TIMETODAY.ID, MEDAN — Pengembangan layanan kereta api penumpang di wilayah kerja Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Medan terus diarahkan untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah di Sumatera Utara dan sebagian Aceh. Di tengah meningkatnya kebutuhan transportasi massal, pengembangan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari dominasi jalur tunggal (single track), tingginya jumlah pelintasan sebidang yang belum dijaga, hingga perubahan pola mobilitas masyarakat pascapandemi.
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengatakan penguatan infrastruktur menjadi faktor utama yang menentukan masa depan layanan kereta api penumpang di wilayah tersebut.
“Pengembangan kereta api di Sumatera Utara tidak cukup hanya mengandalkan tarif murah. Modernisasi infrastruktur harus menjadi prioritas agar pelayanan semakin aman, tepat waktu, dan mampu memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat,” kata Djoko Setijowarno dalam keterangannya, Selasa (14/7/2026).
Infrastruktur dan Jaringan Kereta Api
BTP Kelas I Medan mengelola jaringan rel sepanjang 881,45 kilometer. Dari total tersebut, sepanjang 456,45 kilometer atau sekitar 51,8 persen merupakan jalur aktif, sedangkan 425 kilometer lainnya masih berstatus nonaktif.
Jaringan tersebut didukung oleh 46 stasiun aktif yang melayani penumpang maupun angkutan barang serta 20 stasiun nonaktif. Pemerintah juga merencanakan pembangunan dua stasiun baru di lintas Medan-Binjai, yakni Stasiun Sunggal dan Stasiun Helvetia.
Wilayah kerja BTP Medan turut mencakup jalur Lhokseumawe-Bireuen di Provinsi Aceh sepanjang 29,4 kilometer yang menggunakan lebar rel standar internasional 1.435 milimeter.
Di sepanjang jaringan rel tersebut terdapat 640 pelintasan sebidang. Sebanyak 160 pelintasan atau sekitar 25 persen telah dijaga, sementara 480 pelintasan lainnya atau 75 persen masih belum memiliki penjagaan.
Layanan KA Penumpang
Saat ini terdapat 64 perjalanan kereta api penumpang setiap hari di wilayah kerja BTP Kelas I Medan. Sebanyak enam perjalanan merupakan layanan komersial dan 58 perjalanan lainnya merupakan layanan penugasan pemerintah melalui skema Public Service Obligation (PSO) maupun kereta perintis.
Tujuh armada yang melayani penumpang terdiri atas KA Sribilah Utama sebagai layanan komersial, kemudian KA Putri Deli, KA Siantar Ekspres, KA Datuk Blambangan, KA Srilelawangsa, KA Srilelawangsa Bandara, serta KA Cut Meutia sebagai layanan penugasan.
KA Putri Deli melayani rute Medan-Tanjung Balai sejauh 174,4 kilometer dengan waktu tempuh sekitar empat jam 20 menit. Kereta ini beroperasi enam kali setiap hari dengan tarif Rp27.000.
Sementara itu, KA Siantar Ekspres melayani lintas Medan-Pematang Siantar sepanjang 129 kilometer dengan waktu perjalanan sekitar dua jam 53 menit. Layanan tersebut beroperasi empat kali sehari dengan tarif Rp22.000.
Untuk mendukung konektivitas kawasan industri, KA Datuk Blambangan melayani rute Tebing Tinggi-Lalang sepanjang 35,6 kilometer. Kereta ini beroperasi empat kali sehari dengan tarif Rp5.000.
Di jalur perkotaan, KA Srilelawangsa melayani lintas Medan-Binjai-Kuala Bingai sepanjang 34,93 kilometer dengan waktu tempuh antara 22 hingga 47 menit. Frekuensi perjalanan mencapai 20 kali sehari dengan tarif Rp5.000 hingga Rp7.000.
Sementara akses menuju Bandara Internasional Kualanamu dilayani KA Srilelawangsa Bandara yang melayani lintas Medan-Araskabu-Kualanamu sepanjang 27,43 kilometer. Kereta tersebut beroperasi hingga 24 kali sehari dengan tarif berkisar Rp5.000 sampai Rp50.000.
Adapun di Provinsi Aceh, KA Cut Meutia melayani lintas Muarasatu-Kutablang sepanjang 29,45 kilometer. Namun operasionalnya dihentikan sementara sejak Desember 2025 akibat kerusakan prasarana yang dipicu bencana hidrometeorologi.
Peran Strategis Sejumlah Layanan
Djoko menjelaskan setiap layanan kereta memiliki fungsi strategis dalam mendukung mobilitas masyarakat.
KA Datuk Blambangan, misalnya, menjadi layanan perintis yang menghubungkan Tebing Tinggi dengan kawasan industri dan pelabuhan Kuala Tanjung melalui Stasiun Lalang di Kabupaten Batu Bara.
Sementara KA Siantar Ekspres menjadi tulang punggung konektivitas regional karena menghubungkan Kota Medan, Tebing Tinggi, dan Pematang Siantar, sekaligus melayani wilayah Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Simalungun.
“KA Siantar Ekspres bukan hanya melayani mobilitas harian masyarakat, tetapi juga menjadi moda transportasi penting bagi wisatawan yang melanjutkan perjalanan menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Danau Toba,” ujarnya.
Di sisi lain, KA Putri Deli menjadi salah satu layanan dengan tingkat okupansi tertinggi di Sumatera Utara. Kereta ini banyak dimanfaatkan pekerja, pelajar, dan pedagang yang melakukan perjalanan dari kawasan pesisir timur menuju Kota Medan.
Dampak Subsidi PSO
Program subsidi PSO dinilai memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan akses masyarakat terhadap transportasi kereta api, khususnya pada layanan KA Srilelawangsa Bandara.
Penambahan frekuensi perjalanan menjadi 24 perjalanan per hari pada 2025 diikuti penurunan tarif yang cukup drastis. Tarif Medan-Araskabu turun menjadi Rp5.000, sedangkan tarif menuju Bandara Kualanamu berada di kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 dari sebelumnya mencapai Rp80.000 sampai Rp100.000.
Menurut Djoko, kebijakan tersebut mendorong meningkatnya minat masyarakat menggunakan kereta sebagai moda transportasi menuju bandara.
“Subsidi PSO berhasil meningkatkan keterjangkauan tarif sehingga masyarakat semakin memilih kereta api sebagai moda transportasi utama menuju Bandara Kualanamu,” katanya.
Volume Penumpang
Selama Januari hingga Mei 2026, jumlah penumpang kereta api di wilayah kerja BTP Kelas I Medan mencapai 2.265.806 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.378.961 penumpang atau sekitar 60,9 persen merupakan pengguna layanan perkotaan. Sementara 886.845 penumpang lainnya atau sekitar 39,1 persen merupakan pengguna layanan antarkota.
Rata-rata jumlah penumpang harian sepanjang 2026 mencapai 15.005 orang atau turun 11,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, segmen perjalanan antarkota justru mencatat pertumbuhan sebesar 7,57 persen menjadi rata-rata 5.873 penumpang per hari.
Sebaliknya, layanan perkotaan mengalami penurunan cukup tajam hingga 21,01 persen menjadi rata-rata 9.132 penumpang per hari.
“Penurunan penumpang perkotaan menunjukkan adanya perubahan pola mobilitas masyarakat setelah pandemi, terutama karena masih diterapkannya kebijakan bekerja dari rumah di sejumlah instansi dan perusahaan,” ujar Djoko.
Tantangan dan Kendala
Menurut Djoko, tantangan terbesar pengembangan kereta api penumpang di Sumatera Utara adalah bagaimana meningkatkan frekuensi layanan di tengah keterbatasan kapasitas jalur yang masih didominasi single track.
Selain itu, keselamatan di pelintasan sebidang juga menjadi perhatian serius mengingat sekitar 75 persen pelintasan masih belum dijaga.
“Jalur tunggal masih menjadi tantangan utama. Ketika frekuensi perjalanan meningkat, gangguan kecil pada satu rangkaian kereta dapat memicu keterlambatan berantai pada perjalanan lainnya,” jelasnya.
Ia juga menilai rendahnya disiplin pengguna jalan di pelintasan sebidang, terutama di kawasan perkotaan seperti Medan, masih sering menghambat operasional kereta api.
Di sisi lain, jaringan rel yang belum menjangkau seluruh kawasan pertumbuhan baru membuat kereta api belum sepenuhnya menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat.
Ketahanan infrastruktur terhadap bencana hidrometeorologi juga menjadi pekerjaan rumah setelah operasional KA Cut Meutia terhenti akibat kerusakan jalur.
Selain itu, kereta api masih menghadapi persaingan dengan bus antarkota, kendaraan pribadi, maupun layanan transportasi berbasis aplikasi yang menawarkan fleksibilitas lebih tinggi.
Prioritas Pengembangan
Djoko menegaskan transformasi infrastruktur harus menjadi agenda utama apabila pemerintah ingin meningkatkan daya saing kereta api penumpang di Sumatera Utara.
Menurutnya, peningkatan kapasitas jalur, pembangunan jalur ganda, sterilisasi pelintasan sebidang, peningkatan ketahanan prasarana terhadap bencana, serta perluasan jaringan menuju kawasan pertumbuhan baru perlu dipercepat.
“Penyelesaian kesenjangan infrastruktur, peningkatan keselamatan pelintasan sebidang, dan penguatan ketahanan prasarana terhadap bencana harus menjadi prioritas agar kereta api semakin andal, aman, dan kembali menjadi pilihan utama masyarakat,” pungkasnya.***
Editor : Syafira
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































