TIMETODAY.ID — Di tengah toko mainan yang biasanya dipenuhi tawa anak-anak dan keluarga, sebuah pemandangan tak biasa muncul di Pop Mart, London, beberapa pekan terakhir: antrean panjang sejak dini hari, kerumunan yang gelisah, hingga adu mulut dan perkelahian demi satu hal—boneka monster kecil bernama Labubu.
Labubu, karakter monster bermata bulat dan senyum menyeringai hasil ciptaan seniman Hong Kong Kasing Lung, awalnya hanyalah bagian dari koleksi seni. Namun kolaborasinya dengan merek Pop Mart serta eksposur viral dari selebritas seperti Rihanna dan Dua Lipa, menjadikannya bukan hanya mainan, melainkan objek status dan simbol tren fesyen baru.
Dari Koleksi Imut ke Objek Perebutan
Dengan harga mulai dari £13,50 hingga £50, Labubu mungkin tampak terjangkau. Namun kelangkaan dan sistem penjualan misterius—di mana boneka dijual dalam kemasan tertutup sehingga pembeli tak tahu karakter mana yang mereka dapat—telah menciptakan pasar sekunder yang liar. Beberapa edisi langka kini dijual seharga lebih dari £150 di situs seperti eBay dan Vinted.
“Ketika saya tiba pukul 3 pagi, sudah banyak orang mengantre. Beberapa bahkan menginap di depan toko,” ujar Victoria Calvert, penggemar Labubu, kepada BBC. “Suasananya tidak lagi menyenangkan. Orang-orang saling berteriak, dan bahkan ada perkelahian.”
Rasa takut yang muncul di toko mainan itulah yang akhirnya membuat Pop Mart menarik seluruh penjualan Labubu dari 16 tokonya di Inggris—setidaknya hingga Juni 2025 mendatang.
Penjual Kembali & Dunia Konsumerisme
Yang menarik, bukan hanya kelangkaan yang jadi isu, melainkan juga keberadaan “reseller”—orang-orang yang membeli Labubu untuk dijual kembali dengan harga melambung.
“Boneka ini harusnya untuk kami, penggemar sejati. Bukan jadi alat untuk mencari untung,” keluh Jaydee, seorang TikToker yang aktif membuat konten unboxing Labubu. Ia menyebut, para reseller telah merusak ekosistem tren yang sebelumnya penuh semangat komunitas.
Kemarahan juga meluap di media sosial. Komentar di akun Instagram Pop Mart dipenuhi protes: “Salah kalian karena tidak memberikan stok secara merata!” “Saya kecewa. Saya ingin beli untuk koleksi pribadi, tapi tidak bisa bersaing dengan reseller.”
Mainan, Emosi, dan Strategi Brand
Kondisi ini menarik perhatian para analis ritel. Susannah Streeter dari Hargreaves Lansdown menyebut bahwa Pop Mart sedang bermain di garis tipis antara eksklusivitas dan kekacauan.
“Jika pengalaman pelanggan mulai identik dengan kericuhan, maka daya tarik brand yang seharusnya menyenangkan justru bisa berbalik jadi bumerang,” jelasnya.
Namun di balik semua itu, strategi kelangkaan tetap jadi senjata. Sarah Johnson, pendiri konsultan Flourish Retail, mengatakan bahwa “kelangkaan adalah mata uang utama dalam dunia koleksi.” Ketika sesuatu sulit didapat, nilainya meningkat—baik secara ekonomi maupun emosional.
Akankah Labubu Bangkit Kembali?
Pop Mart kini menjanjikan sistem distribusi yang “lebih adil” dan “lebih terstruktur” saat penjualan kembali dibuka bulan Juni nanti. Namun pertanyaannya: mampukah mereka mengembalikan Labubu ke pangkuan para penggemar sejati, tanpa lagi memicu kekacauan?
Atau justru, seperti banyak produk hype lainnya, kelangkaan, keributan, dan pasar gelap adalah bagian dari daya pikat Labubu itu sendiri?
Yang jelas, boneka kecil ini telah melampaui bentuk fisiknya—ia kini adalah cermin dari hasrat koleksi, kegilaan konsumerisme, dan dinamika sosial media yang membentuk budaya pop hari ini.***