
TIMETODAY.ID, NEPAL – Jumlah korban jiwa akibat kerusuhan Nepal pada pekan lalu terus bertambah. Otoritas berwenang melaporkan, hingga Senin (15/9/2025), sebanyak 72 orang meninggal dunia. Angka ini meningkat dari laporan sebelumnya pada Sabtu (13/9/2025), ketika Kementerian Kesehatan mencatat 51 korban tewas.
Melansir Reuters, juru Bicara Kementerian Kesehatan Nepal, Prakash Budathoki, menjelaskan banyak jenazah ditemukan di lokasi-lokasi yang terbakar saat protes antikorupsi berlangsung. Gedung kantor pemerintah, rumah warga, pusat perbelanjaan, hingga bangunan lain yang dilalap api menjadi saksi betapa parahnya kerusuhan.
“Tim pencari menemukan jenazah di berbagai lokasi yang terbakar selama aksi protes,” ujar Budathoki.
Selain korban jiwa, sedikitnya 2.113 orang dilaporkan terluka akibat bentrokan tersebut. Pemerintah Nepal pun menyatakan akan menanggung seluruh biaya pengobatan para korban yang masih dirawat di rumah sakit.
Perdana Menteri sementara Nepal, Sushila Karki, mengumumkan langkah kompensasi bagi keluarga korban tewas.
“Pemerintah akan memberikan santunan sebesar 1 juta rupee atau sekitar Rp116 juta untuk setiap keluarga korban,” ujarnya.
Kerusuhan ini disebut sebagai salah satu gejolak politik paling mematikan di Nepal dalam beberapa dekade terakhir. Gelombang protes yang berawal dari isu antikorupsi berubah menjadi tragedi berdarah, bahkan mendorong Perdana Menteri Sharma Oli untuk mundur dari jabatannya.
Bentrok bermula ketika massa aksi berusaha memaksa masuk ke gedung pemerintahan dan merusak gerbang. Aparat kepolisian yang berupaya membubarkan massa akhirnya menembakkan gas air mata dan peluru karet, namun situasi tak terkendali hingga meluas menjadi kerusuhan.






































