
TIMETODAY.ID, BOGOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor mencatat adanya peningkatan kasus penyakit Cikungunya sepanjang Januari hingga Juli 2025.
Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini memiliki gejala mirip Demam Berdarah Dengue (DBD), namun jarang berakibat fatal.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Bogor, Adang Mulyana, menjelaskan bahwa Cikungunya disebabkan oleh virus yang dibawa vektor yang sama dengan DBD.
“Cikunguya itu kan penyebabnya penyakit yang dapat ditularkan oleh vektor sama dengan DBD, salah satu ciri Cikungunyah pegal-pegal, nyeri sendi, susah bergerak,” ujar Adang kepada timetoday.id, Jumat (15/8/2025).
“Tapi sebenarnya dalam waktu dua mingguan bisa sembuh sendiri yang penting kondisi tubuhnya bagus, walaupun kadang-kadang ada sisa beberapa minggu ke depan tapi tidak terlalu berat,” sambungnya.
Berdasarkan data Dinkes, pada Januari 2025 tercatat dua kasus di Kecamatan Ciomas. Februari terdapat delapan kasus di Desa Tamansari dan Desa Rawa Panjang, Kecamatan Bojonggede.
Pada Maret ditemukan tiga kasus di Bojonggede, sementara April melonjak menjadi 18 kasus yang tersebar di Rawa Panjang, Desa Jagar Batik Kecamatan Parungpanjang, dan Desa Bojong Nangka Kecamatan Gunung Putri.
“Memang ada yang sifatnya konfirmasi klinis dan konfirmasi rapid. Rapid itu pemeriksaan antibodi. Jadi memang bulan April kita mendapatkan rapid yang positifnya dua kasus dari 18, dua kasus yang positif rapid konfirmasi,” terang Adang.
Pada Mei, jumlah kasus mencapai 19 dengan sebaran di Rawa Panjang, Karadenan, Parungpanjang, Bojong Nangka, dan Gunung Putri. Pemeriksaan rapid pada bulan tersebut menunjukkan 25 kasus positif antibodi Cikungunya.
Juni tercatat satu kasus di Bojong Baru, sedangkan Juli ditemukan lima kasus di Desa Mekarsari dan Desa Cogleg, Kecamatan Kedung Waringin, dengan tiga di antaranya terkonfirmasi.
Menurut Adang, deteksi Cikungunya melalui rapid test hanya mengidentifikasi antibodi pada fase pemulihan, berbeda dengan DBD yang dapat dideteksi sejak awal infeksi.
“Penanggulangannya hampir sama seperti DBD, pesannya 3M. Bila penyebarannya cepat, intervensi terakhir adalah fogging secepat mungkin. Karena nyamuknya berbeda, Aedes aegypti menggigitnya setiap waktu sehingga lebih cepat menular, terutama pada usia lanjut dengan komorbid,” jelasnya.
Editor : B. Supriyadi
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































