Mengenal Depresi Anak, Gejala hingga Peran Orang Tua

anak
ilustrasi anak yang sedang Depresi. Foto: magnific

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Perubahan emosi pada anak merupakan bagian dari proses tumbuh kembang. Dalam satu waktu mereka bisa tampak penuh semangat dan ceria, tetapi di kesempatan lain bisa merasa sedih, kecewa, atau mudah marah. Kondisi seperti ini sebenarnya normal.

Namun, jika perubahan suasana hati tersebut berlangsung lama hingga lebih dari dua minggu dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua perlu lebih waspada. Bisa jadi, kondisi tersebut merupakan tanda adanya depresi pada anak.

Depresi bukan sekadar rasa sedih akibat masalah kecil, seperti nilai sekolah yang kurang baik atau konflik dengan teman. Gangguan suasana hati ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan anak, mulai dari pola tidur, nafsu makan, kemampuan belajar, hingga hubungan sosialnya.

Advertisement

Beragam Jenis Depresi yang Bisa Dialami Anak

Depresi pada anak dan remaja memiliki beberapa bentuk dengan gejala yang berbeda. Mengutip Cleveland Clinic, berikut sejumlah jenis depresi yang perlu diketahui:

1. Gangguan Depresi Mayor

Jenis ini menjadi bentuk depresi yang paling umum. Anak yang mengalami kondisi ini dapat menunjukkan rasa sedih berkepanjangan, mudah tersinggung, kehilangan harapan, hingga menarik diri dari lingkungan sekitar.

2. Gangguan Disforik Pramenstruasi (PMDD)

PMDD dapat dialami oleh anak perempuan menjelang menstruasi. Kondisi ini biasanya ditandai dengan perubahan emosi seperti mudah menangis, merasa cemas, serta munculnya keluhan fisik menjelang periode haid.

3. Gangguan Afektif Musiman (SAD)

Jenis depresi ini berkaitan dengan perubahan musim atau kondisi cuaca tertentu. Gejalanya mirip dengan depresi mayor, tetapi biasanya muncul pada waktu tertentu dalam setahun.

4. Disruptive Mood Dysregulation Disorder

Gangguan ini membuat anak mengalami ledakan emosi atau tantrum yang berlebihan dan tidak sesuai dengan tahap usianya. Umumnya kondisi ini mulai dikenali pada anak usia 6 tahun ke atas.

Baca Juga :  Anak Mulai Membandingkan Diri dengan Teman? Ini yang Bisa Dilakukan Orang Tua

5. Distimia

Berbeda dengan depresi mayor yang gejalanya lebih berat, distimia memiliki gejala lebih ringan tetapi berlangsung dalam waktu lama. Kondisi ini bahkan dapat bertahan hingga bertahun-tahun sehingga terkadang dianggap sebagai karakter alami anak.

Tanda Depresi pada Anak yang Perlu Diperhatikan

Depresi pada anak tidak selalu terlihat sama seperti pada orang dewasa. Beberapa tanda yang perlu menjadi perhatian orang tua antara lain:

  • Anak lebih sering merasa sedih atau mudah marah.
  • Kehilangan ketertarikan terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, seperti bermain, olahraga, atau sekolah.
  • Tubuh terlihat mudah lelah dan kehilangan energi.
  • Sering mengungkapkan pikiran negatif tentang dirinya sendiri.
  • Mengalami perubahan pola makan, baik makan berlebihan maupun kehilangan nafsu makan.
  • Mengalami gangguan tidur, seperti sulit tidur atau tidur terlalu lama.

Faktor yang Dapat Memicu Depresi pada Anak

Hingga kini, penyebab pasti depresi pada anak belum sepenuhnya diketahui. Namun, para ahli menyebut kondisi ini dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko depresi pada anak meliputi:

  • Riwayat keluarga dengan gangguan depresi.
  • Peristiwa penuh tekanan, seperti perceraian orang tua, pindah tempat tinggal, atau kehilangan orang terdekat.
  • Pengalaman traumatis maupun menjadi korban perundungan.
  • Masalah kesehatan tertentu, seperti penyakit kronis atau gangguan fisik yang memengaruhi kondisi tubuh.

Penanganan Depresi pada Anak

Jika anak menunjukkan tanda-tanda depresi selama lebih dari dua minggu, orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga medis.

Baca Juga :  Headphones atau Earbuds, Mana yang Lebih Aman untuk Kesehatan Telinga?

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah perubahan emosi tersebut berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti kekurangan vitamin, gangguan tiroid, atau anemia.

Jika tidak ditemukan penyebab fisik, anak dapat diarahkan untuk mendapatkan bantuan dari psikolog atau psikiater. Beberapa metode penanganan yang umum dilakukan antara lain:

Terapi Psikologis

Salah satu metode yang sering digunakan adalah terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Terapi ini membantu anak mengenali pola pikir negatif, mengelola emosi, serta membangun cara menghadapi masalah yang lebih sehat.

Penggunaan Obat

Dalam kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pemberian obat antidepresan seperti SSRI. Penggunaan obat biasanya dilakukan dengan pengawasan tenaga profesional dan dapat dikombinasikan dengan terapi agar hasilnya lebih optimal.

Peran Orang Tua dalam Mendampingi Anak

Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan anak yang mengalami depresi. Orang tua dapat membantu dengan menjadi pendengar yang baik tanpa memberikan penilaian atau menyalahkan anak.

Menciptakan suasana rumah yang nyaman, memastikan anak mendapatkan tidur cukup, mengonsumsi makanan bergizi, serta melakukan aktivitas fisik secara rutin juga dapat membantu menjaga kesehatan mentalnya.

Orang tua juga dapat mencatat perubahan perilaku, pola tidur, dan kebiasaan makan anak sebagai bahan informasi saat berkonsultasi dengan dokter.

Depresi pada anak merupakan kondisi yang dapat dialami siapa saja dan bukan berarti kegagalan dalam pola asuh orang tua. Dengan dukungan yang tepat dan penanganan profesional, anak tetap memiliki peluang besar untuk pulih dan kembali menjalani aktivitasnya dengan baik.***

Editor : Syafira

Sumber : Okezone.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel