TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ketegangan di Teluk ternyata mulai meninggalkan jejak pada industri pariwisata Italia. Wisatawan jarak jauh, terutama dari Asia, dilaporkan membatalkan perjalanan mereka, meski secara keseluruhan jumlah turis hanya turun tipis 1,6% dibanding tahun lalu.
Data dari Lybra Destination menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam perilaku perjalanan para wisatawan.
Menurut laporan Tourism Review, tren baru mulai muncul: wisatawan kini lebih memilih perjalanan jarak dekat, serta melakukan pemesanan pesawat, hotel, dan paket wisata mendekati waktu keberangkatan.
Maskapai berbiaya rendah mencatat pertumbuhan 2,6%, sementara penerbangan di bandara utama justru menurun 4,9%.
Pergeseran juga terlihat pada destinasi yang dipilih. Wilayah tengah dan selatan Italia mencatat kenaikan jumlah pengunjung: Roma tumbuh 15,6%, Palermo melonjak 20,9%, dan Napoli naik 3,1%.
Sebaliknya, kota-kota utara justru mengalami penurunan, dengan Venesia turun 15%, Milan merosot 12%, dan Florence menurun 4,7%.
Dari sisi asal wisatawan, pasar regional lebih stabil bahkan meningkat, seperti Kanada (+5%), wisatawan domestik Italia (+3%), Jerman (+2%), dan Inggris (+1%).
Namun, pasar jarak jauh mencatat penurunan signifikan, termasuk Prancis (-12%), Spanyol (-10%), Amerika Serikat (-9%), dan Australia (-19%).
Para analis menilai, konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan wisatawan. Rasa aman, biaya, dan jarak kini menjadi pertimbangan utama.
Meski begitu, pemesanan yang dilakukan mendekati keberangkatan menunjukkan bahwa wisatawan tetap ingin berlibur, hanya dengan strategi yang lebih fleksibel dan berhati-hati.
Perubahan pola ini menggambarkan bagaimana dinamika global dapat langsung berdampak pada pariwisata, memaksa destinasi dan maskapai untuk menyesuaikan layanan agar tetap menarik bagi para pengunjung.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































