TIMETODAY.ID, JAKARTA – Mobil listrik pertama buatan Xiaomi, SU7, menghadapi sejumlah masalah setelah meraih penjualan awal yang mengesankan di pasar otomotif Tiongkok.
Sejak diluncurkan, SU7 mencatat penjualan tinggi dan sempat melampaui Tesla Model 3. Namun, berbagai isu kini mulai mencuat.
Salah satu insiden yang menarik perhatian publik terjadi pada akhir Maret 2025, ketika tiga mahasiswa meninggal dalam kecelakaan saat mengendarai Xiaomi SU7.
Investigasi menunjukkan bahwa pengemudi mengambil alih kendali di detik-detik terakhir sebelum kecelakaan.
Meski demikian, sistem bantuan pengemudi milik Xiaomi tetap menjadi sorotan dan menuai kritik.
Di sisi lain, Xiaomi juga menghadapi keluhan terkait kap mesin karbon fiber opsional untuk varian SU7 Ultra.
Komponen tersebut dinilai tidak memberikan peningkatan signifikan pada aerodinamika atau sistem pendingin baterai.
Ratusan pemilik kendaraan dilaporkan mengajukan gugatan terhadap Xiaomi setelah perusahaan menolak memberikan kompensasi lebih lanjut selain permintaan maaf.
Laporan kuartal pertama 2025 dari China Automobile Quality Network turut memperburuk situasi.
Dalam survei tersebut, Xiaomi SU7 menempati posisi terbawah dengan 239 poin penalti, menunjukkan tingkat keluhan pelanggan dan potensi cacat yang tinggi.
Selain isu teknis, Xiaomi juga disebut menghadapi tantangan dalam bentuk kampanye “black PR” di pasar kendaraan listrik Tiongkok, yang melibatkan penggunaan influencer atau blogger untuk merusak reputasi pesaing.
Meski sebelumnya dinobatkan sebagai kendaraan teraman di Tiongkok oleh C-NCAP, rangkaian masalah ini menjadi ujian besar bagi Xiaomi dalam mempertahankan citra dan kepercayaan konsumen di pasar kendaraan listrik yang sangat kompetitif.
Editor : B. Supriyadi
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































