Anak Mulai Membandingkan Diri dengan Teman? Ini yang Bisa Dilakukan Orang Tua

anak
ilustrasi (istock)

TIMETODAY.ID — Bukan hal yang asing jika anak mulai berkata, “Kenapa aku nggak sepintar dia?” atau “Aku ingin seperti temanku yang lebih tinggi.” Perbandingan dengan teman sebaya adalah bagian alami dari proses tumbuh kembang anak. Namun, jika dibiarkan tanpa arahan, ini bisa berdampak pada harga diri dan kepercayaan diri anak.

Saat anak mulai membandingkan dirinya dengan orang lain, orang tua perlu hadir sebagai pendamping yang bijak. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu anak menghadapi perasaan ini.

1. Dengarkan dan Validasi Perasaan Anak

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mendengarkan anak tanpa menghakimi. Biarkan mereka mengekspresikan perasaan kecewa, iri, atau tidak percaya diri. Validasi perasaan tersebut dengan memberi respons seperti, “Ibu paham kamu merasa sedih karena merasa berbeda,” alih-alih langsung menyangkal atau membandingkan balik.

Advertisement

Dengan merasa didengarkan, anak akan lebih terbuka untuk menerima masukan dan dukungan.

2. Ajarkan Anak Mengenal Keunikan Diri

Setiap anak punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ajarkan bahwa tidak apa-apa jika mereka tidak bisa seperti orang lain, karena yang penting adalah mengenal dan mengembangkan potensi diri sendiri. Bantu anak menyadari kekuatan yang mereka miliki, seperti empati, kreativitas, atau semangat belajar.

Baca Juga :  Tips Membuat Anak Tetap Aktif dan Produktif di Masa Libur Sekolah

Buatlah rutinitas kecil di rumah, misalnya menyebutkan satu hal yang disyukuri atau satu hal yang disukai dari diri sendiri setiap malam.

3. Tekankan Pentingnya Usaha, Bukan Hanya Hasil

Alihkan fokus anak dari hasil ke proses. Misalnya, daripada mengatakan, “Bagus kamu juara,” lebih baik katakan, “Hebat ya kamu sudah belajar tekun dan pantang menyerah.” Anak akan belajar bahwa usaha lebih penting dari perbandingan hasil dengan orang lain.

Ini membantu membangun mindset berkembang (growth mindset), di mana anak memahami bahwa kemampuan bisa ditingkatkan dengan latihan.

4. Waspadai Dampak Media Sosial

Jika anak sudah terpapar media sosial atau dunia digital, bantu mereka memahami bahwa apa yang terlihat di sana sering kali hanyalah potret terbaik seseorang—bukan keseluruhan realita. Orang tua juga sebaiknya membatasi dan mengawasi paparan konten yang bisa memicu perbandingan tidak sehat.

Berikan waktu digital yang seimbang dan ajak anak melakukan aktivitas di dunia nyata yang menyenangkan dan memperkaya pengalaman mereka.

5. Tunjukkan Contoh yang Baik

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua sering membandingkan diri dengan orang lain, baik secara langsung maupun tersirat, anak akan menganggap itu sebagai sesuatu yang wajar. Maka, penting bagi orang tua untuk menampilkan sikap percaya diri, menerima diri sendiri, dan menghargai keberagaman orang lain.

Baca Juga :  Sudah Diterima SNBP, Ini Langkah Lanjutan untuk Penerima KIP Kuliah

Berani mengakui kekurangan diri dengan sikap positif juga bisa menjadi pelajaran berharga bagi anak.

6. Tanamkan Rasa Syukur

Ajarkan anak untuk lebih fokus pada apa yang mereka miliki. Rasa syukur dapat membantu anak melihat hal-hal positif dalam dirinya dan hidupnya, sehingga mencegah mereka terjebak dalam pola pikir “aku kurang.”

Orang tua bisa mengajak anak membuat jurnal syukur sederhana atau mengobrol santai tentang tiga hal baik yang terjadi setiap hari.

Kesimpulan

Membandingkan diri adalah hal yang wajar dalam masa tumbuh kembang anak. Namun, dengan dukungan dan arahan yang tepat dari orang tua, anak bisa belajar mencintai dirinya sendiri, mengenali potensi, dan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Kuncinya ada pada komunikasi yang terbuka, teladan yang baik, dan penanaman nilai positif sejak dini.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel