TIMETODAY.ID, JAKARTA — Umat Islam akan segera Tahun Baru Islam 1448 Hijriah Jatuh pada 17 Juni 2026, Ini Sejarah dan Keutamaan Bulan memasuki Tahun Baru Hijriah 1448. Momen pergantian tahun dalam kalender Islam ini bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga menjadi pengingat peristiwa penting dalam sejarah Islam, yakni hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Muharram yang menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriah termasuk salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Di bulan ini pula terdapat Hari Asyura yang memiliki banyak keutamaan dan nilai sejarah bagi umat Islam.
Tahun Baru Islam 1448 H Jatuh pada 17 Juni 2026
Berdasarkan kalender nasional yang telah ditetapkan pemerintah, Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah bertepatan dengan hari Rabu, 17 Juni 2026. Tanggal tersebut juga masuk dalam daftar hari libur nasional sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri.
Momen pergantian tahun ini biasanya dimanfaatkan umat Islam untuk melakukan refleksi diri, memperbanyak ibadah, dan menyusun semangat baru dalam menjalani kehidupan.
Muharram, Salah Satu Bulan yang Dimuliakan
Dalam ajaran Islam, Muharram termasuk satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah SWT. Tiga bulan lainnya adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus.” (QS. At-Taubah: 36).
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada masa lalu, bulan-bulan tersebut dihormati sehingga peperangan dan konflik dilarang dilakukan.
Hal itu juga ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Abu Bakrah:
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Sesungguhnya zaman berputar sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada 12 bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Awal Mula Kalender Hijriah
Penetapan kalender Hijriah tidak terlepas dari kebijakan Khalifah Umar bin Khattab RA. Menurut sejumlah riwayat sejarah, kebutuhan akan sistem penanggalan muncul ketika para gubernur di wilayah kekhalifahan mengalami kesulitan karena surat-surat resmi yang dikirim tidak mencantumkan tanggal.
Salah satu gubernur, Abu Musa Al-Asy’ari, kemudian mengusulkan agar dibuat sistem kalender yang baku. Usulan itu ditindaklanjuti Khalifah Umar dengan mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah menentukan titik awal penanggalan Islam.
Beberapa usulan sempat muncul, mulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, tahun diangkatnya beliau sebagai rasul, hingga tahun wafatnya. Namun akhirnya dipilih peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah sebagai awal kalender Islam atas masukan Sayyidina Utsman bin Affan dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
Hijrah dipandang sebagai titik balik penting dalam sejarah Islam karena menjadi awal berkembangnya peradaban dan pemerintahan Islam secara terbuka.
Meski peristiwa hijrah terjadi pada bulan Rabiul Awal, Khalifah Umar menetapkan Muharram sebagai bulan pertama kalender Hijriah. Keputusan tersebut diambil karena persiapan hijrah dan semangat untuk berhijrah telah dimulai sejak bulan Muharram setelah berakhirnya musim haji di Dzulhijjah.
Keutamaan Bulan Muharram
Muharram memiliki banyak keistimewaan. Dalam sejumlah kitab ulama disebutkan bahwa amal saleh yang dilakukan pada bulan ini akan mendapatkan pahala yang besar, sementara kemaksiatan juga memiliki konsekuensi yang lebih berat.
Allah SWT kembali menegaskan kemuliaan bulan-bulan haram dalam firman-Nya:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu (lauhul mahfudz). Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36).
Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keutamaan bulan haram membuat pahala ibadah dilipatgandakan, sementara dosa akibat kemaksiatan juga lebih berat dibandingkan bulan lainnya.
Hari Asyura dan Beragam Peristiwa Bersejarah
Salah satu hari paling istimewa di bulan Muharram adalah 10 Muharram atau Hari Asyura. Pada hari tersebut, umat Islam dianjurkan menjalankan puasa Asyura.
Keutamaan puasa ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan Abu Qatadah RA. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa selama setahun yang telah lalu.
Selain itu, berbagai riwayat menyebut Hari Asyura berkaitan dengan sejumlah peristiwa penting yang dialami para nabi. Di antaranya diterimanya tobat Nabi Adam AS, berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS setelah banjir besar, keselamatan Nabi Yunus AS dari perut ikan paus, kesembuhan Nabi Ayyub AS dari penyakit yang dideritanya, serta keselamatan Nabi Musa AS dan pengikutnya dari kejaran Fir’aun ketika menyeberangi Laut Merah.
Dengan berbagai keutamaan tersebut, datangnya 1 Muharram 1448 Hijriah menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta mengambil hikmah dari perjalanan sejarah Islam yang menjadi dasar lahirnya kalender Hijriah.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































