TIMETODAY.ID, JAKARTA — Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menandatangani perjanjian dagang dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, harus mengalami penundaan. Awalnya, pertemuan puncak kedua pemimpin negara itu dijadwalkan akhir Januari 2026, namun hingga akhir bulan belum ada jadwal resmi yang dikonfirmasi.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menjelaskan bahwa penundaan ini bukan berarti negosiasi menemui jalan buntu.
“Mungkin pertengahan Februari update terakhir pak Menko (Menko Perekonomian Airlangga Hartarto), mungkin minggu kedua akan ke sana,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (28/1/2026).
Kesepakatan yang akan diteken merupakan kelanjutan dari joint statement sebelumnya yang mengumumkan penurunan tarif resiprokal bagi Indonesia dari 32% menjadi 19%.
Saat ditanya apakah ada kendala yang membuat negosiasi tersendat, Prasetyo memilih tidak menjabarkan detailnya.
“Ada beberapa yang kita cari titik temunya, kita terus berusaha negosiasi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa secara substansial, negosiasi tidak menghadapi masalah besar.
“Insyaallah secara substansial nggak ada masalah. Mohon doanya jadi membuat banyak manfaat untuk masyarakat Indonesia,” tutup Prasetyo.
Meski tertunda, perjanjian dagang ini tetap dinantikan karena dinilai memiliki potensi besar dalam membuka peluang ekspor Indonesia sekaligus meningkatkan investasi dan kerja sama ekonomi bilateral dengan Amerika Serikat.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































