TIMETODAY.ID, JAKARTA — Platform ramah anak YouTube Kids kini menghadapi sorotan serius. Ratusan pakar kesehatan anak dan kelompok advokasi menilai maraknya konten berbasis kecerdasan buatan berkualitas rendah—dikenal sebagai “AI slop”—berpotensi berdampak buruk bagi perkembangan anak.
Lebih dari 200 dokter spesialis anak, organisasi advokasi, hingga institusi pendidikan menandatangani surat terbuka yang ditujukan kepada CEO Google Sundar Pichai dan CEO YouTube Neal Mohan.
Dalam surat tersebut, mereka mendesak agar perusahaan segera mengambil langkah tegas untuk membatasi bahkan menghapus konten AI yang dinilai tidak memberikan nilai edukatif dan justru dirancang hanya untuk menarik perhatian anak-anak.
“Tidak ada bukti bahwa konten AI jenis ini aman bagi anak-anak. Justru, konten tersebut berpotensi memikat sekaligus membahayakan,” tulis pernyataan dalam surat tersebut.
Kekhawatiran tidak hanya berhenti pada kualitas konten. Para penandatangan juga menyoroti dampak jangka panjang terhadap perilaku anak, mulai dari menurunnya daya fokus hingga kaburnya batas antara realitas dan imajinasi.
“Konten seperti ini dapat memengaruhi cara anak memahami dunia di sekitarnya,” ungkap salah satu perwakilan kelompok advokasi.
Selain itu, mereka menilai paparan konten semacam ini berisiko memperparah persoalan screen time, yang bisa mengurangi waktu anak untuk berinteraksi sosial maupun bermain secara langsung.
Tuntutan Kebijakan Lebih Ketat
Dalam petisi publik yang diluncurkan, kelompok tersebut mengajukan sejumlah rekomendasi kepada YouTube, di antaranya:
- Memberikan label yang jelas pada seluruh konten berbasis AI
- Melarang konten AI di YouTube Kids
- Menghentikan distribusi video “Made for Kids” yang dibuat dengan AI
- Membatasi rekomendasi algoritma AI untuk pengguna di bawah 18 tahun
- Menyediakan fitur kontrol bagi orang tua untuk menyaring konten AI
- Menghentikan investasi dalam produksi konten AI untuk anak
“Platform harus lebih transparan dan bertanggung jawab terhadap konten yang dikonsumsi anak-anak,” tulis mereka.
Respons YouTube
Pihak YouTube menyatakan tidak tinggal diam menghadapi kritik tersebut. Dalam keterangannya, mereka menyebut telah membatasi konten AI di YouTube Kids hanya pada kanal tertentu yang telah diverifikasi.
Selain itu, kreator juga diwajibkan mencantumkan label jika video yang diunggah dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan.
“Kami memiliki sistem untuk menekan konten spam dan produksi massal, termasuk konten berbasis AI,” ujar juru bicara YouTube.
Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup oleh para pengkritik. Terlebih, Google diketahui juga berinvestasi pada studio animasi berbasis AI yang memproduksi konten anak-anak dengan jumlah penonton mencapai miliaran.
Di tengah perkembangan teknologi yang kian pesat, perdebatan mengenai batas aman penggunaan AI dalam konten anak pun terus mengemuka—menempatkan tanggung jawab besar pada platform digital untuk menjaga ruang aman bagi generasi muda.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































