TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di balik tindakan perundungan yang marak terjadi di sekolah dan lingkungan sosial, tersimpan akar yang sering kali tumbuh dari tempat yang paling dekat dengan anak: rumahnya sendiri.
Pertanyaan yang kerap muncul adalah, apakah sifat pelaku perundungan bisa menurun dari orangtua? Jawabannya, tidak secara genetik, tetapi pola asuh punya pengaruh besar terhadap bagaimana anak berperilaku di luar rumah.
Seperti dikutip dari laman Yayasan Gemilang Sehat Indonesia, perilaku anak sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat dan alami sejak kecil. Jika orangtua bersikap kasar atau sering menunjukkan kemarahan di rumah, besar kemungkinan anak akan meniru pola tersebut saat bersosialisasi.
“Ketika anak tidak diajarkan cara mengontrol emosi dan memahami bahaya dari perilaku bullying, mereka cenderung tumbuh menjadi pribadi yang kurang peduli dengan keadaan orang lain,” tulis laman tersebut.
Anak-anak yang tumbuh dalam situasi seperti itu biasanya lebih fokus pada kepentingan diri sendiri. Mereka tidak terbiasa mempertimbangkan dampak tindakannya terhadap orang lain, karena empati tidak pernah benar-benar diajarkan dalam keseharian.
Yang lebih memprihatinkan, kekerasan yang dialami di rumah bisa berubah menjadi perilaku meniru di luar rumah. Anak yang sering menerima hukuman fisik bisa saja menganggap kekerasan sebagai cara “normal” untuk menunjukkan kekuasaan atau menyelesaikan masalah.
“Anak yang sering dipukul mungkin akan melihat kekerasan sebagai cara yang wajar untuk menyelesaikan masalah atau menunjukkan kekuasaan,” tulis laporan tersebut.
Ketika pola ini berlanjut di lingkungan sosial, anak bisa menjadi pelaku perundungan — bukan karena ia dilahirkan jahat, tetapi karena itulah bentuk perilaku yang ia kenal sejak kecil.
Selain faktor pola asuh, pengalaman masa lalu juga memegang peran penting. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh intimidasi — baik di rumah maupun di sekolah — kerap menjadikan kekerasan sebagai bentuk pelampiasan emosi.
“Mereka mungkin pernah menjadi korban bullying, sehingga menyalurkan rasa frustrasi dan sakit hati dengan menjadi pelaku bullying terhadap orang lain,” dijelaskan lebih lanjut dalam laman tersebut.
Karena itu, para ahli menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang positif, aman, dan penuh dukungan bagi anak-anak. Tidak hanya di rumah, tetapi juga di sekolah dan masyarakat luas.
Siklus kekerasan tidak akan berhenti jika dibiarkan menjadi kebiasaan. Membangun empati dan kedekatan emosional dengan anak sejak dini menjadi kunci utama untuk memutus rantai perundungan agar kekerasan tidak lagi menjadi bahasa pertama yang mereka pelajari.***
Editor : Syafira
Sumber : Okezone.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































