Hari Anak Nasional, Terapkan 5 Pola Asuh Ini di Rumah

hari anak
ilustrasi Quality time bersama anak di Hari Anak. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA Hari Anak Sedunia diperingati setiap 20 November, sementara di Indonesia terdapat perayaan Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli. Momen tersebut bukan hanya menjadi kesempatan untuk memberikan kebahagiaan kepada anak, tetapi juga menjadi pengingat bagi orangtua untuk mengevaluasi pola pengasuhan yang selama ini diterapkan.

Mengasuh anak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga membangun rasa aman, komunikasi, serta hubungan emosional yang kuat. Ada sejumlah konsep parenting sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu orangtua lebih dekat dengan anak.

Berikut beberapa aturan parenting yang bisa dicoba.

Advertisement

1. Aturan 10-10-10 untuk Membangun Koneksi

Aturan 10-10-10 berfokus pada tiga momen penting dalam keseharian anak, yakni saat bangun tidur, setelah pulang beraktivitas, dan sebelum tidur.

Konsep ini bertujuan menciptakan waktu berkualitas meski hanya dalam hitungan menit.

Penerapannya antara lain:

  • 10 menit setelah anak bangun tidur
    Orangtua dapat mengajak anak berbicara ringan, menanyakan tidurnya, mendengarkan cerita mimpi, atau sekadar memberikan pelukan sebagai bentuk perhatian.
  • 10 menit setelah anak pulang dari luar rumah
    Misalnya setelah pulang sekolah, berikan kesempatan anak menceritakan pengalaman yang dialaminya tanpa langsung menghakimi atau memberi nasihat.
  • 10 menit sebelum tidur
    Waktu ini bisa dimanfaatkan dengan membacakan cerita, mengobrol santai, atau memberikan pelukan. Hindari menjadikan momen sebelum tidur sebagai waktu untuk memarahi atau mengkritik anak.

Selain 10-10-10, orangtua juga dapat menggunakan konsep serupa seperti aturan 7-7-7 dengan durasi waktu yang berbeda.

2. Aturan 5-4-3-2-1 untuk Membantu Anak Mengelola Emosi

Ketika anak merasa cemas, takut, atau mengalami tekanan, aturan 5-4-3-2-1 dapat membantu mereka kembali fokus pada kondisi saat ini.

Baca Juga :  Terus Bergerak, Gerakan Masyarakat Peduli Santuni Yatim Piatu

Teknik ini dilakukan dengan melibatkan pancaindra anak, yaitu:

  • 5 hal yang dapat dilihat
    Minta anak menyebutkan benda di sekitarnya sekaligus memperhatikan warna atau bentuknya.
  • 4 hal yang dapat disentuh
    Anak diajak mengenali sensasi fisik, seperti tekstur pakaian, meja, atau permukaan benda lain.
  • 3 suara yang dapat didengar
    Misalnya suara kendaraan, kipas angin, atau suara alam.
  • 2 aroma yang dapat dicium
    Anak diminta mengenali bau tertentu, seperti aroma makanan, parfum, atau udara sekitar.
  • 1 hal yang dapat dirasakan melalui indera pengecap
    Anak fokus pada rasa yang ada di mulutnya.

Jika ingin versi lebih sederhana, orangtua bisa mencoba aturan 3-3-3, yaitu meminta anak menyebutkan tiga hal yang dilihat, tiga suara yang didengar, dan menggerakkan tiga bagian tubuh.

3. Aturan 90-10 untuk Membangun Kepercayaan Diri Anak

Konsep 90-10 mengajarkan orangtua untuk lebih banyak memberikan apresiasi dibandingkan kritik.

Dalam aturan ini, sekitar 90 persen komunikasi berisi pujian atau komentar positif, sedangkan 10 persen sisanya berupa koreksi yang membangun.

Namun, pujian sebaiknya tidak diberikan secara umum. Orangtua dianjurkan memberikan apresiasi yang spesifik.

Contohnya, daripada mengatakan:

“Kamu pintar.”

Lebih baik mengatakan:

“Ibu lihat kamu sudah berusaha menyelesaikan soal yang sulit itu dengan sabar.”

Pujian juga sebaiknya diberikan pada proses dan usaha anak, bukan hanya hasil akhir. Hal ini dapat membantu membangun pola pikir bahwa kemampuan bisa berkembang melalui latihan.

Ketika anak melakukan kesalahan, orangtua tetap boleh memberikan teguran, tetapi dengan cara yang tenang dan berfokus pada solusi.

Misalnya, mengganti kalimat:

“Kamarmu berantakan sekali.”

Menjadi:

“Ayo kita rapikan buku-buku ini bersama supaya kamar lebih nyaman.”

4. Aturan 2-1-0 untuk Mengatur Penggunaan Gadget

Perkembangan teknologi membuat anak semakin dekat dengan layar digital. Karena itu, orangtua perlu mengatur waktu penggunaan gadget agar tidak berlebihan.

Baca Juga :  Hati-Hati! Ini 7 Risiko Minum Kolagen Terlalu Sering

Aturan 2-1-0 dapat menjadi panduan sederhana:

  • 2 jam maksimal screen time untuk hiburan bagi anak usia 6 tahun ke atas.
  • 1 jam sebelum tidur tanpa penggunaan layar.
  • 0 jam penggunaan layar bagi bayi usia di bawah 18 bulan, kecuali untuk komunikasi video dengan keluarga.

Untuk anak usia 2-5 tahun, penggunaan layar sebaiknya dibatasi maksimal satu jam per hari dan tetap didampingi orang dewasa.

Pengaturan screen time penting agar anak tetap memiliki waktu untuk bermain, bergerak, belajar, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.

5. Aturan 3 x 7 Tahun Sesuai Tahap Perkembangan Anak

Konsep 3 x 7 tahun membagi pola pengasuhan berdasarkan usia anak.

Usia 0-7 tahun: Fokus pada keteladanan

Pada tahap ini, anak belajar banyak melalui contoh dari orangtua. Kasih sayang, permainan, dan kesabaran menjadi pendekatan utama.

Usia 7-14 tahun: Fokus pada disiplin dan tanggung jawab

Anak mulai diperkenalkan dengan aturan, batasan, serta konsekuensi dari tindakan yang dilakukan. Disiplin tetap diberikan dengan pendekatan yang lembut dan tidak menggunakan kekerasan.

Usia 14-21 tahun: Fokus pada komunikasi

Ketika memasuki usia remaja, orangtua perlu membangun hubungan seperti seorang sahabat. Anak perlu diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi, dan belajar mengambil keputusan.

Peringatan Hari Anak bukan hanya menjadi momen untuk memberikan hadiah atau perayaan semata. Lebih dari itu, momen ini dapat menjadi pengingat bagi orangtua untuk terus memperbaiki cara mendampingi tumbuh kembang anak.

Dengan komunikasi yang baik, perhatian yang konsisten, dan pola asuh yang tepat, hubungan antara orangtua dan anak dapat semakin kuat hingga mereka dewasa.***

Editor : Syafira

Sumber : idntimes.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel