TIMETODAY.ID, JAKARTA — Kepingan salju atau snow flakes kerap menjadi simbol ikonik perayaan Natal. Bentuknya yang halus dan memikat sering diasosiasikan dengan suasana hangat dan magis akhir tahun. Namun di balik keindahan visual tersebut, kepingan salju sesungguhnya merupakan hasil proses alam yang sangat presisi, melibatkan hukum fisika dan kimia.
Jika diamati menggunakan mikroskop, setiap kepingan salju memperlihatkan pola rumit yang simetris dan unik. Meski sekilas tampak serupa, para ilmuwan meyakini hampir tidak ada dua kepingan salju yang benar-benar identik.
Keindahan ini terbentuk dari rangkaian proses kecil yang terjadi saat kristal es melayang turun dari atmosfer menuju permukaan Bumi.
Berdasarkan penjelasan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), kepingan salju tidak berasal dari tetesan hujan yang membeku, melainkan terbentuk langsung dari uap air di udara.
“Kepingan salju terbentuk ketika uap air membeku langsung menjadi es tanpa terlebih dahulu menjadi air cair,” tulis NOAA seperti dikutip dari situs resminya.
Proses ini dimulai di dalam awan ketika suhu berada di bawah titik beku. Kristal es yang terbentuk akan terus berkembang seiring perjalanannya ke bawah, dengan cara menangkap uap air di sekitarnya. Pertumbuhan ini berlangsung hingga kristal akhirnya jatuh sebagai kepingan salju.
Fenomena kepingan salju pertama kali menarik perhatian ilmuwan pada akhir abad ke-19. Pada tahun 1885, Wilson A. Bentley menjadi orang pertama yang berhasil memotret kepingan salju. Ketertarikannya pada struktur unik kristal es membuatnya mendokumentasikan lebih dari 5.000 kepingan salju sepanjang hidupnya.
Enam Sisi yang Sama, Pola yang Berbeda

Secara ilmiah, seluruh kepingan salju memiliki dasar bentuk yang sama, yakni heksagonal atau bersisi enam. Bentuk ini muncul dari cara molekul air (H₂O) saling berikatan saat membeku.
Scientific American menjelaskan bahwa susunan molekul air secara alami membentuk sudut 60 derajat ketika berubah menjadi kristal es.
“Simetri enam sisi pada kepingan salju berasal dari cara molekul air berikatan saat membeku,” tulis Scientific American.
Meski memiliki struktur dasar yang sama, pola akhir setiap kepingan salju sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang dilaluinya. Faktor seperti suhu udara, tingkat kelembapan, serta tekanan atmosfer berperan besar dalam menentukan bentuk kristal yang terbentuk.
“Bentuk akhir kepingan salju mencerminkan perubahan kondisi yang dialaminya saat jatuh melalui atmosfer,” lanjut Scientific American.
Karena setiap kepingan salju melewati jalur dan kondisi yang berbeda di dalam awan, kemungkinan dua kepingan mengalami proses yang sepenuhnya sama nyaris tidak ada. Inilah yang menjelaskan mengapa setiap kepingan salju selalu unik—sebuah keajaiban kecil dari presisi alam yang kerap menghiasi perayaan Natal di berbagai belahan dunia.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































