TIMETODAY.ID, JAKARTA – Xiaomi menutup babak panjang MIUI, antarmuka Android yang telah menemani ratusan juta pengguna selama lebih dari satu dekade. Per 24 Maret 2026, dua ponsel entry-level, Redmi A2 dan Redmi A2+, resmi masuk daftar End of Life (EOL), menandai berakhirnya dukungan MIUI secara global.
Dengan keputusan ini, Xiaomi menegaskan bahwa era MIUI telah berakhir, dan seluruh perangkat lama maupun baru yang masih aktif akan beralih ke sistem operasi baru perusahaan, HyperOS.
Redmi A2, Simbol Penutup Perjalanan MIUI
Redmi A2 dan A2+ menjadi perangkat terakhir yang masih menggunakan MIUI murni. Kedua ponsel yang meluncur pada 2022 ini menerima pembaruan terakhir berbasis MIUI 14 hingga Desember 2025, termasuk patch keamanan terakhir. Setelah itu, tidak ada lagi update fitur maupun sistem yang diberikan.
Pengguna yang tetap menggunakan perangkat ini kini harus bersiap menghadapi risiko keamanan yang meningkat karena tidak ada lagi pembaruan resmi. Sebelumnya, beberapa model seperti seri Xiaomi 12, Redmi Note 12, dan Poco telah lebih dulu mencapai masa akhir dukungan pada 2026.
Dari ROM Kustom Hingga Ratusan Juta Pengguna
MIUI pertama kali diperkenalkan pada 2010 sebagai ROM kustom berbasis Android 2.2 Froyo, ditujukan bagi komunitas penggemar Android yang suka memodifikasi ponsel. Dengan cepat, MIUI berkembang menjadi antarmuka yang kaya fitur, mulai dari tema kustom, Second Space, Dual Apps, hingga App Lock.
Pendekatan ini membuat MIUI terasa lebih personal dan fleksibel. Pembaruan mingguan yang rutin juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengguna. Menjelang akhir 2021, MIUI digunakan lebih dari 500 juta pengguna aktif bulanan di seluruh dunia, menjadi salah satu faktor kesuksesan Xiaomi di pasar global, termasuk Indonesia.
HyperOS, Masa Depan Ekosistem Xiaomi
Keputusan menghentikan MIUI bukan sekadar rebranding. Xiaomi tengah membangun ekosistem besar yang mencakup smartphone, tablet, wearable, smart home, hingga kendaraan listrik. MIUI dianggap tidak lagi cukup fleksibel untuk mendukung ekosistem ini, sehingga lahirlah HyperOS.
HyperOS dibangun di atas kernel Android yang dioptimalkan, dilengkapi sistem IoT Vela buatan Xiaomi, dan dirancang untuk menciptakan konektivitas seamless antar perangkat. Melalui konsep “Manusia x Mobil x Rumah”, satu akun pengguna akan menjadi pusat kendali berbagai perangkat.
Meski MIUI berakhir, banyak elemen pentingnya tetap hadir di HyperOS, termasuk filosofi desain fokus pengguna, multitasking, tema, dan pengaturan privasi, kini terintegrasi lebih dalam dengan ekosistem perangkat Xiaomi. HyperOS bukan pengganti total, tetapi evolusi MIUI untuk kebutuhan masa depan.
Dampak Bagi Pengguna di Indonesia
Di Indonesia, MIUI populer di berbagai perangkat Redmi dan Poco, terutama di segmen harga terjangkau. Banyak pengguna masih mengandalkan Redmi A2 sebagai ponsel harian atau perangkat sekunder. Dengan status EOL, disarankan untuk mulai mempertimbangkan upgrade ke perangkat HyperOS.
Tanpa pembaruan, perangkat tidak hanya kehilangan fitur baru, tapi juga berisiko lebih tinggi terhadap ancaman siber. Xiaomi kini memperluas distribusi HyperOS ke berbagai lini produk terbaru, termasuk kelas menengah yang banyak diminati pasar Indonesia.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































