Membandingkan Anak dengan Saudaranya, Motivasi atau Justru Beban?

membandingkan anak
ilustrasi adik dan kakak. Foto: magnific

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di banyak keluarga, membandingkan anak dengan saudara kandung sering kali dilakukan tanpa niat buruk. Sebagian orangtua berharap perbandingan tersebut dapat menjadi dorongan agar anak lebih termotivasi untuk berkembang. Namun, bagi anak, kalimat sederhana seperti “coba lihat kakakmu” atau “adikmu saja bisa” tidak selalu diterima sebagai motivasi.

Sebaliknya, perbandingan yang terus-menerus justru dapat memengaruhi rasa percaya diri, hubungan antar saudara, hingga cara anak memandang dirinya sendiri. Berikut beberapa alasan mengapa anak cenderung sulit menerima perbandingan dengan saudara kandungnya.

1. Usaha yang Sudah Dilakukan Terasa Tidak Dihargai

Setiap anak memiliki kemampuan dan proses belajar yang berbeda. Ada yang dapat memahami sesuatu dengan cepat, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai hasil yang sama.

Advertisement

Ketika orangtua hanya berfokus pada hasil akhir dan membandingkannya dengan saudara yang dianggap lebih berhasil, anak bisa merasa seluruh usaha yang telah dilakukan tidak mendapat penghargaan. Padahal, bagi mereka, perjalanan menuju pencapaian tersebut sering kali membutuhkan kerja keras yang tidak sedikit.

Perasaan tidak dihargai inilah yang kemudian memunculkan kekecewaan dan membuat perbandingan terasa menyakitkan.

2. Setiap Anak Memiliki Kelebihan yang Berbeda

Tidak semua anak unggul di bidang yang sama. Ada yang menonjol dalam akademik, sementara yang lain memiliki bakat di bidang olahraga, seni, komunikasi, atau keterampilan sosial.

Baca Juga :  Bolehkah Kurban dengan Sistem Kredit? Ini Penjelasan MUI

Masalah muncul ketika hanya satu jenis prestasi yang dijadikan ukuran keberhasilan. Anak yang sebenarnya memiliki potensi besar di bidang lain bisa merasa dirinya selalu kalah karena kelebihannya tidak pernah dianggap sama pentingnya.

Akibatnya, perbandingan terasa tidak adil karena setiap anak dinilai dengan standar yang belum tentu sesuai dengan kemampuan masing-masing.

3. Hubungan Saudara Bisa Menjadi Kurang Harmonis

Perbandingan tidak hanya berdampak pada anak yang dibandingkan, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan antar saudara.

Ketika salah satu anak terus dijadikan contoh, saudara lainnya bisa mulai merasa tidak nyaman. Lambat laun, rasa kagum atau kedekatan yang seharusnya tumbuh dalam hubungan saudara dapat berubah menjadi kecanggungan.

Dalam beberapa kasus, anak menjadi enggan berbagi cerita atau menunjukkan pencapaiannya karena khawatir pembicaraan akan kembali berujung pada perbandingan yang sama.

4. Anak Merasa Harus Menjadi Orang Lain

Keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orangtua sering membuat anak berusaha meniru saudara yang lebih sering dipuji.

Mereka mungkin mencoba mengikuti aktivitas yang sama, menyesuaikan cara belajar, atau bahkan mengubah perilaku agar dianggap lebih baik. Padahal, tidak semua anak memiliki minat dan karakter yang sama.

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat membuat anak kesulitan mengenali jati dirinya sendiri karena terlalu sibuk memenuhi ekspektasi yang dibangun melalui perbandingan.

Baca Juga :  Kenapa Anak Sering Membantah? Ini 7 Faktor Penyebabnya

5. Perbandingan Sering Mengabaikan Kondisi yang Berbeda

Dua anak yang tumbuh dalam satu keluarga belum tentu menghadapi situasi yang sama. Ada banyak faktor yang memengaruhi perkembangan anak, mulai dari lingkungan pertemanan, kondisi emosional, pengalaman pribadi, hingga tantangan yang sedang dihadapi.

Sayangnya, perbandingan sering hanya melihat hasil yang tampak di permukaan tanpa memahami proses dan kondisi yang melatarbelakanginya.

Ketika hal ini terjadi, anak bisa merasa dinilai secara tidak adil karena perjuangan yang mereka alami tidak pernah benar-benar dipahami.

Menghargai Keunikan Setiap Anak

Setiap anak tumbuh dengan karakter, kemampuan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Apa yang berhasil dilakukan oleh satu anak belum tentu dapat dicapai dengan cara yang sama oleh saudaranya.

Karena itu, dibandingkan membandingkan satu sama lain, memberikan apresiasi terhadap perkembangan masing-masing anak dapat menjadi pendekatan yang lebih positif. Dengan merasa dihargai atas usaha dan keunikannya, anak akan lebih percaya diri untuk berkembang sesuai potensi terbaik yang dimilikinya.

Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukanlah menciptakan anak yang sama, melainkan membantu setiap anak menemukan dan mengembangkan kelebihan yang menjadi ciri khas dirinya.***

Editor : Syafira

Sumber : idntimes.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel