TIMETODAY.ID, JAKARTA — Menghormati privasi anak merupakan bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat antara orangtua dan buah hati. Salah satu kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan adalah mengetuk pintu kamar sebelum masuk.
Meski terlihat sepele, tindakan tersebut dapat mengajarkan rasa saling menghargai sekaligus membantu anak memahami batasan pribadi. Namun, kapan sebenarnya kebiasaan ini sebaiknya mulai diterapkan?
Menurut para psikolog, kebutuhan privasi anak berkembang seiring bertambahnya usia. Berikut penjelasannya.
Usia 1–3 Tahun, Pengawasan Masih Menjadi Prioritas
Pada masa balita, orangtua belum perlu membiasakan mengetuk pintu kamar sebelum masuk. Di usia ini, anak masih membutuhkan pengawasan penuh demi menjaga keselamatan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Psikolog klinis Lisa Strohman menjelaskan bahwa balita belum memiliki kebutuhan privasi sebagaimana anak yang lebih besar. Karena itu, orangtua dapat langsung masuk ke kamar ketika diperlukan sebagai bagian dari pengasuhan.
Usia 4–10 Tahun, Mulai Kenalkan Kebiasaan Menghargai Privasi
Memasuki usia sekolah, anak mulai membangun identitas diri dan perlahan mengenal konsep ruang pribadi. Pada fase ini, orangtua sudah dapat mulai membiasakan diri mengetuk pintu sebelum memasuki kamar anak.
Kebiasaan tersebut terutama bisa diterapkan saat anak sedang membaca, bermain, atau menikmati waktu sendiri. Meski demikian, keselamatan tetap menjadi prioritas sehingga orangtua tetap dapat segera masuk apabila terjadi keadaan darurat.
Usia 11–12 Tahun, Kebutuhan Privasi Semakin Meningkat
Saat memasuki masa praremaja atau tween, kebutuhan anak terhadap privasi biasanya meningkat. Pada tahap ini, mengetuk pintu sebelum masuk kamar sebaiknya menjadi kebiasaan yang konsisten dilakukan orangtua.
Meski menginginkan ruang pribadi yang lebih besar, anak tetap membutuhkan perhatian, dukungan, dan komunikasi yang hangat dari orangtuanya.
Memberikan privasi bukan berarti menjaga jarak. Orangtua tetap perlu meluangkan waktu untuk berbincang dan memastikan kondisi emosional anak tetap terjaga.
Usia 13–18 Tahun, Menghormati Privasi Menjadi Sangat Penting
Memasuki masa remaja, kebutuhan akan privasi menjadi bagian penting dalam proses pencarian jati diri. Karena itu, orangtua dianjurkan selalu mengetuk pintu sebelum memasuki kamar anak.
Menghormati ruang pribadi remaja dapat membantu membangun hubungan yang dilandasi rasa saling percaya. Di sisi lain, komunikasi yang terbuka tetap perlu dijaga agar orangtua mengetahui perkembangan dan kondisi anak.
Mengabaikan Privasi Bisa Berdampak pada Hubungan Orangtua dan Anak
Memberikan privasi kepada anak tidak berarti melepas pengawasan sepenuhnya. Namun, jika kebutuhan privasi yang sesuai dengan usianya terus diabaikan, hubungan orangtua dan anak dapat terdampak.
Psikolog menyebutkan bahwa anak yang merasa batas pribadinya tidak dihargai berisiko kehilangan kepercayaan kepada orangtua. Kondisi tersebut dapat memunculkan perasaan tidak berdaya, kecemasan, hingga mendorong anak menjadi lebih tertutup atau bahkan memberontak.
Karena itu, penghormatan terhadap privasi perlu diimbangi dengan komunikasi yang hangat dan terbuka. Dengan cara tersebut, anak tetap merasa aman, dihargai, dan nyaman untuk berbagi cerita kepada orangtuanya di setiap tahap tumbuh kembangnya.***
Editor : Syafira
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































