TIMETODAY.ID, JAKARTA — Gunung Fuji menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang berkunjung ke Jepang. Dengan jalur pendakian yang tertata rapi, gunung setinggi 3.776 meter di atas permukaan laut ini kerap dianggap ramah bagi pendaki pemula. Meski demikian, pendakian ke puncak Gunung Fuji tetap memiliki risiko yang tidak boleh dianggap sepele.
Perhatian terhadap aspek keselamatan kembali mencuat setelah dua pendaki dilaporkan meninggal dunia pada musim pendakian Gunung Fuji 2026. Insiden tersebut menjadi pengingat bahwa medan yang relatif mudah bukan berarti bebas dari bahaya.
Ketinggian tetap menjadi tantangan utama
Berbeda dengan gunung yang memerlukan kemampuan panjat tebing atau peralatan khusus, jalur menuju puncak Gunung Fuji memang lebih mudah diakses. Namun, faktor ketinggian tetap menjadi tantangan serius.
Semakin tinggi lokasi pendakian, kadar oksigen di udara semakin berkurang sehingga tubuh harus bekerja lebih keras. Kondisi ini dapat memicu Acute Mountain Sickness (AMS) atau penyakit akibat ketinggian yang ditandai dengan gejala seperti sakit kepala, mual, sesak napas, hingga penurunan kesadaran apabila tidak segera ditangani.
Cuaca bisa berubah dalam waktu singkat
Selain faktor ketinggian, perubahan cuaca menjadi tantangan lain yang harus diwaspadai para pendaki.
Langit yang awalnya cerah dapat berubah menjadi berkabut, hujan, bahkan disertai angin kencang hanya dalam hitungan jam. Kondisi tersebut dapat membuat jalur pendakian licin, mengurangi jarak pandang, serta meningkatkan risiko hipotermia, terutama bagi pendaki yang tidak menggunakan perlengkapan yang sesuai.
Meski musim pendakian berlangsung saat musim panas, suhu di area puncak tetap dapat berada di bawah 10 derajat Celsius dengan embusan angin yang membuat udara terasa jauh lebih dingin.
Dua insiden kematian jadi pengingat penting
Musim pendakian 2026 diwarnai dua peristiwa yang menyita perhatian publik.
Korban pertama merupakan pria berusia 65 tahun asal Jepang yang meninggal setelah terjatuh saat mendaki melalui Jalur Fujinomiya. Beberapa hari kemudian, wisatawan asal Swiss berusia 58 tahun juga meninggal setelah kehilangan kesadaran ketika beristirahat di sebuah pondok gunung. Meski sempat mendapat pertolongan pertama dan dievakuasi ke rumah sakit, nyawanya tidak tertolong.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa risiko pendakian tidak hanya berasal dari kondisi medan, tetapi juga dari faktor kesehatan yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Pendaki diminta tidak memaksakan diri
Menyusul insiden tersebut, otoritas di Jepang kembali mengingatkan para pendaki agar selalu mengutamakan keselamatan.
Pendaki disarankan segera menghentikan perjalanan apabila mulai merasakan gejala kelelahan, sesak napas, pusing, atau tanda-tanda penyakit akibat ketinggian. Selain itu, memantau prakiraan cuaca dan menghindari pendakian seorang diri juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko.
Persiapan menjadi kunci keselamatan
Pendakian ke Gunung Fuji tetap dapat dilakukan dengan aman apabila dipersiapkan secara matang. Pendaki dianjurkan meningkatkan kebugaran sebelum keberangkatan, menggunakan pakaian berlapis yang tahan angin, mengenakan sepatu hiking yang sesuai, serta membawa air minum, makanan berenergi, senter kepala, dan perlengkapan darurat.
Istirahat yang cukup sebelum mendaki serta memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dengan ketinggian juga dapat membantu menekan risiko gangguan kesehatan selama perjalanan.
Meski dikenal sebagai salah satu gunung yang relatif ramah bagi pendaki pemula, Gunung Fuji tetap memiliki tantangan yang tidak boleh diremehkan. Dengan persiapan yang baik, kondisi fisik yang prima, serta kesediaan untuk menghentikan pendakian saat situasi tidak memungkinkan, pengalaman mendaki gunung tertinggi di Jepang ini dapat berlangsung dengan lebih aman dan menyenangkan.***
Editor : Syafira
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































