Waspada Keracunan! Kenali Batas Aman Konsumsi Makanan Kedaluwarsa

kedaluwarsa
ilustrasi makanan kedaluwarsa. Foto: Istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Menemukan makanan di rumah yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa sering menimbulkan dilema: masih aman dikonsumsi atau harus langsung dibuang? Di satu sisi, ada kekhawatiran soal keracunan makanan, tetapi di sisi lain, tidak semua produk benar-benar langsung berbahaya setelah melewati tanggal yang tertera di kemasan.

Faktanya, tanggal kedaluwarsa tidak selalu menjadi satu-satunya patokan keamanan pangan. Maknanya bisa berbeda tergantung jenis produk, cara penyimpanan, hingga kondisi fisik makanan itu sendiri.

Tanggal Kedaluwarsa Bukan Selalu Batas Mutlak

Istilah “expired date” pada kemasan umumnya menunjukkan batas kualitas terbaik yang dijamin produsen, mulai dari rasa, tekstur, hingga kandungan gizi. Namun, dalam kondisi tertentu, sebagian produk masih bisa aman dikonsumsi setelah melewati tanggal tersebut—selama tidak menunjukkan tanda kerusakan.

Advertisement

Meski begitu, risiko tetap ada, terutama pada makanan yang mudah rusak seperti susu segar, daging, seafood, dan makanan siap saji. Produk-produk ini lebih rentan menjadi media berkembangnya bakteri berbahaya jika sudah melewati masa simpannya.

Perbedaan Label “Best Before” dan “Use By”

Dalam praktiknya, ada dua jenis label yang sering ditemui pada kemasan makanan.

Label “best before” lebih merujuk pada kualitas produk. Setelah tanggal tersebut terlewati, makanan mungkin masih aman, tetapi kualitas rasa, aroma, atau teksturnya bisa menurun. Label ini biasanya terdapat pada produk seperti biskuit, sereal, atau makanan kaleng.

Baca Juga :  Pesan Tersembunyi dalam 5 Makanan Tradisional Jawa yang Penuh Makna

Berbeda dengan itu, “use by” merupakan batas keamanan konsumsi. Jika sudah melewati tanggal ini, makanan sebaiknya tidak dikonsumsi karena risiko kontaminasi bakteri meningkat, meski tampak masih normal. Label ini umum ditemukan pada produk segar dan makanan yang disimpan dingin.

Jenis Makanan Punya Batas Toleransi Berbeda

Tidak semua makanan memiliki perlakuan yang sama setelah melewati tanggal kedaluwarsa.

Makanan kering seperti beras, pasta, atau biskuit umumnya masih bisa bertahan beberapa waktu setelah tanggal “best before”, selama disimpan dalam kondisi kering dan tidak menunjukkan perubahan seperti bau apek, jamur, atau kutu.

Sementara itu, makanan kaleng relatif lebih tahan lama, tetapi harus diperhatikan kondisi kemasannya. Kaleng yang menggembung, berkarat, atau bocor menjadi tanda bahaya dan sebaiknya tidak dikonsumsi.

Untuk produk hewani seperti susu, daging, dan makanan siap saji, batas toleransinya jauh lebih ketat. Jenis ini sangat berisiko jika dikonsumsi setelah melewati tanggal kedaluwarsa, terutama jika penyimpanan tidak sesuai.

Baca Juga :  Cedera Engkel Kaki Saat Olahraga? Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Adapun makanan beku bisa bertahan lebih lama, namun kualitas tetap bisa menurun. Jika terjadi perubahan warna, bau menyengat, atau freezer burn parah, makanan sebaiknya tidak digunakan lagi.

Ciri Makanan yang Sudah Tidak Layak Konsumsi

Selain tanggal pada kemasan, kondisi fisik makanan juga menjadi indikator penting. Tanda-tanda umum makanan sudah rusak antara lain perubahan warna, bau asam atau tengik, tekstur berlendir, hingga munculnya jamur.

Kemasan yang menggembung, bocor, atau penyok parah juga perlu diwaspadai karena bisa menandakan adanya kontaminasi bakteri.

Lebih Aman Periksa Sebelum Mengonsumsi

Meskipun beberapa makanan masih mungkin aman setelah melewati tanggal tertentu, kehati-hatian tetap menjadi kunci. Pemeriksaan visual, aroma, dan kondisi penyimpanan jauh lebih penting daripada hanya berpatokan pada label tanggal.

Untuk produk berisiko tinggi seperti susu, daging, dan makanan siap saji, keputusan paling aman adalah tidak mengambil risiko jika sudah melewati batas kedaluwarsa.

Pada akhirnya, memahami batas toleransi makanan bukan hanya soal menghemat atau mengurangi limbah, tetapi juga menjaga kesehatan agar terhindar dari risiko keracunan makanan yang bisa berdampak serius.***

Editor : Syafira

Sumber : alodokter.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel