Begadang Karena Ingin Santai? Ahli Ungkap Dampaknya bagi Kesehatan

begadang
ilustrasi bermain ponsel sampai tengah malam. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Kesibukan yang padat sepanjang hari membuat banyak orang merasa tidak memiliki cukup waktu untuk menikmati aktivitas pribadi. Akibatnya, sebagian memilih mengorbankan waktu tidur demi mendapatkan momen untuk diri sendiri di malam hari. Fenomena ini dikenal sebagai revenge bedtime procrastination atau “begadang balas dendam”.

Istilah tersebut belakangan semakin populer, terutama di media sosial, seiring banyaknya orang yang mengaku sengaja tidur larut meski mengetahui tubuh mereka membutuhkan istirahat.

Menurut sejumlah pakar tidur, revenge bedtime procrastination merupakan kebiasaan menunda waktu tidur secara sadar tanpa alasan yang mendesak. Waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat justru dihabiskan untuk berbagai aktivitas seperti menonton film, bermain gim, membaca konten di internet, hingga berselancar di media sosial.

Advertisement

Upaya “Mengambil Kembali” Waktu Pribadi

Fenomena ini umumnya dialami oleh mereka yang memiliki jadwal harian padat. Setelah seharian bekerja, belajar, atau mengurus berbagai tanggung jawab, malam hari dianggap sebagai satu-satunya kesempatan untuk menikmati waktu pribadi.

Baca Juga :  Bahaya Olahraga Jika Kurang Tidur, Dari Cedera hingga Gangguan Jantung

Karena merasa kehilangan banyak waktu untuk diri sendiri pada siang hari, seseorang akhirnya memilih tetap terjaga lebih lama sebagai bentuk kompensasi. Dari sinilah istilah “revenge” atau balas dendam muncul, yakni keinginan untuk mengambil kembali waktu yang dirasa hilang akibat rutinitas.

Media Sosial Jadi Pemicu

Perkembangan teknologi turut memperkuat kebiasaan tersebut. Kehadiran platform media sosial membuat banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam di malam hari.

Aktivitas seperti menonton video pendek, menggulir lini masa media sosial, atau mengikuti berbagai konten hiburan sering kali membuat seseorang kehilangan kontrol terhadap waktu. Akibatnya, jam tidur terus mundur hingga larut malam.

Selain itu, penggunaan perangkat elektronik sebelum tidur juga dapat membuat otak tetap aktif sehingga proses untuk terlelap menjadi lebih sulit.

Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Mental

Meski terasa menyenangkan sebagai bentuk relaksasi setelah hari yang melelahkan, kebiasaan menunda tidur berisiko menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

Baca Juga :  Pantai Serangan Jadi Pantai Kura-Kura Bali, Siapa yang Berwenang?

Kurang tidur dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, sulit berkonsentrasi, lebih emosional, serta memengaruhi suasana hati sehari-hari. Dalam jangka panjang, kurang tidur kronis juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, gangguan metabolisme seperti diabetes, hingga penurunan sistem kekebalan tubuh.

Sejumlah ahli juga mengingatkan bahwa kebiasaan begadang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah otak dan masalah kesehatan serius lainnya.

Dianggap Bentuk Penghargaan Diri

Bagi sebagian orang, menikmati waktu malam tanpa gangguan pekerjaan atau aktivitas lain dianggap sebagai bentuk self-reward setelah menjalani hari yang melelahkan.

Namun para pakar menilai, kebiasaan tersebut sebaiknya tidak dilakukan secara terus-menerus. Menjaga keseimbangan antara kebutuhan akan waktu pribadi dan waktu istirahat tetap menjadi kunci untuk menjaga kesehatan fisik maupun mental.

Alih-alih mengorbankan jam tidur, mengatur jadwal harian dengan lebih baik dapat menjadi solusi agar kebutuhan untuk beristirahat dan menikmati waktu pribadi tetap terpenuhi secara seimbang.***

Editor : Syafira

Sumber : CNBCIndonesia.com, Beautynesia.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel