Lee Jae Myung Ingin Korsel dan Korut Berdamai: “Keamanan Sejati Bukan Menang Perang”

Lee Jae Myung
Lee Jae Myung (Anadolu Agency)
TIMETODAY.ID — Di tengah riuh kemenangan politik, Presiden baru Korea Selatan, Lee Jae Myung, melangkah ke podium dengan pesan yang tak terduga namun penuh harapan. Alih-alih menunjukkan sikap keras terhadap Korea Utara yang selama ini menjadi musuh tradisional, Lee justru mengulurkan tangan: ia ingin membangun kembali jembatan yang telah lama runtuh.
Dalam pidato kemenangannya yang disiarkan luas dan disambut dunia dengan penuh perhatian, Lee menyampaikan niatnya untuk membuka dialog dengan Korea Utara. Ia menegaskan, pertahanan nasional tetap penting, namun perdamaian sejati bukanlah tentang menang dalam perang—melainkan mencegah keinginan untuk berperang itu sendiri.
“Sembari menguatkan kemampuan pertahanan nasional untuk menangkal Korea Utara, saya akan mendorong dialog dan komunikasi antar-Korea dengan keyakinan teguh bahwa keamanan sejati tak terletak pada memenangkan perang, tapi mencegah keinginan untuk bertikai,” ujar Lee seperti dikutip Yonhap.
Lee tampaknya ingin memutar balik arah kebijakan yang selama ini kaku di bawah pemerintahan pendahulunya, Yoon Suk Yeol. Di bawah Yoon, hubungan dua Korea menegang. Latihan militer gabungan Korsel-AS digencarkan, dan pakta militer yang pernah dirancang untuk mengurangi ketegangan malah ditangguhkan, bahkan dihentikan total pada pertengahan 2024.
Ketegangan itu makin memanas ketika Korea Utara meluncurkan satelit mata-mata dan mengirimkan balon-balon sampah melintasi perbatasan. Pyongyang kemudian menetapkan Korsel sebagai “musuh utama”, dan menghapus agenda penyatuan dari kebijakan nasional mereka. Dunia pun menyaksikan Korea Utara makin erat dengan Rusia, lengkap dengan kerja sama militer dan pengembangan senjata nuklir.
Namun Lee tidak gentar. Ia memimpikan masa depan di mana dua Korea bisa hidup berdampingan dan bekerja sama.
“Dua negara Korea harus hidup berdampingan dan bekerja sama demi menemukan jalan untuk berbagi kesejahteraan. Saya akan bekerja keras untuk menstabilkan situasi di Semenanjung (Korea) untuk meminimalkan risiko bagi Korea serta menjamin keamanan nasional tidak memperburuk kehidupan rakyat,” lanjutnya.
Langkah Lee mengingatkan banyak pihak pada pendekatan progresif Moon Jae In, presiden Korsel 2017–2022, yang berhasil duduk bersama Kim Jong Un dalam tiga pertemuan bersejarah. Saat itu, mereka sempat menandatangani Perjanjian Militer Komprehensif, menyuntikkan harapan bagi perdamaian di wilayah yang lama didera konflik.
Meski demikian, harapan Lee tak luput dari skeptisisme. Analis dari Institut Korea untuk Unifikasi Nasional, Hong Min, menilai bahwa peluang untuk membuka kembali dialog sangat kecil—terutama jika menyangkut isu denuklirisasi.
“Meskipun tidak persis sama dengan pemerintahan Moon, namun Lee tampaknya akan mengambil langkah-langkah untuk mendorong dialog antar-Korea dan meredakan ketegangan,” ujar Hong.
Sebagai awal, Lee disebut akan mengambil langkah-langkah simbolis namun penting, seperti melarang selebaran anti-Korut, mengembalikan sebagian isi pakta militer 2018, serta mengirim sinyal damai pada peringatan Hari Kemerdekaan Nasional, 15 Agustus mendatang.
Perjalanan menuju perdamaian mungkin masih panjang, penuh duri, dan berliku. Namun satu hal pasti: Lee Jae Myung telah memulai langkah pertamanya—dengan harapan bahwa sejarah dua Korea tak harus selalu ditulis dengan roket dan senjata, melainkan dengan kata-kata dan niat baik.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Sannakji, Santapan Ekstrem Korea yang Unik dan Penuh Risiko

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel