TIMETODAY.ID, JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) menanggapi temuan harga daging sapi yang di sejumlah pasar mencapai Rp180.000 per kilogram. Menurut Bapanas, harga tersebut merupakan daging sapi kualitas premium sehingga tidak mencerminkan harga rata-rata daging sapi yang dijual kepada masyarakat.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan hasil pemantauan di berbagai pasar menunjukkan sebagian besar pedagang masih menjual daging sapi sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah.
“Harga Rp160.000 hingga Rp180.000 umumnya untuk bagian premium, seperti has dalam yang sudah dibersihkan dari lemak. Namun demikian, kami akan terus melakukan pemantauan,” ujar Ketut usai meninjau Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (24/7/2026).
Ia menambahkan, di sejumlah pasar seperti Rawamangun dan Pasar Senen, Jakarta, harga daging sapi masih ditemukan di kisaran Rp140.000 per kilogram.
Rata-rata harga nasional masih di kisaran Rp143.601 per kg
Berdasarkan data pemantauan Bapanas hingga 22 Juli 2026, rata-rata harga daging sapi nasional tercatat sebesar Rp143.601 per kilogram.
Angka tersebut sekitar 2,57 persen lebih tinggi dibandingkan Harga Acuan Penjualan tingkat konsumen yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp140.000 per kilogram.
Meski mengalami kenaikan, Bapanas menilai kondisi tersebut masih berada dalam batas yang wajar dan belum menunjukkan adanya gejolak harga di pasar.
Penguatan produksi sapi lokal terus didorong
Untuk menjaga stabilitas harga dalam jangka panjang, pemerintah terus menggenjot program peningkatan populasi sapi melalui upaya swasembada.
Menurut Ketut, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang turut memengaruhi harga daging sapi, terutama yang berkaitan dengan impor. Namun pemerintah berharap ketergantungan terhadap pasokan luar negeri dapat dikurangi melalui peningkatan produksi dalam negeri.
“Kami terus mendukung program swasembada sapi sebagaimana arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas. Harapannya, produksi dalam negeri meningkat sehingga kebutuhan impor bisa ditekan,” katanya.
Produksi diproyeksikan meningkat
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan 2026, produksi sapi dan kerbau nasional diperkirakan mencapai 2,15 juta ekor, setara dengan sekitar 421.210 ton daging.
Sementara itu, kebutuhan konsumsi nasional sepanjang tahun diproyeksikan mencapai 794.290 ton, sehingga kekurangan pasokan akan dipenuhi melalui kombinasi produksi dalam negeri dan impor yang telah diperhitungkan pemerintah.
Dengan skema tersebut, stok akhir tahun diperkirakan mencapai 324.090 ton, meningkat dibandingkan stok awal tahun yang berada di angka 185.810 ton.
Bapanas memastikan akan terus memantau perkembangan harga di berbagai daerah serta melakukan langkah stabilisasi apabila terjadi lonjakan harga yang berpotensi membebani masyarakat.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































