TIMETODAY.ID, JAKARTA — Gelombang panas yang semakin sering melanda Jepang kini tak hanya menjadi perhatian bagi manusia, tetapi juga satwa di penangkaran. Salah satu yang akan merasakan dampak positif dari upaya adaptasi tersebut adalah Punch, bayi monyet makaka yang sempat viral dan mencuri perhatian publik dunia.
Pemerintah Kota Ichikawa memutuskan meningkatkan fasilitas di kebun binatang tempat Punch tinggal dengan mengalokasikan dana sekitar 70 juta yen atau setara Rp7,88 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk memperbaiki area Monkey Mountain di Kebun Binatang dan Kebun Raya Kota Ichikawa agar lebih nyaman bagi kelompok monyet Jepang yang menghuni kawasan tersebut.
Sejumlah pembaruan akan dilakukan, mulai dari pemasangan area peneduh, perluasan ruang beristirahat, penambahan area tanah untuk aktivitas satwa, hingga pemasangan pendingin ruangan (AC). Fasilitas tersebut ditargetkan sudah dapat digunakan pada musim panas tahun ini.
Sebagian biaya pengembangan fasilitas berasal dari dukungan masyarakat. Hingga akhir Mei 2026, donasi publik yang terkumpul dilaporkan telah mencapai 43 juta yen atau sekitar Rp4,84 miliar.
Punch sendiri lahir pada 26 Juli 2025, bertepatan dengan gelombang panas yang melanda Jepang. Kisahnya menjadi sorotan setelah induknya meninggalkan bayi tersebut sehari setelah dilahirkan.
Menurut pihak kebun binatang, induk Punch yang baru pertama kali melahirkan mengalami proses persalinan panjang dan melelahkan di tengah suhu udara yang tinggi. Kondisi itu diduga menjadi salah satu faktor yang membuatnya tidak dapat merawat anaknya.
Sejak saat itu, dua penjaga kebun binatang mengambil alih perawatan Punch. Mereka secara bergantian memberikan susu botol dan merawatnya sepanjang hari hingga tumbuh sehat. Kisah tersebut kemudian menyebar luas dan membuat Punch dikenal oleh banyak orang, termasuk para penggemar satwa dari berbagai negara.
Fenomena cuaca panas ekstrem di Jepang memang menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Meteorologi Jepang menunjukkan bahwa tahun 2024 mencatat suhu tertinggi untuk bulan April dan Juli sejak pencatatan modern dimulai pada 1898.
Sejumlah peneliti iklim juga memperkirakan frekuensi maupun intensitas gelombang panas di Jepang akan terus meningkat pada masa mendatang. Kondisi itu mendorong berbagai pihak untuk menyesuaikan fasilitas, termasuk bagi satwa yang hidup di lingkungan penangkaran agar tetap sehat dan terhindar dari risiko cuaca ekstrem.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































