5 Kebiasaan Sederhana Agar Anak Tumbuh Lebih Peduli

anak
ilustrasi anak Peduli pada temannya . Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pernah melihat seorang anak terjatuh di sekolah, tetapi teman-temannya hanya memperhatikan tanpa berusaha membantu? Kondisi seperti ini merupakan salah satu contoh bystander effect, yaitu situasi ketika seseorang memilih diam karena merasa orang lain akan lebih dulu mengambil tindakan.

Fenomena tersebut ternyata tidak hanya terjadi pada orang dewasa. Anak-anak juga bisa mengalaminya, terutama ketika berada dalam kelompok. Mereka mungkin menyadari ada teman yang membutuhkan bantuan, tetapi bingung harus bertindak seperti apa atau takut menjadi satu-satunya orang yang bergerak.

Padahal, kepedulian dan keberanian untuk membantu dapat dibentuk sejak kecil. Anak tidak harus selalu menjadi penyelamat dalam setiap situasi, tetapi mereka perlu memahami kapan harus bertindak, kapan meminta bantuan orang dewasa, serta bagaimana menunjukkan empati dengan cara yang tepat.

Advertisement

Berikut beberapa kebiasaan yang bisa mulai diajarkan kepada anak.

1. Ajarkan anak untuk berani bertanya ketika melihat orang lain kesulitan

Banyak anak sebenarnya mampu mengenali ketika temannya sedang mengalami masalah. Mereka bisa melihat temannya menangis, terjatuh, atau kesulitan melakukan sesuatu. Namun, karena tidak tahu harus berbuat apa, sebagian memilih diam.

Orang tua dapat mengajarkan langkah sederhana, seperti membiasakan anak bertanya, “Kamu tidak apa-apa?” atau “Ada yang bisa aku bantu?”

Meski terlihat sederhana, pertanyaan tersebut menjadi bentuk perhatian yang penting. Anak belajar bahwa menunjukkan kepedulian tidak selalu harus melalui tindakan besar. Terkadang, keberanian untuk mendekati dan menanyakan kondisi seseorang sudah menjadi awal dari sebuah bantuan.

Baca Juga :  Bukan Sembarang Pisang, Ini 7 Pisang Terbaik Versi TasteAtlas

2. Tanamkan pemahaman bahwa meminta bantuan juga termasuk tindakan peduli

Sebagian anak menganggap membantu berarti harus menyelesaikan masalah sendiri. Padahal, ada kondisi tertentu yang membutuhkan bantuan dari orang dewasa.

Misalnya ketika melihat teman mengalami luka, menjadi korban perundungan, atau berada dalam situasi berbahaya. Dalam kondisi seperti itu, memanggil guru atau orang tua justru merupakan tindakan yang tepat.

Jelaskan kepada anak bahwa meminta bantuan bukan berarti tidak mampu menolong. Sebaliknya, hal tersebut menunjukkan bahwa mereka memahami batas kemampuan dan ingin memastikan masalah ditangani dengan cara yang aman.

3. Ajak anak berdiskusi melalui cerita atau kejadian sehari-hari

Anak biasanya lebih mudah memahami nilai kepedulian melalui contoh yang dekat dengan kehidupan mereka.

Orang tua bisa memanfaatkan cerita dari buku, film, atau kejadian yang terjadi di lingkungan sekitar sebagai bahan diskusi. Alih-alih langsung memberikan penilaian, ajak anak berpikir dengan pertanyaan seperti:

“Kalau kamu berada di posisi itu, apa yang akan kamu lakukan?”

Cara ini membantu anak belajar memahami situasi, mempertimbangkan pilihan, dan melatih keberanian mengambil keputusan sebelum menghadapi kejadian serupa.

4. Berikan apresiasi ketika anak menunjukkan sikap peduli

Tindakan baik yang dilakukan anak tidak selalu berbentuk prestasi besar. Hal sederhana seperti membantu teman membawa barang, menemani teman yang sedih, meminjamkan alat tulis, atau melapor kepada guru ketika melihat masalah juga patut dihargai.

Baca Juga :  7 Kebiasaan Keuangan yang Bikin Tabungan Mandek, Segera Hindari!

Ketika orang tua memberikan apresiasi terhadap sikap tersebut, anak akan memahami bahwa kepedulian adalah nilai yang penting.

Lambat laun, anak akan terbiasa membantu bukan karena mendapat pujian, tetapi karena memahami bahwa memperhatikan orang lain merupakan bagian dari perilaku baik.

5. Ajarkan anak untuk tidak selalu menunggu orang lain bergerak

Anak sering kali mengikuti perilaku kelompok. Ketika semua orang memilih diam, mereka pun cenderung melakukan hal yang sama karena merasa itulah respons yang benar.

Di sinilah pentingnya mengenalkan konsep bahwa satu orang bisa menjadi awal perubahan. Selama situasinya aman, anak dapat belajar menjadi orang pertama yang bertanya, menawarkan bantuan, atau memanggil orang yang lebih dewasa.

Keberanian kecil tersebut dapat memengaruhi orang lain untuk ikut bertindak. Ketika satu anak mulai peduli, teman-temannya biasanya akan lebih mudah terdorong melakukan hal yang sama.

Membangun Kepedulian Sejak Dini

Mengajarkan anak agar tidak terjebak dalam bystander effect bukan berarti meminta mereka ikut campur dalam semua persoalan. Hal yang lebih penting adalah membangun kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan mengajarkan cara merespons situasi dengan bijak.

Anak yang terbiasa peduli sejak kecil akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih peka, berani mengambil tindakan, serta memahami bahwa bantuan sekecil apa pun dapat memberikan dampak besar bagi orang lain.***

Editor : Syafira

Sumber : idntimes.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel