Rupiah Melemah Sepekan, Nyaris Tembus Rp16.900 per Dolar AS

Rupiah
Ilustrasi uang rupiah. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan sepanjang perdagangan sepekan terakhir. Mata uang Garuda ditutup melemah dan hampir menembus level Rp16.900 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan ini.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot terkoreksi 0,18 persen secara harian dan ditutup di level Rp16.896 per dolar AS. Secara mingguan, rupiah tercatat melemah 0,58 persen dibandingkan posisi Kamis (8/1/2026) yang masih berada di kisaran Rp16.798 per dolar AS.

Tekanan serupa juga terlihat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Rupiah melemah 0,05 persen secara harian ke posisi Rp16.880 per dolar AS, atau terkoreksi 0,47 persen dalam sepekan.

Advertisement

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari sentimen global, khususnya meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga :  Kurs Dolar Hari Ini 2 Maret 2026 Menguat ke Rp16.838

Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait jaminan keamanan bagi demonstran di Iran dinilai menurunkan kekhawatiran pasar akan potensi konflik militer dalam waktu dekat.

Selain itu, dinamika hubungan antara AS dan Venezuela juga turut memengaruhi pergerakan pasar valuta asing.

“AS mengisyaratkan pembicaraan positif dengan Venezuela, setelah Presiden AS mengatakan dia berbicara pada hari Kamis sebelumnya dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, dan menggambarkan panggilan tersebut sebagai sangat positif,” kata Ibrahim dalam risetnya.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti tekanan yang kini dirasakan kelas menengah Indonesia. Kelompok ini selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, namun mulai bergeser ke kategori rentan sehingga membutuhkan tambahan stimulus untuk menjaga daya beli di tengah ketidakpastian global.

Dengan mempertimbangkan faktor teknikal dan fundamental, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.840 hingga Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.

Baca Juga :  Bea Cukai Jatuhkan Sanksi ke 66 Pegawai, 10 Diberhentikan Sepanjang 2025

Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh aksi jual investor asing di pasar keuangan domestik. Bank Indonesia mencatat aliran modal keluar (capital outflow) mencapai Rp7,71 triliun sepanjang periode 12–14 Januari 2026.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, arus keluar tersebut terutama berasal dari pasar Surat Berharga Negara (SBN).

“Selama tahun 2026, berdasarkan data setelmen sampai dengan 14 Januari 2026, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp5,33 triliun di SRBI dan Rp6,16 triliun di pasar saham, serta jual neto sebesar Rp9,91 triliun di pasar SBN,” ucap Ramdan.

Secara rinci, aliran modal asing pekan ini terdiri atas jual neto Rp8,15 triliun di pasar SBN dan Rp2,64 triliun di SRBI, yang sebagian tertahan oleh beli neto asing di pasar saham sebesar Rp3,08 triliun.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel