TIMETODAY.ID, JAKARTA — Selama bertahun-tahun, konsumen terbiasa melihat harga perangkat elektronik turun seiring bertambahnya usia produk. Laptop, tablet, hingga konsol gim generasi lama biasanya menjadi lebih terjangkau ketika model terbaru dirilis.
Namun, tren tersebut kini mulai berubah. Sejumlah perusahaan teknologi justru menaikkan harga produk yang sudah lama beredar di pasaran. Kondisi ini terjadi di tengah melonjaknya biaya produksi, terutama harga komponen memori yang terus merangkak naik akibat tingginya permintaan industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Laporan BBC yang dikutip pada Selasa (30/6/2026) menyebut lonjakan kebutuhan chip untuk pusat data AI menjadi salah satu faktor utama yang mengubah dinamika pasar perangkat elektronik global.
Sejumlah Perusahaan Naikkan Harga Produk
Beberapa perusahaan teknologi telah mengumumkan penyesuaian harga terhadap berbagai produknya dalam beberapa bulan terakhir.
Microsoft, misalnya, kembali menaikkan harga konsol Xbox Series S dan Xbox Series X. Kenaikan kali ini mencapai sedikitnya 100 dolar AS atau sekitar Rp1,7 juta dan menjadi penyesuaian harga ketiga dalam setahun. Secara keseluruhan, harga konsol tersebut kini sekitar 30 hingga 40 persen lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya.
Apple juga menaikkan harga sejumlah produk, termasuk lini MacBook dan iPad, dengan kenaikan yang dilaporkan mendekati 20 persen. Kebijakan tersebut bahkan sempat memicu tekanan terhadap pergerakan saham perusahaan.
Di sektor perangkat gim, Valve meningkatkan harga Steam Deck hingga sekitar 40 persen. Sementara itu, PC gaming Steam Machine juga dipasarkan dengan harga yang lebih tinggi dari perkiraan awal akibat meningkatnya biaya komponen.
Nintendo pun mengambil langkah serupa dengan menaikkan harga Switch 2 di berbagai negara. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada September mendatang.
Fenomena “Ramageddon” Dipicu Lonjakan Permintaan AI
Meningkatnya investasi perusahaan teknologi pada infrastruktur AI membuat kebutuhan terhadap chip memori melonjak tajam. Pusat data yang menjalankan layanan AI membutuhkan kapasitas memori dalam jumlah besar sehingga permintaan jauh melampaui pasokan yang tersedia.
Kondisi tersebut dikenal sebagai fenomena “Ramageddon”, yaitu melonjaknya harga Random Access Memory (RAM) yang selama ini dikenal sebagai salah satu komponen komputer dengan harga relatif stabil.
Kepala Analisis Keuangan AJ Bell, Danni Hewson, menjelaskan bahwa perlombaan membangun pusat data AI telah menciptakan lonjakan permintaan chip dalam waktu singkat.
Menurutnya, kondisi itu membuat produsen semikonduktor besar seperti TSMC memiliki posisi tawar yang lebih kuat karena kapasitas produksi mereka diperebutkan banyak pelanggan.
Harga RAM Melonjak Lebih dari Dua Kali Lipat
Data Counterpoint Research menunjukkan kenaikan harga komponen memori DDR5 berlangsung sangat cepat dalam beberapa kuartal terakhir.
Pada kuartal III 2025, harga modul RAM DDR5 berkapasitas 32GB masih berada di kisaran 94 dolar AS. Memasuki kuartal IV 2025, nilainya meningkat menjadi 127 dolar AS.
Kenaikan paling tajam terjadi pada kuartal I 2026 ketika harga melonjak hingga sekitar 282 dolar AS atau naik sekitar 122 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Selain RAM, harga chip DRAM dan NAND Flash yang digunakan sebagai media penyimpanan juga terus mengalami kenaikan.
Persaingan dengan Industri AI
Analis Senior Teknologi RSM UK, James Bull, memperkirakan empat perusahaan teknologi terbesar di Amerika Serikat akan menggelontorkan investasi hingga ratusan miliar dolar AS untuk pembangunan pusat data dan infrastruktur AI sepanjang 2026.
Besarnya permintaan dari perusahaan-perusahaan tersebut membuat produsen chip lebih memprioritaskan kebutuhan pusat data dibandingkan industri perangkat elektronik konsumen.
“Pada dasarnya, laptop MacBook di meja konsumen saat ini sedang bersaing memperebutkan kepingan DRAM yang sama dengan pusat data yang menggerakkan ChatGPT, dan konsumen sedang kalah,” tegas James Bull.
Geopolitik Ikut Menambah Tekanan
Selain tingginya permintaan dari industri AI, kenaikan harga komponen juga dipengaruhi berbagai faktor ekonomi global.
Inflasi yang masih tinggi, meningkatnya biaya logistik, hingga ketegangan geopolitik dinilai turut memperberat beban produksi industri semikonduktor.
Saat menaikkan harga PlayStation 5 beberapa waktu lalu, Sony juga menyinggung tekanan ekonomi global sebagai salah satu alasan penyesuaian harga.
Di sisi lain, konflik di Iran serta gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz disebut ikut meningkatkan biaya distribusi dan operasional produsen chip. Beban tersebut pada akhirnya diteruskan ke harga jual komponen, yang kemudian berdampak pada naiknya harga berbagai perangkat elektronik di pasar.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































