BBM Pertamina Ditolak Swasta Gara-Gara Etanol, Apa Sebenarnya Masalahnya?

BBM
ilustrasi tempat pengisian bahan bakar (foto: istock)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Rencana kolaborasi badan usaha swasta dengan PT Pertamina (Persero) untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM) murni atau base fuel mendadak batal. Alasannya terdengar sederhana: ada kandungan etanol di dalam BBM Pertamina.

Hal ini diungkapkan Achmad Muchtasyar, Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, saat rapat bersama Komisi VII DPR RI. Menurutnya, etanol memang jadi batu sandungan karena tidak sesuai dengan spesifikasi produk yang dipakai SPBU swasta.

“Kontennya itu ada kandungan etanol. Nah, di mana secara regulasi itu diperkenankan. Etanol itu sampai jumlah tertentu. Kalau tidak salah sampai 20% etanol. Kalau tidak salah. Nah, sedangkan ada etanol 3,5%,” ujarnya dalam RDP, Jumat (3/10/2025).

Advertisement

Padahal, menurut Achmad, kandungan etanol dalam BBM Pertamina sejatinya masih dalam ambang batas yang diperbolehkan pemerintah. Namun, spesifikasi tiap merek BBM berbeda. Karena itu, SPBU swasta meminta negosiasi ulang jika ke depan ingin tetap bekerja sama.

“Ini bukan masalah kualitas, masalah konten. Kontennya ini aman bagi karakteristik spesifikasi produk yang masing-masing. Karena ini beda-beda merek, beda spesifikasi,” jelasnya.

Baca Juga :  Yamaha Luncurkan FZ-Rave di India, Motor Sport-Naked Bisa Pakai Bahan Bakar E20

Lalu, Apa Itu Etanol?

Etanol atau etil alkohol (C2H5OH) adalah salah satu jenis alkohol paling umum yang banyak digunakan sehari-hari. Selain dipakai di industri kosmetik, farmasi, hingga pelarut, etanol juga jadi bahan bakar alternatif ramah lingkungan.

Ketika dicampur dengan bensin, etanol bisa membantu mesin bekerja dengan lebih bersih karena menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibanding bahan bakar fosil murni. Secara sederhana, panas dari pembakaran etanollah yang menggerakkan piston mesin.

Bukan barang baru, penggunaan etanol sebagai bahan bakar sudah berlangsung sejak abad ke-19. Bahkan Ford Model T tahun 1908 sudah bisa menggunakan bensin maupun etanol.

Krisis minyak dunia tahun 1970-an makin mendorong pengembangan bioetanol. Kini, Amerika Serikat dan Brasil menjadi dua negara dengan produksi dan penggunaan etanol terbesar di dunia.

Indonesia dan Peta Jalan Bioetanol

Indonesia sebenarnya sudah lama melirik bioetanol sebagai bagian dari program energi hijau. Peraturan Menteri ESDM Nomor 12/2015 menetapkan target penggunaan bioetanol E5 (campuran 5% etanol dengan 95% bensin) sejak 2020, lalu meningkat menjadi E20 pada 2025.

Baca Juga :  Update Oktober 2025: Cek Daftar Harga Lengkap BBM Pertamina di Seluruh Indonesia

Pemerintah juga menggandeng peneliti ITB bersama United States Grains Council (USGC) untuk menyusun peta jalan bioetanol.

Program jangka pendeknya adalah memperkenalkan campuran E5 di Jakarta dan Surabaya, dengan tujuan menekan ketergantungan pada minyak fosil sekaligus meningkatkan kualitas bensin setara Pertamax.

Bahan baku bioetanol di Indonesia mayoritas berasal dari tebu, yang dinilai bisa jadi solusi energi berkelanjutan.

Studi menyebut, energi dari satu ton tebu setara dengan 1,2 barel minyak mentah. Targetnya, produksi bioetanol nasional bisa melesat dari 40 ribu kiloliter (2022) menjadi 1,2 juta kiloliter pada 2030.

Antara Regulasi dan Bisnis

Kasus batalnya pembelian BBM Pertamina oleh SPBU swasta ini memperlihatkan dilema transisi energi. Dari sisi regulasi, kandungan etanol 3,5% dalam base fuel Pertamina masih aman. Namun, dari sisi bisnis, perbedaan spesifikasi antar merek membuat kerja sama jadi tersendat.

Ke depan, jalan tengah mungkin dibutuhkan. Apalagi Indonesia sedang berambisi mendorong bahan bakar hijau agar tak terus bergantung pada energi fosil.***

Editor : Syafira

Sumber : CNBCIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel