TIMETODAY.ID, BOGOR – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Rabu pagi (23/4/2025).
Pelemahan ini terjadi usai Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan memberhentikan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, meski sebelumnya kerap melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan suku bunga bank sentral tersebut.
Mengacu pada data Bloomberg pukul 09.37 WIB, rupiah tercatat turun 25 poin atau 0,15 persen ke level Rp 16.884 per dolar AS di pasar spot.
Sehari sebelumnya, pada penutupan perdagangan Selasa (22/4.2025), mata uang Garuda juga melemah sebesar 53 poin atau 0,32 persen ke posisi Rp 16.859 per dolar.
Sementara itu, indeks dolar AS menunjukkan tren menguat dengan kenaikan 0,16 poin ke level 99,08. Penguatan dolar turut didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, yang naik 9 basis poin menjadi 4,34 persen.
Mengutip laporan Reuters, penguatan dolar AS juga terlihat di awal perdagangan Rabu waktu Asia terhadap sejumlah mata uang utama.
Hal ini terjadi setelah Trump memberikan pernyataan yang menenangkan pasar terkait keberlanjutan posisi Powell di The Fed.
“Saya tidak berniat memecatnya. Saya hanya ingin dia lebih cepat dalam menurunkan suku bunga,” ujar Trump dari Gedung Putih, Selasa malam waktu setempat.
Pernyataan tersebut muncul setelah sebelumnya pasar global sempat terguncang akibat nada keras Trump terhadap Powell selama libur Paskah.
Trump menilai Ketua The Fed terlalu lamban dalam merespons perlambatan ekonomi dengan pemangkasan suku bunga, yang memicu kekhawatiran soal independensi bank sentral.
Akibat sentimen ini, tak hanya rupiah yang tertekan. Sejumlah mata uang Asia lain juga turut melemah.
Yen Jepang turun 0,25 persen menjadi 141 yen per dolar AS, won Korea melemah hingga 0,40 persen ke level 1.430 won per dolar, dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,46 persen.
Editor : B. Supriyadi
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































