Konflik AS-Israel-Iran Hantam Ekonomi Arab, Pengangguran Diprediksi Melonjak

Konflik
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran menyebabkan kerugian hampir 200 miliar dolar AS terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara Arab. Foto: AP

TIMETODAY.ID, JAKARTA Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak hanya memicu ketegangan geopolitik, tetapi juga mengguncang fondasi ekonomi kawasan Timur Tengah. Dampaknya bahkan diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar AS.

Laporan terbaru dari United Nations Development Programme yang dirilis akhir Maret 2026 mengungkap, negara-negara Arab berpotensi kehilangan antara 120 miliar hingga 194 miliar dolar AS dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut setara dengan hampir Rp3.400 triliun, mencerminkan tekanan besar akibat terganggunya aktivitas ekonomi selama konflik berlangsung.

Studi tersebut menganalisis berbagai skenario sejak perang pecah pada 28 Februari lalu. Hasilnya menunjukkan, bahkan konflik berdurasi singkat pun tetap meninggalkan dampak sosial-ekonomi yang luas dan mendalam.

Advertisement

“Eskalasi militer yang singkat di Timur Tengah dapat menyebabkan dampak sosial-ekonomi mendalam dan luas di seluruh wilayah negara-negara Arab,” demikian pernyataan dalam laporan UNDP.

Baca Juga :  Khamenei Angkat Bicara, Kematian Bos Intelijen IRGC Picu Eskalasi Baru

Dampak lanjutan dari konflik ini juga terlihat pada sektor ketenagakerjaan. Tingkat pengangguran di kawasan diperkirakan meningkat hingga 4 persen, atau setara dengan sekitar 3,6 juta orang kehilangan pekerjaan. Selain itu, sekitar 4 juta orang lainnya terancam jatuh ke jurang kemiskinan.

Asisten Sekretaris Jenderal PBB yang memimpin biro negara-negara Arab di UNDP, Abdallah Al Dardari, menilai situasi ini sebagai peringatan serius bagi kawasan.

“Krisis ini membunyikan alarm bagi negara-negara di kawasan,” ujarnya.

Wilayah yang paling terdampak diperkirakan berada di kawasan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dan Levant, dengan potensi penurunan PDB masing-masing sekitar 5,2 persen. Kondisi ini dipicu oleh terganggunya sektor energi, perdagangan, hingga distribusi logistik.

Baca Juga :  Prabowo Minta Guru dari Selandia Baru Bantu Ajarkan Bahasa Inggris ke Pekerja Migran

Konflik yang berlangsung sekitar 40 hari sebelum gencatan senjata pada 7 April juga memicu lonjakan harga energi global. Penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz semakin memperburuk situasi, karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.

Efek berantai pun tak terhindarkan. Kenaikan harga energi berdampak langsung pada lonjakan harga pangan dan pupuk, yang paling dirasakan oleh negara-negara berkembang dengan ketergantungan tinggi terhadap impor.

Di tengah upaya meredakan konflik, laporan ini menjadi pengingat bahwa dampak perang tidak berhenti di medan tempur, melainkan menjalar hingga ke dapur rumah tangga jutaan orang di berbagai negara.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel