TIMETODAY.ID, JAKARTA — Hamparan gurun Mesir kembali menyimpan kejutan bagi dunia arkeologi. Tim peneliti berhasil mengungkap dua penemuan besar yang membuka lembaran baru sejarah, mulai dari sebuah kota kuno era Bizantium hingga kompleks pemakaman yang berisi puluhan makam lengkap dengan artefak langka, termasuk jenazah yang dimakamkan menggunakan ritual “lidah emas”.
Penemuan tersebut diumumkan Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir. Temuan pertama berasal dari kawasan Oasis Dakhla di Gurun Barat, sementara temuan kedua ditemukan di situs Marina el-Alamein, sekitar 100 kilometer di sebelah barat Alexandria.
Kota Bizantium Terkubur di Gurun
Hasil ekskavasi di Oasis Dakhla mengungkap sebuah kota yang diperkirakan berkembang pada abad ke-4 Masehi, tepatnya pada masa Kekaisaran Bizantium.
Para arkeolog menemukan tata kota yang dirancang cukup teratur. Sebuah jalan utama membentang dari utara ke selatan dan dihubungkan dengan sejumlah jalan lain yang membelah kawasan dari timur ke barat. Di tengah permukiman juga ditemukan dua alun-alun yang diduga menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Salah satu bangunan yang paling menonjol adalah gereja bergaya basilika yang berdiri menghadap jalan utama. Selain itu, ditemukan pula dua menara pengawas di sisi luar kota dan benteng berdinding tebal yang diduga berfungsi sebagai sistem pertahanan.
Rumah-rumah di kawasan tersebut menunjukkan tingkat kehidupan masyarakat yang cukup maju. Bangunan dilengkapi ruang penerima tamu, langit-langit berkubah, dapur, tungku memasak, hingga peralatan untuk menggiling bahan makanan.
Salah satu rumah diperkirakan pernah dihuni seorang diakon bernama Tessos pada awal abad ke-4. Sebelum gereja basilika dibangun, bangunan tersebut diyakini sempat difungsikan sebagai tempat ibadah umat Kristen awal.
Koin Emas hingga Catatan Kehidupan Sehari-hari
Selain struktur bangunan, penggalian menghasilkan berbagai artefak bersejarah, di antaranya koin perunggu bergambar para kaisar Bizantium dan koin emas bergambar Kaisar Romawi Constantius II yang memerintah pada 337–361 Masehi.
Tim peneliti juga menemukan sekitar 200 pecahan tembikar atau ostraca yang berisi tulisan dalam bahasa Koptik dan Yunani. Isi catatan tersebut menggambarkan aktivitas perdagangan, surat-menyurat, hingga kehidupan masyarakat pada masa itu.
Beragam perlengkapan rumah tangga seperti tembikar, wadah penyimpanan minyak dan parfum, serta alat-alat berbahan batu turut ditemukan dalam kondisi yang masih cukup baik. Sejumlah temuan dari kawasan ini bahkan sedang dipertimbangkan untuk diusulkan sebagai bagian dari Warisan Dunia UNESCO.
Kompleks Makam Kuno Simpan Ritual ‘Lidah Emas’
Di lokasi berbeda, penggalian di Marina el-Alamein mengungkap kompleks pemakaman yang berasal dari periode Ptolemaik hingga Romawi.
Sebanyak 18 makam berhasil ditemukan. Dari jumlah tersebut, 11 makam dipahat langsung ke batu dengan kedalaman mencapai sekitar delapan meter di bawah permukaan tanah, sedangkan tujuh makam lainnya dibangun menggunakan batu kapur di atas permukaan.
Temuan paling menarik adalah 24 lembar emas tipis yang diletakkan di dalam mulut jenazah. Artefak yang dikenal sebagai golden tongues atau “lidah emas” itu dipercaya menjadi bagian dari ritual pemakaman Mesir kuno agar arwah dapat berbicara saat memasuki alam setelah kematian.
Salah satu kepingan emas bahkan dihiasi simbol Mata Horus (Eye of Horus), lambang yang identik dengan perlindungan, kesehatan, dan kemakmuran dalam kepercayaan Mesir kuno.
Sarkofagus dan Artefak Bernilai Tinggi
Di kompleks pemakaman tersebut, arkeolog juga menemukan sebuah sarkofagus granit sepanjang sekitar 2,4 meter yang masih berisi kerangka manusia. Sisa-sisa tulang akan diteliti lebih lanjut guna mengungkap identitas serta kondisi individu yang dimakamkan.
Selain itu, ditemukan pula patung marmer Dewi Aphrodite yang belum selesai dipahat, relief batu kapur bergambar seorang pria yang sedang duduk sambil memegang seekor burung, serta patung sphinx berbahan plester.
Berbagai artefak lain seperti amphora, lampu minyak, piring, altar batu kapur, baskom batu, hingga botol kaca kecil yang diduga digunakan dalam ritual pemakaman turut melengkapi koleksi temuan.
Salah satu altar batu kapur berbentuk false door atau pintu palsu juga menjadi sorotan. Dalam tradisi Mesir kuno, simbol tersebut dipercaya menjadi penghubung antara dunia manusia dengan alam arwah.
Sejauh ini, situs Marina el-Alamein telah menghasilkan total 48 makam yang menunjukkan perpaduan budaya Mesir dan Yunani. Variasi bentuk makam yang ditemukan diyakini mencerminkan perbedaan status sosial masyarakat yang pernah mendiami kawasan pelabuhan kuno Leukaspis, kota yang berkembang di pesisir Laut Mediterania sejak abad ke-2 sebelum Masehi hingga abad ke-4 Masehi.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































