TIMETODAY.ID, JAKARTA — Merasa gugup saat harus berbicara di depan umum, menjalani wawancara kerja, atau bertemu orang baru merupakan hal yang umum dialami banyak orang. Respons tersebut bahkan dapat membantu seseorang lebih siap menghadapi situasi yang dianggap menantang.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa tidak semua rasa cemas dalam situasi sosial tergolong normal. Jika kecemasan muncul secara berlebihan, berlangsung terus-menerus, dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut bisa mengarah pada Gangguan kecemasan sosial atau social anxiety.
Meski sama-sama ditandai dengan rasa cemas saat berinteraksi dengan orang lain, gugup dan social anxiety memiliki sejumlah perbedaan mendasar.
Muncul pada Situasi yang Berbeda
Rasa gugup umumnya hanya muncul ketika seseorang menghadapi kondisi tertentu, seperti presentasi, ujian, wawancara kerja, atau berbicara di hadapan banyak orang. Setelah situasi tersebut berakhir, perasaan cemas biasanya ikut mereda.
Sebaliknya, social anxiety dapat dipicu oleh berbagai aktivitas sosial yang sebenarnya sederhana. Berbicara dengan orang yang baru dikenal, memesan makanan di restoran, mengangkat telepon, hingga mengajukan pertanyaan di kelas dapat memicu kecemasan yang sangat kuat.
Tingkat Kecemasan Lebih Intens
Perbedaan lain terlihat dari intensitas perasaan yang muncul. Gugup biasanya masih dapat dikendalikan sehingga seseorang tetap mampu menjalani aktivitasnya.
Pada social anxiety, rasa takut cenderung jauh lebih besar. Kecemasan bahkan dapat muncul beberapa hari sebelum menghadapi situasi sosial dan terus berlanjut setelah interaksi selesai. Penderitanya sering merasa takut dinilai buruk atau melakukan kesalahan di hadapan orang lain.
Berdampak pada Aktivitas Sehari-hari
Orang yang gugup umumnya tetap dapat menyelesaikan tugas atau kegiatan yang sedang dijalani meski merasa tegang.
Sementara itu, social anxiety dapat membuat seseorang menghindari berbagai aktivitas yang melibatkan interaksi sosial. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi prestasi belajar, pekerjaan, hubungan dengan orang lain, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.
Terus Memikirkan Interaksi yang Sudah Berlalu
Setelah menghadapi situasi yang membuat gugup, sebagian besar orang dapat kembali menjalankan aktivitas seperti biasa.
Sebaliknya, individu dengan social anxiety sering kali terus mengingat percakapan atau kejadian yang telah berlalu. Mereka berulang kali memikirkan apakah telah mengatakan sesuatu yang salah atau khawatir dinilai negatif oleh orang lain. Pola pikir tersebut dapat memicu tekanan emosional dan membuat kecemasan semakin meningkat saat harus menghadapi situasi serupa di kemudian hari.
Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional
Apabila rasa cemas dalam situasi sosial muncul hampir setiap waktu, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu sekolah, pekerjaan, maupun hubungan sosial, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental menjadi langkah yang dianjurkan.
Psikolog maupun psikiater dapat membantu melakukan penilaian untuk mengetahui penyebab kecemasan sekaligus menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu.
Memahami perbedaan antara gugup dan social anxiety menjadi langkah awal untuk mengenali kondisi diri. Rasa gugup merupakan respons yang wajar, tetapi ketika kecemasan terus menghambat aktivitas dan menurunkan kualitas hidup, mendapatkan bantuan profesional merupakan keputusan yang tepat demi menjaga kesehatan mental.***
Editor : Syafira
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































