
TIMETODAY.ID, BOGOR – Solehudin masih mengingat betul permintaan putranya malam itu. Tidak ada yang luar biasa, hanya sebuah ikan channa, ikan predator air tawar yang tengah digemari anak-anak. Tapi justru permintaan sederhana itulah yang kini paling susah ia lupakan.
“Itu saja yang saya ingat. Dia minta dibelikan ikan channa, enggak biasanya dia minta, itu malemnya dia minta,” ujar Solehudin, ayah MAS, Senin (8/6/2026), saat ditemui di Polres Bogor.
Keesokan harinya, MAS (9) berpamitan seperti biasa, hendak main bersama teman-temannya. Tidak ada yang berbeda dari cara bocah kelas empat SDN Argapura 03 itu mengucap salam dan melangkah keluar rumah. Tidak ada yang tahu, termasuk ayahnya, bahwa ia sebenarnya hendak memancing di saluran irigasi persawahan sekitar setengah kilometer dari rumah mereka di Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg.
“Dia pamit ke saya mau main, tidak bilang mau mancing. Mumpung lagi libur sekolah kayaknya dia jadi mau main agak jauh sama temannya,” jelas Solehudin.
Dari irigasi itulah, MAS dan temannya diduga menyusuri area lebih jauh hingga masuk ke kawasan hutan di Kecamatan Jasinga, wilayah yang berbatasan dengan Cigudeg dan kerap digunakan para pemburu. Di sanalah, menurut keterangan warga, bocah itu diduga diserang anjing pemburu.
Kabar tentang putranya justru datang dari warga kampung sebelah, bukan dari MAS yang pulang sambil membawa ikan hasil tangkapan.
“Cuman saya dapat kabar dari warga kampung sebelah kalau anak saya sudah meninggal,” tutur Solehudin.
Solehudin tidak tahu persis bagaimana kejadian itu berlangsung. Ia hanya bisa membayangkan dari cerita yang beredar di antara warga. Yang ia tahu pasti hanyalah kondisi putranya saat terakhir kali ia melihatnya, luka di bagian kepala yang membuat dadanya sesak.
“Lukanya cukup serius, bagian kepala ngelupas semua, kulit kepala yang paling parah.”
Di lingkungan rumah dan sekolahnya, MAS dikenal sebagai anak yang pendiam dan penurut. Anak kedua Solehudin itu hampir tidak pernah membuat masalah. Ia baru saja menyelesaikan kelas empat dan tinggal selangkah lagi naik ke kelas lima.
“Dia anak baik, selalu mengalah,” kata sang ayah pelan.
Kini, dari ruang tunggu Polres Bogor, Solehudin hanya bisa berharap kasus kematian putranya diusut tuntas, bukan semata demi keadilan untuk MAS, tapi agar tidak ada ayah lain yang harus mengingat permintaan terakhir anaknya sebagai satu-satunya yang tersisa.
“Harapan saya kasus begini bisa selesai dan berjalan lancer,” pintanya.
Editor : B. Supriyadi
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































