Evakuasi Korban Pertama Pesawat ATR di Bulu Saraung Penuh Risiko, Tim SAR Bermalam di Lereng Tebing

pesawat ATR
Medan ekstrem, hujan deras, dan jurang ratusan meter mewarnai proses evakuasi korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulu Saraung, Sulawesi Selatan. (dok. Basarnas)

TIMETODAY.ID, JAKARTA – Proses evakuasi korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar di kawasan Pegunungan Bulu Saraung, Kabupaten Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, berlangsung dalam kondisi ekstrem dan penuh risiko. Tim SAR gabungan harus menggunakan teknik rappeling di jurang dengan kedalaman mencapai ratusan meter untuk menjangkau lokasi korban.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menjelaskan bahwa tim menurunkan tali sekitar 100 meter ke dasar jurang yang berada tidak jauh dari titik awal pesawat menabrak punggungan.

“Proses turun menggunakan tali dan alat descender memakan waktu sekitar dua hingga tiga menit per orang,” ujar Arif.

Advertisement

Sebanyak 10 personel dari Basarnas Makassar, Kopasgat TNI AU, BPBD Kota Makassar, Brimob, Pramuka Peduli, dan Jasdam diturunkan ke dasar jurang. Setibanya di bawah, tim melakukan penyisiran dengan berjalan mengikuti jalur air sambil menelusuri serpihan pesawat sejauh sekitar 200 meter.

Baca Juga :  Gunung Dukono Meletus, 20 Pendaki Termasuk WNA Singapura Dilaporkan Terjebak

Korban Ditemukan Tersangkut di Dahan Pohon

Korban pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan pada pukul 13.43 WITA dalam kondisi tersangkut di dahan pohon. Proses pengemasan jenazah memakan waktu hampir satu jam karena posisi korban berada di kemiringan sekitar 30 derajat dan tepat di bibir tebing.

Upaya evakuasi sempat dilakukan ke arah atas sejauh kurang lebih 60 meter. Namun, keterbatasan tenaga, peralatan, serta hujan deras yang terus mengguyur lokasi membuat tim melakukan evaluasi.

“Setelah diskusi, kami memutuskan mengubah arah evakuasi ke bawah menuju kampung terdekat karena medan dinilai lebih memungkinkan,” ungkap Rusmadi, salah satu rescuer Basarnas Makassar yang terlibat langsung.

Bermalam di Lereng Tebing

Selama proses evakuasi yang berlangsung sekitar tiga jam ke arah bawah, cuaca semakin memburuk. Hujan deras, kabut tebal, dan suhu dingin membuat pergerakan tim sangat terbatas. Tim akhirnya memutuskan bermalam di lereng tebing dengan kondisi tanah berbatu yang labil dan rawan longsor.

Baca Juga :  Resep Pallubasa Makassar, Sup Gurih dan Aromatik Mudah Dibuat

“Kami harus bertahan semalaman bersama jenazah. Kondisinya benar-benar tidak bersahabat,” ujar Rusmadi.

Evakuasi Dilanjutkan dengan Sistem Estafet

Pada Senin siang (19/1/2026), tim pertama melakukan estafet penyerahan jenazah kepada tim berikutnya karena kondisi fisik dan keselamatan personel tidak lagi memungkinkan.

Evakuasi dilanjutkan oleh tim kedua menuju area persawahan Kampung Lampeso dengan waktu tempuh sekitar 20 jam. Selanjutnya, tim ketiga membawa jenazah melalui jalur setapak sejauh kurang lebih 15 kilometer melewati punggungan dan sungai, sebelum berjalan kaki lima kilometer menuju jalan poros Kecamatan Cenrana.

Jenazah akhirnya berhasil dievakuasi menggunakan Helikopter AS 365 N3 Dauphin pada Rabu (21/1/2026) pukul 08.15 WITA dan dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk diserahkan kepada tim DVI. (MG4)

Editor : Salma

Sumber : idntimes.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel