TIMETODAY.ID, JAKARTA — Tato telah menjadi bagian dari gaya hidup modern dan kerap dipilih sebagai bentuk ekspresi diri maupun karya seni. Namun, di balik tampilannya yang permanen, masih banyak orang mengira tinta tato bertahan lama hanya karena meresap dan menempel kuat di lapisan kulit.
Faktanya, dunia medis menjelaskan bahwa mekanisme permanennya tato jauh lebih kompleks. Bukan semata-mata karena sifat tinta, melainkan karena respons sistem kekebalan tubuh yang terus berlangsung selama bertahun-tahun.
Dokter sekaligus edukator kesehatan dr. Adam Prabata menjelaskan bahwa tato dapat bertahan lama karena adanya proses biologis yang melibatkan sel-sel imun di bawah permukaan kulit.
Menurutnya, saat jarum tato menusuk kulit untuk memasukkan pigmen, tubuh akan mengenali proses tersebut sebagai cedera sekaligus mendeteksi adanya benda asing. Kondisi itu kemudian memicu respons alami sistem imun.
“Sel-sel imun seperti neutrofil, makrofag, dan sel dendritik akan bergerak menuju area tersebut untuk menangkap partikel pigmen tato,” jelas dr. Adam.
Peran Makrofag Menjaga Tinta Tetap Bertahan
Salah satu sel imun yang berperan penting adalah makrofag. Sel ini bertugas menelan partikel asing yang masuk ke dalam tubuh, termasuk pigmen tato.
Namun, pigmen tinta memiliki ukuran yang relatif besar dan sulit diuraikan oleh makrofag. Akibatnya, ketika sel tersebut mati secara alami, pigmen akan dilepaskan kembali ke jaringan kulit.
Pigmen yang telah terlepas kemudian kembali ditangkap oleh makrofag baru. Proses ini terus berulang dalam siklus yang dikenal sebagai capture, release, recapture atau menangkap, melepaskan, lalu menangkap kembali.
Karena mekanisme inilah pigmen tato tetap berada di lapisan kulit selama bertahun-tahun, sehingga tato tampak permanen.
Dengan kata lain, tato bukan bertahan karena tintanya melekat secara statis, melainkan karena sistem kekebalan tubuh terus “mendaur ulang” pigmen tersebut melalui pergantian sel makrofag.
Ada Potensi Risiko Kesehatan
Selain menjelaskan proses biologis tersebut, dr. Adam juga mengingatkan bahwa keberadaan pigmen tato dalam jangka panjang masih menjadi perhatian para peneliti.
Sejumlah studi terbaru menunjukkan akumulasi pigmen di dalam jaringan tubuh diduga dapat memengaruhi fungsi sistem kekebalan tubuh. Bahkan, beberapa penelitian mengaitkannya dengan peningkatan risiko gangguan tertentu, termasuk limfoma atau kanker kelenjar getah bening serta kanker kulit.
Meski demikian, hubungan tersebut masih terus diteliti untuk memastikan mekanisme dan besarnya risiko pada manusia.
Pertimbangkan Sebelum Membuat Tato
Karena sifatnya yang permanen dan melibatkan respons biologis tubuh dalam jangka panjang, keputusan untuk membuat tato sebaiknya dipertimbangkan secara matang.
Selain memilih tempat yang menerapkan standar kebersihan dan sterilisasi yang baik untuk mengurangi risiko infeksi, masyarakat juga dianjurkan memahami potensi dampak kesehatan serta berkonsultasi dengan tenaga medis apabila memiliki kondisi kulit atau gangguan sistem imun tertentu sebelum memutuskan membuat tato.***
Editor : Syafira
Sumber : Okezone.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































