TIMETODAY.ID, BOGOR – Perubahan data desil kesejahteraan membuat resah warga Cimanggu Gang Pesantren, RT 01/07, Kelurahan Kedung Waringin, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Banyak dari mereka yang semula berada di desil 1 hingga 4 kini tercatat naik ke desil 5 hingga 10, sebuah perubahan yang dikhawatirkan membuat bantuan sosial (bansos) dari pemerintah terputus. Warga pun mendatangi rumah Ketua RW setempat untuk mempertanyakan dasar perubahan tersebut.
Salah seorang warga, Indriani, mengatakan hampir separuh warga di lingkungannya yang sebelumnya menerima bantuan kini mengalami perubahan desil.
“Di sini hampir 50 persen warga yang tadinya menerima bantuan dari pemerintah kini berubah desil. Yang sebelumnya desil 1, 2, dan 3, 4 sekarang menjadi desil 5 sampai 10,” ujar Indriani.
Ia mencontohkan sejumlah warga yang menurutnya masih dalam kondisi ekonomi sulit, di antaranya seorang janda lanjut usia tanpa penghasilan tetap serta warga yang belum memiliki rumah sendiri dan harus tinggal di rumah kontrakan dengan penghasilan rendah. Kondisi itu, kata Indriani, menimbulkan pertanyaan di kalangan warga mengenai dasar penilaian yang membuat status desil mereka berubah.
Indriani juga menyoroti proses pendataan yang dilakukan petugas sensus. Menurutnya, sejumlah pertanyaan yang diajukan kepada warga dinilai terlalu sensitif, termasuk soal merek produk kebutuhan rumah tangga yang digunakan.
“Pertanyaannya sangat sensitif. Sampai sabun mandi saja ditanyakan mereknya,” katanya.
Ia turut mempertanyakan adanya perbedaan hasil pendataan di lapangan. Menurut pengamatannya, ada warga usia produktif yang memiliki penghasilan, namun tetap tercatat di desil 3, sementara sejumlah warga lain justru naik ke desil 5 hingga 10 setelah proses pendataan.
“Kenapa setelah didata ada warga yang justru menjadi desil 5 hingga 10? Ini yang membuat warga bingung,” ujarnya.
Tidak Didatangi Petugas Sensus
Keluhan serupa disampaikan Yuningsih, warga RT 03 di kelurahan yang sama. Ia mengaku sebelumnya menerima bantuan pemerintah, namun saat mengecek status datanya melalui aplikasi, ia tercatat berada di desil 6 dari skala 10 — padahal dirinya mengaku tidak pernah didatangi petugas sensus.
“Saya dulu dapat bantuan dari pemerintah. Sekarang ketika dicek, kok malah menjadi desil 6 per 10. Yang saya pertanyakan, saya juga tidak didatangi petugas sensus,” kata Yuningsih.
Yuningsih menuturkan, kondisi ekonominya masih tergolong rentan. Ia dan suaminya masih tinggal di rumah kontrakan, sementara sang suami bekerja serabutan dan dirinya tidak memiliki pekerjaan tetap.
“Bantuan itu sangat berarti bagi saya yang membutuhkan, apalagi untuk kebutuhan anak sekolah,” ujarnya.
Tanggapan Kecamatan
Menanggapi keluhan warga, Camat Tanah Sareal Rokib mengatakan, perubahan hasil pendataan memang dapat berdampak pada perubahan desil masyarakat. Ia menjelaskan, sensus ekonomi yang dilakukan secara nasional oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan tersebut.
“Memang sedikit banyak sensus ekonomi ini akan berdampak kepada desil. Informasinya dari Dinas Sosial nanti akan ada verifikasi ulang, terutama bagi warga yang mengalami kenaikan desil dan terdampak akibat pendataan ekonomi saat ini,” kata Rokib.
Ia menambahkan, perubahan itu dapat terjadi karena adanya faktor ekonomi yang menjadi bagian dari proses pendataan nasional.





































