TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pemerintah Iran meluapkan kemarahan setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam fasilitas energi strategis di selatan negara itu. Serangan yang terjadi pada Rabu (18/3/2026) disebut menandai eskalasi baru dalam konflik kawasan.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai serangan tersebut sebagai upaya untuk menutupi kelemahan pihak lawan. Dalam pernyataannya di media sosial, ia menegaskan konflik kini memasuki fase yang lebih serius.
“Istilah mata bayar mata telah berlaku, dan tingkat konfrontasi baru telah dimulai,” ujarnya.
Ia juga memperingatkan dampak lanjutan dari serangan tersebut, termasuk meningkatnya reaksi publik di dalam negeri.
“Anda telah membangunkan Iran dari tidurnya. Badai akan datang,” tulisnya.
Serangan dilaporkan menyasar ladang gas raksasa South Pars serta wilayah Asaluyeh, yang merupakan pusat pengolahan energi penting. Akibatnya, kebakaran besar terjadi di sejumlah fasilitas, termasuk tangki penyimpanan dan area produksi.
Selain itu, ketegangan semakin meningkat setelah kabar tewasnya Menteri Intelijen Iran, Esmail Khatib. Pemerintah Iran menuding Israel berada di balik insiden tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan pengecut.
Sebagai respons, Iran menyatakan siap melancarkan serangan balasan yang dapat menyasar fasilitas energi di kawasan Teluk, termasuk di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Sementara itu, laporan media internasional menyebut Presiden Donald Trump mendukung serangan terhadap fasilitas energi tersebut sebagai sinyal keras agar Iran tidak mengganggu jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
Dengan meningkatnya intensitas serangan dan ancaman balasan, situasi di kawasan Timur Tengah kini berada dalam tekanan tinggi dan berpotensi meluas ke konflik yang lebih besar.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































