Modus Polisi Palsu Mengincar Wisatawan di Berbagai Negara

modus
ilustrasi polisi. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Beragam modus penipuan terhadap wisatawan terus bermunculan seiring meningkatnya aktivitas perjalanan. Jika sebelumnya turis lebih sering menjadi sasaran pencopetan atau penipuan berbasis teknologi seperti pemindaian kode QR palsu, kini muncul ancaman lain yang memanfaatkan penyamaran sebagai aparat penegak hukum.

Laporan dari Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) dan Departemen Luar Negeri AS mengungkap adanya peningkatan kasus penipuan dengan modus polisi atau petugas keamanan palsu. Pelaku memanfaatkan rasa takut dan kepatuhan wisatawan terhadap aparat untuk mendapatkan uang maupun barang berharga.

Modus ini tidak hanya dilakukan melalui panggilan telepon yang meminta korban melakukan transfer uang, tetapi juga secara langsung dengan mendatangi wisatawan dan berpura-pura menjalankan pemeriksaan resmi.

Advertisement

Polisi gadungan kerap berpura-pura melakukan pemeriksaan

Pendiri sekaligus penasihat utama Risky Business Security and Safety Advisors, Philip Farina, menjelaskan bahwa salah satu cara yang sering digunakan pelaku adalah berpura-pura melakukan pemeriksaan dokumen perjalanan, paspor, hingga pemeriksaan uang palsu.

“Cara yang paling umum dilakukan polisi palsu adalah berpura-pura melakukan pemeriksaan dokumen atau paspor serta pemeriksaan uang palsu,” ujar Farina, dikutip dari Travel + Leisure.

Baca Juga :  10 Tahun Mengoplos, Pabrik Beras di Serang Akhirnya Digerebek Polisi

Menurutnya, aksi tersebut dapat terjadi di berbagai lokasi, bahkan tidak jauh dari area yang dianggap aman seperti bandara atau kantor polisi resmi.

Saat korban lengah, pelaku dapat membawa kabur barang berharga. Dalam beberapa kasus, mereka juga menggunakan kendaraan tanpa tanda resmi untuk menghentikan wisatawan di jalan dan melakukan pencurian.

Kenali ciri-ciri petugas palsu

Agar tidak mudah menjadi korban, wisatawan perlu memperhatikan sejumlah tanda yang dapat menunjukkan seseorang bukan petugas resmi.

Farina menyebutkan, seragam polisi gadungan sering kali terlihat tidak rapi, lusuh, atau tidak sesuai dengan standar kepolisian di wilayah tersebut. Selain itu, pelaku biasanya menunjukkan perilaku mencurigakan seperti terlihat gugup, gelisah, dan sering memperhatikan keadaan sekitar.

Kendaraan yang digunakan juga patut dicurigai apabila tidak memiliki lambang, stiker, atau identitas resmi kepolisian.

Jika dihampiri seseorang yang mengaku sebagai aparat, wisatawan disarankan untuk meminta kartu identitas resmi. Mereka juga dapat meminta nama serta kontak atasan atau kantor kepolisian yang dapat dikonfirmasi.

Langkah pencegahan sebelum bepergian

Sebelum mengunjungi suatu negara atau daerah, wisatawan dianjurkan melakukan riset mengenai kondisi keamanan setempat. Salah satunya dengan mencari informasi mengenai bentuk seragam resmi polisi, kendaraan patroli, serta prosedur pemeriksaan yang berlaku.

Baca Juga :  7 Modus Penipuan WhatsApp yang Harus Kamu Waspadai

Wisatawan juga dapat memanfaatkan situs informasi perjalanan resmi untuk mengetahui peringatan keamanan terbaru dan mencatat nomor layanan darurat lokal.

Selain itu, pihak hotel atau pengelola penginapan dapat menjadi sumber informasi tambahan mengenai area yang rawan penipuan maupun kejahatan yang sering terjadi di sekitar lokasi wisata.

Gunakan dompet cadangan saat berada di area rawan

Untuk mengurangi risiko kehilangan barang penting, wisatawan dapat membawa dompet cadangan berisi barang yang tidak terlalu bernilai, seperti kartu lama yang sudah tidak digunakan dan uang tunai dalam jumlah kecil.

Dompet tersebut dapat menjadi pengalih jika wisatawan menghadapi situasi berbahaya.

Namun, Farina mengingatkan agar wisatawan tidak melakukan perlawanan apabila pelaku mengancam dengan senjata.

“Jika seseorang menodongkan senjata dan meminta uang Anda, jangan mencoba menjadi pahlawan. Serahkan dompet umpan, lalu segera berpindah ke area publik yang terang dan ramai,” jelasnya.

Dengan meningkatkan kewaspadaan dan memahami pola penipuan yang berkembang, wisatawan dapat tetap menikmati perjalanan tanpa mudah menjadi sasaran aksi kriminal berkedok aparat.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel