Memilih Garam untuk Keluarga, Apa yang Membedakan Garam Beriodium dan Garam Premium?

garam
ilustrasi garam. Foto: magnific

TIMETODAY.ID, JAKARTAGaram menjadi salah satu bahan dapur yang nyaris tak pernah absen dalam setiap masakan. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat, berbagai jenis garam pun semakin banyak beredar di pasaran, mulai dari garam beriodium, garam laut, garam kosher, hingga garam Himalaya.

Beragam klaim kesehatan yang menyertai produk-produk tersebut membuat banyak orang bertanya-tanya, apakah ada jenis garam yang benar-benar lebih sehat dibandingkan lainnya?

Pada dasarnya, hampir semua jenis garam memiliki komponen utama yang sama, yakni natrium klorida. Natrium sendiri merupakan mineral penting yang berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh, mendukung fungsi saraf, serta membantu kerja otot.

Advertisement

Namun, konsumsi natrium yang berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke. Karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan konsumsi garam tidak lebih dari 5 gram per hari atau setara kurang dari satu sendok teh.

Lalu, bagaimana perbedaan masing-masing jenis garam?

Garam Beriodium Masih Jadi Pilihan Utama

Di antara berbagai jenis garam yang tersedia, garam beriodium masih menjadi pilihan yang paling direkomendasikan bagi sebagian besar masyarakat.

Kandungan iodium di dalamnya berperan penting dalam pembentukan hormon tiroid yang mengatur berbagai fungsi tubuh. Kekurangan iodium dapat memicu gangguan kesehatan, mulai dari pembesaran kelenjar tiroid hingga hambatan pertumbuhan dan perkembangan otak pada anak.

Karena manfaatnya tersebut, fortifikasi iodium pada garam konsumsi telah lama menjadi salah satu program kesehatan masyarakat yang didukung WHO untuk mencegah gangguan akibat kekurangan iodium.

Baca Juga :  Kembang Goyang Tradisional: Camilan Klasik yang Tak Lekang oleh Waktu

Garam Laut Dinilai Lebih Alami, tetapi Tidak Lebih Rendah Natrium

Garam laut diperoleh dari proses penguapan air laut dan sering dipasarkan sebagai produk yang lebih alami.

Meski demikian, kandungan natrium pada garam laut tidak jauh berbeda dibandingkan garam meja biasa jika dihitung berdasarkan beratnya. Perbedaan utama terletak pada tekstur, ukuran kristal, rasa, serta proses produksinya.

Dengan kata lain, mengganti garam meja dengan garam laut tidak otomatis membuat asupan natrium menjadi lebih rendah.

Garam Himalaya Mengandung Mineral Tambahan

Garam Himalaya atau Himalayan pink salt dikenal karena warna merah mudanya yang khas. Warna tersebut berasal dari sejumlah mineral tambahan yang terkandung di dalamnya.

Meski sering dipromosikan sebagai pilihan yang lebih sehat, kandungan mineral tersebut sebenarnya berada dalam jumlah yang sangat kecil. Karena itu, manfaat kesehatannya dinilai tidak jauh berbeda dibandingkan jenis garam lainnya.

Sama seperti garam lain, konsumsi garam Himalaya tetap perlu dibatasi karena kandungan natriumnya tetap tinggi.

Garam Kosher Lebih Populer untuk Memasak

Garam kosher memiliki ukuran kristal yang lebih besar dibandingkan garam meja biasa. Bentuk inilah yang membuatnya banyak digunakan oleh para koki karena lebih mudah ditaburkan dan dikontrol saat memasak.

Namun hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa garam kosher lebih sehat dibandingkan jenis garam lainnya. Perbedaannya lebih banyak berkaitan dengan teknik pengolahan makanan dan preferensi rasa.

Baca Juga :  Sayur Lodeh: Hangatnya Rasa Tradisi di Setiap Suapan

Garam Rendah Natrium Bisa Jadi Alternatif

Selain garam konvensional, tersedia pula garam rendah natrium yang sebagian kandungan natriumnya digantikan dengan kalium.

Jenis garam ini dinilai dapat membantu mengurangi asupan natrium dan berpotensi menurunkan risiko tekanan darah tinggi pada sebagian orang dewasa.

Meski begitu, garam rendah natrium tidak cocok untuk semua orang. Penderita penyakit ginjal atau mereka yang mengonsumsi obat tertentu disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakannya karena kandungan kaliumnya lebih tinggi.

Bukan Jenis Garamnya, tetapi Jumlah Konsumsinya

Para ahli menilai bahwa faktor terpenting bukanlah jenis garam yang digunakan, melainkan jumlah yang dikonsumsi setiap hari.

Bagi kebanyakan orang, garam beriodium dalam jumlah yang sesuai kebutuhan masih menjadi pilihan terbaik karena memberikan manfaat tambahan berupa asupan iodium yang penting bagi tubuh.

Sementara itu, garam laut, garam Himalaya, maupun garam kosher tetap mengandung natrium dalam jumlah yang perlu diperhatikan. Meski memiliki karakteristik berbeda, ketiganya tidak otomatis lebih sehat dibandingkan garam beriodium.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan tidak bergantung pada label “alami” atau harga garam yang lebih mahal. Kebiasaan membatasi konsumsi garam sesuai anjuran justru menjadi langkah yang jauh lebih penting untuk menjaga tekanan darah dan kesehatan jantung dalam jangka panjang.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel