Ramadan Selalu Maju di Kalender Masehi, Ini Dasar Perhitungannya

Ramadan
Ilustrasi puasa Ramadan. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Setiap memasuki awal tahun, pertanyaan tentang kapan dimulainya puasa Ramadan kembali mencuat. Jika diperhatikan, awal Ramadan selalu bergeser dan tampak semakin maju dalam kalender Masehi. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan konsekuensi dari sistem penanggalan yang digunakan dalam Islam, yakni kalender Hijriah.

Di Indonesia, penentuan awal puasa Ramadan juga tidak selalu seragam. Pemerintah, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan pendekatan yang berbeda dalam menetapkan awal bulan Hijriah. Perbedaan metode inilah yang kerap membuat awal puasa di Tanah Air berselisih satu hari.

Mengapa Puasa Ramadan Selalu Maju?

Ramadan ditentukan berdasarkan kalender Hijriah yang mengacu pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Sistem ini berbeda dengan kalender Masehi yang berpatokan pada peredaran Matahari.

Advertisement

Satu siklus Bulan, dari bulan baru ke bulan baru berikutnya, berlangsung sekitar 29,5 hari. Dalam setahun terdapat 12 bulan Hijriah, sehingga total hari dalam kalender Hijriah hanya sekitar 354 hari. Jumlah ini lebih pendek dibandingkan kalender Masehi yang memiliki 365 hari atau 366 hari pada tahun kabisat.

Perbedaan sekitar 10–11 hari setiap tahun inilah yang membuat Ramadan selalu datang lebih awal jika dilihat dari kalender Masehi. Akibatnya, puasa bisa terjadi di berbagai musim, mulai dari musim hujan hingga musim panas, bahkan musim dingin di negara-negara subtropis.

Hal ini sejalan dengan penjelasan dalam buku Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriah karya Ida Fitri Shohibah, yang menyebutkan bahwa kalender Hijriah tidak mengikuti peredaran Matahari sehingga hari-hari besar Islam dapat terjadi pada musim yang berbeda-beda.

Perbedaan Metode Penentuan Awal Ramadan

Perbedaan awal puasa Ramadan di Indonesia dipengaruhi oleh metode yang digunakan masing-masing pihak. Pemerintah Indonesia menetapkan awal Ramadan melalui dua pendekatan, yakni rukyatul hilal (pengamatan langsung bulan sabit) dan hisab (perhitungan astronomi).

Baca Juga :  Marathon Lancar Tanpa Kram, Kenali Gerakan Penyebabnya

Dalam praktiknya, pemerintah juga mengacu pada kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Berdasarkan kriteria ini, hilal dinyatakan terlihat apabila memiliki ketinggian minimal 3 derajat dengan elongasi atau jarak sudut bulan dan matahari minimal 6,4 derajat.

Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode hisab imkanur rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU), yakni perpaduan antara perhitungan astronomi dan pengamatan hilal di berbagai titik yang telah ditetapkan.

Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan dengan metode hisab hakiki wujudul hilal. Dalam metode ini, awal bulan baru dianggap sah apabila bulan sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia, meskipun ketinggiannya sangat tipis. Jika syarat tersebut terpenuhi, maka keesokan harinya langsung ditetapkan sebagai 1 Ramadan.

Mulai tahun 1447 Hijriah, Muhammadiyah juga menerapkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang menggunakan prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia, dengan menganggap Bumi sebagai satu kesatuan wilayah waktu (satu matlak).

Adapun di sejumlah negara Arab, penetapan awal Ramadan umumnya dilakukan setelah pengamatan hilal pada tanggal 29 Syakban.

Perkiraan Awal Puasa Ramadan 2026

Berdasarkan kalender Hijriah yang diterbitkan Kementerian Agama, awal Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Namun, tanggal tersebut masih bersifat prediksi dan belum final.

Kepastian awal puasa akan ditentukan melalui sidang isbat yang digelar pada 29 Syakban. Dalam sidang tersebut, pemerintah mempertimbangkan hasil rukyatul hilal dan perhitungan astronomi. Metode ini juga sejalan dengan pendekatan yang digunakan NU.

Di sisi lain, Muhammadiyah telah menetapkan lebih awal bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Muhammadiyah juga menetapkan Idul Fitri 1447 Hijriah pada 20 Maret 2026.

Baca Juga :  Mulut Kering saat Puasa Picu Bau Tak Sedap, Begini Cara Mengatasinya

Perbedaan ini terjadi karena perbedaan metode penentuan kalender Hijriah. Masyarakat pun diimbau menunggu pengumuman resmi dari masing-masing pihak sebelum memulai ibadah puasa.

Hitung Mundur Menuju Ramadan

Meski penetapan resmi pemerintah belum dilakukan, umat Islam sudah bisa mulai menghitung mundur menuju Ramadan. Jika mengacu pada ketetapan Muhammadiyah, sejak Rabu, 7 Januari 2026, puasa tinggal 41 hari lagi.

Sementara itu, jika menggunakan prediksi kalender Kementerian Agama yang menetapkan awal Ramadan pada 19 Februari 2026, maka puasa diperkirakan tinggal 42 hari lagi.

Dengan perhitungan tersebut, masyarakat dapat mulai mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual, sembari menunggu hasil sidang isbat sebagai penetapan resmi pemerintah.

Ramadan Dua Kali dalam Setahun pada 2030

Fenomena menarik juga akan terjadi pada tahun 2030. Umat Islam diperkirakan akan menjalani ibadah puasa Ramadan sebanyak dua kali dalam satu tahun Masehi. Hal ini disebabkan pergeseran kalender Hijriah yang semakin maju setiap tahunnya.

Berdasarkan kalender Hijriah dari Islamic Hijri Calendar, Ramadan 1451 Hijriah diperkirakan jatuh pada Januari 2030, sementara Ramadan 1452 Hijriah akan berlangsung pada Desember 2030. Dengan demikian, puasa Ramadan terjadi dua kali dalam satu tahun Masehi.

Meski demikian, Idul Fitri hanya akan dirayakan satu kali pada tahun tersebut, karena Idul Fitri 1452 Hijriah baru jatuh pada Januari 2031.

Anggota Federasi Ilmu Antariksa dan Astronomi Arab, Ibrahim Al Jarwan, menjelaskan bahwa kalender Hijriah maju sekitar 11 hari setiap tahun dibandingkan kalender Masehi. Dalam satu tahun Hijriah terdapat 354 hari, sedangkan kalender Masehi memiliki 365 hari.

Menurutnya, fenomena Ramadan dua kali dalam satu tahun Masehi akan berulang setiap sekitar 33 tahun. Kejadian serupa pernah terjadi pada 1997 dan diperkirakan akan kembali terulang pada 2030 dan 2063.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel