Ube Salip Matcha? Tren Kuliner Global 2026 Beralih ke Umbi Ungu Filipina

ube
ilustrasi minuman ubi ungu. Foto: ai

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Setelah lama mendominasi tren minuman dan dessert global, popularitas matcha kini mulai mendapat penantang baru. Tahun 2026 disebut-sebut menjadi momentum kebangkitan ube, umbi berwarna ungu cerah asal Filipina yang kian mencuri perhatian pasar internasional.

Di tengah maraknya kreasi kuliner berbasis visual, ube tampil mencolok lewat warna alaminya yang khas, dipadukan dengan rasa manis lembut dan sedikit gurih.

Karakter rasa ini membuatnya fleksibel diolah menjadi berbagai hidangan, mulai dari minuman kekinian hingga dessert seperti es krim dan kue.

Advertisement

Meski tergolong bahan tradisional di Filipina, ube kini menjelma menjadi komoditas global. Laporan Metro UK menyebutkan lonjakan permintaan signifikan terjadi di pasar Barat, khususnya Amerika Serikat.

Baca Juga :  Flu di Musim Hujan? Coba 3 Minuman Alami Ini untuk Redakan Gejalanya

Dalam sembilan bulan pertama 2025 saja, lebih dari 300 metrik ton ube diekspor ke negara tersebut.

Tren ini turut direspons oleh pelaku industri besar. Sejumlah jaringan kafe ternama seperti Starbucks, Costa Coffee, dan Pret A Manger mulai menghadirkan menu berbasis ube, bahkan menjadikannya sebagai signature flavor untuk musim tertentu.

Gelombang popularitas ini juga merambah Asia Timur. Media South China Morning Post melaporkan bahwa kafe-kafe di Korea Selatan mulai ramai mengadopsi ube dalam berbagai sajian, dari latte hingga pastry modern.

Namun di balik tren yang kian melesat, muncul kekhawatiran terkait keberlanjutan pasokan. Produksi ube di Filipina masih didominasi oleh petani skala kecil yang rentan terhadap perubahan iklim.

Baca Juga :  Sejarah Berdirinya Warpat, Ikon Wisata Puncak yang Terancam Penertiban

Dalam dua tahun terakhir, hasil panen dilaporkan mengalami penurunan akibat cuaca yang tidak menentu.

Seorang pelaku industri pangan lokal menyebut lonjakan permintaan global menjadi tantangan tersendiri.

“Permintaan terus naik, tapi kapasitas produksi belum tentu bisa mengikuti. Ini jadi perhatian serius ke depan,” ujarnya.

Jika tren ini terus berlanjut, ube bukan hanya sekadar fenomena kuliner sesaat, tetapi berpotensi menjadi komoditas global baru—menggeser dominasi lama dan membuka babak baru dalam peta industri makanan dunia.***

Editor : Syafira

Sumber : CNBCIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel