru inilah yang sering membuat diagnosis terlambat dan memperburuk kondisi pasien ketika akhirnya tiba di rumah sakit.
Ketika Gejala Datang Tanpa Diduga
Gejala stroke pada usia muda kerap datang tanpa disadari. Tidak sedikit yang mengira gejala awalnya hanya kelelahan atau migrain. Padahal, tanda-tanda kecil bisa menjadi sinyal bahaya bagi otak.
Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain:
- Mati rasa atau kelemahan mendadak di wajah, lengan, atau kaki (terutama pada satu sisi tubuh)
- Kesulitan berbicara, bicara pelo, atau sulit memahami percakapan
- Gangguan penglihatan mendadak, seperti pandangan kabur atau ganda
- Sakit kepala hebat tanpa sebab yang jelas, kadang disertai mual atau muntah
- Gangguan keseimbangan dan koordinasi, seperti sulit berjalan atau merasa sempoyongan
Jangan pernah menunggu gejala itu “hilang sendiri”. Setiap menit yang terlewat bisa berarti kematian sel otak.
Kenali dengan Singkatan BEFAST
Untuk memudahkan masyarakat mengenali tanda stroke, para ahli menciptakan panduan sederhana bernama BEFAST:
- B – Balance: kehilangan keseimbangan secara mendadak
- E – Eyes: penglihatan buram atau hilang tiba-tiba
- F – Face: wajah tampak mencong atau tidak simetris
- A – Arm: kelemahan pada lengan atau kaki
- S – Speech: sulit berbicara atau bicara pelo
- T – Time: segera cari pertolongan medis — waktu sangat berharga
Menangani stroke dalam waktu “Golden Hour” (sekitar satu jam pertama sejak gejala muncul) dapat menjadi perbedaan antara pemulihan sempurna dan cacat permanen.
Lindungi Otak Sejak Dini
Meski tidak semua faktor risiko bisa dihindari, menjaga gaya hidup tetap sehat adalah langkah terbaik untuk mencegah stroke sejak muda.
Mulailah dengan pola makan seimbang, olahraga teratur, tidur cukup, menghindari rokok dan alkohol, serta rutin memeriksa tekanan darah dan kadar gula.
Pada akhirnya, pencegahan selalu lebih baik daripada penyesalan. Karena stroke bukan hanya penyakit orang tua tapi ancaman nyata bagi siapa pun yang lalai menjaga kesehatannya. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : tabloidbintang.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































